KAMPUS UTAMA STIQ AN-NUR LEMPUING OKI

Kampus utama STIQ AN-NUR lEMPUING OKI di Jalan Lintas Timur Desa Tebing Suluh Kecamatan Lempuing Kabuupaten OKI Sumatera Selatan

DIRJEN PENDIS DAN KETUA STIQ AN-NUR LEMPUING OKI

Pertemuan Ketua STIQ AN-NUR LEMPUING OKI dan dirjen Pendis Di Jakarta.

DIRJEN PENDIS DAN KETUA STIQ AN-NUR lEMPUING OKI

Serah Terima SK Operasional STIQ AN-NUR LEMPUING OKI dari Dirjen Diktis Ke Ketua STIQ AN-NUR lEMPUING OKI di Jakarta.

PIMPINAN STIQ AN-NUR LEMPUING OKI

Sebelah Kiri Ketua, Pembantu Ketua I, Pembantu Ketua II dan Pembantu Ketua III.

PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Penerimaan Mahasiswa Baru STIQ AN-Nur Lempuing OKI Tahun Akademik 2016/2017.

Model Pembelajaran STAD dan Hasil Belajar Siswa Proposal Skripsi

Kawan-kawan berikut saya share Proposal skripsi silahkan copy paste untuk panduan.

A. Judul : Pengaruh Model Pembelajaran Student Team Achievment Divisiona (STAD) Terhadap HAsil Belajar Siswa PAda Mata Pelajaran Fiqih Kelas VIII Di Madrasah Tsanawiyah Darussalam Tugumulyo

B. Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah
       Seiring dengan kemajuan jaman dan berkembangnya IPTEK, yang mempengaruhi segala aspek kehidupan yang salah satunya adalah di bidang pendidikan. Yang mana di dalam dunia pendidikan banyak sekali perubahan-perubahan di dalamnya baik dari metode pembelajaran, kurikulum, bahkan sampai pada tenaga pendidik dan peserta didik itu sendiri.

       Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003 Pendidikan memiliki fungsi dan tujuan membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan serta mampu mengembangkan kualitas, kecerdasan tinggi, dan budi pekerti luhur. Untuk mencapai tujuan dan fungsi tersebut perlu adanya kualitas dan hasil pendidikan melalui perbaikan dan penyempurnaan proses belajar mengajar di sekolah.

       Guru memiliki peran yang sangat penting dan strategis karena guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran selain itu, gurulah yang akan menjabarkan rencana pembelajaran ke dalam pelaksanaan pembelajaran (kegiatan belajar mengajar) dan mengadakan perubahan positif pada diri siswa, Keberhasilan siswa dalam suatu proses pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya faktor guru yaitu guru mempunyai peran dalam menyediakan dan menciptakan model pembelajaran.

Betapa pun kesiapan peserta didik dan lengkapnya sarana pembelajaran, jika model pembelajaran yang diterapkan tidak tepat, diduga hasil belajar peserta didik juga akan kurang memuaskan.
Penggunaan model pembelajaran yang tepat dan bervariasi dapat dijadikan alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.       

Tercapainya suatu proses pembelajaran sangat didukung oleh keterlibatan siswa dalam pembelajaran seperti pada mata pelajaran FIQIH, di kelas perlu adanya suatu model pembelajaran yang efektif dan efisien serta pembelajaran yang banyak melibatkan siswa dalam proses pembelajaran karena jika kita amati pada saat ini masih banyak guru yang menggunakan model pembelajaran yang statis tanpa ada strategi lain untuk meningkatkan pemahaman siswa.

Untuk itu perlu adanya suatu model pembelajaran yang sesuai dengan situasi kelas agar dapat meningkatkan pemahaman belajar siswa seperti yang diharapkan oleh semua pendidik atau guru. Agar hasil belajar siswa meningkat perlu di adakan model pembelajaran yang baru.

       Agar siswa mudah memahami tentang materi yang diajarkan dengan sebelumnya salah satunya adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang bervariatif seperti model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD).

Yang di dalam metode tersebut banyak melibatkan siswa secata langsung, dan dalam kegiatan pembelajaran jika ingin berhasil siswa harus di beri kesempatan untuk menggunakan semua kemampuan jasmaninya perlahan-lahan, tahap demi tahap sampai mampu bertindak sendiri Sehingga penulis tertarik untuk memilih judul “Pengaruh Model Pembelajaran Student Teams Achievemen Division (STAD) Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fiqih Kelas VIIIb di Madrasah Tsanawiyyah Darussalam Tugu Mulyo Kecamatan Lempuing Kabupaten Ogan Komering Ilir”

2. Identifikasi Masalah
      Berdasarkan uraian di atas, identifikasi masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fiqih Kelas VIII di Madrasah Tsanawiah Darussalam Tugu Mulyo.

b. Penggunaan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada mata pelajaran Fiqih Kelas VIII di Madrasah Tsanawiah Darussalam Tugu Mulyo.

c. Pengaruh penggunaan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) di Madrasah Tsanawiah Darussalam Tugu Mulyo.

3. Pembatasan dan Perumusan Masalah
      Agar penelitian yang dilakukan tidak melebar maka penulis membatasi penelitian ini pada : pengaruh model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada mata pelajaran Fiqih Kelas VIII di Madrasah Tsanawiah Darussalam Tugu Mulyo.

      Berdasarkan uraian di atas, perumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Bagaimanakah hasilbelajar siswa sebelum menggunakan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada mata pelajaran Fiqih Kelas VIII di Madrasah Tsanawiah Darussalam Tugu Mulyo?

b. Bagaimanakah hasil belajar siswa sesudah menggunakan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada mata pelajaran Fiqih Kelas VIII di Madrasah Tsanawiah Darussalam Tugu Mulyo?

c. Apakah pengaruh penggunakan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada mata pelajaran Fiqih Kelas VIII di Madrasah Tsanawiah Darussalam Tugu Mulyo?

4. Tujuan dan Signifikansi Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk :
a. Mengetahui hasil belajar siswa sebelum menggunakan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada mata pelajaran Fiqih Kelas VIII di Madrasah Tsanawiah Darussalam Tugu Mulyo.

b. Mengetahui hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada mata pelajaran IPS Terpadu Kelas VII di SMPN 2 Semendawai Timur.

c. Mengetahui apakah pengaruh penggunakan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada mata pelajaran Fiqih Kelas VIII di Madrasah Tsanawiah Darussalam Tugu Mulyo?

      Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan beberapa manfaat yaitu:
1. Bagi Peserta Didik
a. Peserta didik yang mengalami kesulitan dalam pemahaman materi akan terkurangi bebannya dengan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD).
b. Peserta didik merasa senang karena dilibatkan dalam proses pembelajaran.
c . Meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Fiqih Kelas VIII di Madrasah Tsanawiah Darussalam Tugu Mulyo.

2. Bagi Guru
a.Model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) dapat digunakan sebagai alternatif dalam pelaksanaan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan meningkatkan profesionalisme guru.
b. Mendokumentasikan kemajuan peserta didik selama kurun waktu tertentu. c.Guru dapat semakin termotivasi untuk mengadakan penelitian sederhana yang bermanfaat bagi perbaikan dalam proses pembelajaran dan meningkatkan kemampuan guru mata pelajaran.

3. Bagi Sekolah
      Sebagai masukan atau informasi tentang penggunaan metode alternatif yang sesuai dengan bidang mata pelajaran.

4. Bagi Peneliti
      Manfaat yang diperoleh peneliti yaitu mendapatkan pengalaman langsung dalam pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya mata pelajaran Fiqih Kelas VIII di Madrasah Tsanawiah Darussalam Tugu Mulyo.

C. Kajian Teori dan Kerangka Berfikir
1. Hasil Belajar
      Pada umumnya seorang guru setelah melaksanakan proses belajar mengajar biasanya diadakan suatu evaluasi guna melihat hasil yang telah dicapai oleh siswanya karena medapatkan suatu proses belajar. hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi belajar dan tindakan mengajar . hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa yang mengikuti proses belajar mengajar .

      Setiap siswa mempunyai potensi untuk dididik. Potensi yang dimiliki sangat berbeda-beda antara siswa yang satu dengan yang lainnya sehingga hasil belajar merupakan tolak ukur pencapaian tujuan pendidikan. Namun hasil belajar juga harus dievaluasi untuk melihat apakah proses belajar mengajar itu telah berlangsung efektif untuk memperoleh hasil belajar. hasil belajar merupakan perubahan prilaku dalam domain kognitif, afektif dan psikomotorik.

      Sebagai salah satu contoh penilaian hasil belajar siswa dapat diketahui dengan menerakan skor atas jawaban yang telah diberikan kepada siswa untuk mengukur kemampuan kognitifnya atau dengan mengamati tingkah laku siswa selama proses belajar untuk mengukur kemampuan afektifnya sedangkan untuk mengukur kemampuan psikomotorik dapat dinilai setelah siswa melakukan demontrasi atau praktik , apabila siswa telah mencapai suatu standar ketuntasan berupa nilai maka siswa dapat dikatakan berhasil . “...keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata atau simbol-simbol Jadi penilaian dari hasil belajar selain menggunakan angka dapat juga menggunakan huruf atau kata atau simbol

2. Model Pembelajaran
      Model merupakan contoh, pola acuan ragam, macam dan sebagainya; barang tiruan yang kecil dan tepat seperti yang ditiru . Model dapat dijadikan sebagai acuan yang digunakan untuk dilaksanakan dalam hal ini adalah pembelajaran.

      Menurut Joyce & Weil, model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merencanakan bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain .

Model pembelajaran adalah suatu pola pilihan, yang mana seorang guru dapat memilih model pembelajaran yang efektif dan efesien sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam kompetensi. Dalam pemilihan model pembelajaran tentunya harus sesuai dengan materi yang disampaikan oleh seorang guru agar tercapai suatu kompetensi yang diinginkan.

Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru kelas Ini terlihat jelas bahwa dalam satu model pembelajaran terdapat pembelajaran yang lengkap dengan strategi, metode, dan pendekatan secara terperinci dari mulai kegiatan pembelajaran sampai dengan evaluasi hasil pembelajaran. Model Pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu. Sebagai contoh model penelitian kelompok disusun oleh Herbet Thelen dan berdasarkan teori John Dewey. Model ini dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis.

b. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu, misalnya model berfikir induktif dirancang untuk mengembangkan proses berfikir induktif.

c. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas, misalnya model Syinetic dirangkai untuk memperbaiki kreatifitas dalam pelajaran mengarang.

d. Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan: (1) urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax), (2) adanyan prinsip-prinsip reaksi, (3) sistem sosial dan (4) sistempedukung. Keempat bagian tersebut merupakan pedoman praktis bila guru akan melaksanakan suatu model pembelajaran.

e. Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran. Dampak tersebut meliputi: (1) dampak pembelajaran, yaitu hasil belajar yang dapat diukur, (2) dampak pengiring yaitu hasil belajar jangka panjang.

f. Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya

3.Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions(STAD)
      Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya. Dalam STAD siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan, jenis kelamin dan sukunya. Guru memberikan suatu pelajaran dan siswa – siswa di dalam kelompok memastikan bahwa semua anggota kelompok itu bisa menguasai pelajaran tersebut.

Akhirnya semua siswa menjalani kuis perseorangan tentang materi tersebut dan pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu satu sama lain. Nilai-nilai hasil kuis siswa diperbandingkan dengan nilai rata-rata mereka sendiri yang diperoleh sebelumnya, dan nilai-nilai itu diberi hadiah berdasarkan pada seberapa tinggi peningkatan yang mereka capai sebelumnya.

      Langkah-langkah model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) adalah sebagai berikut:
Penyampaian Tujuan dan Motivasi Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa.

a. Pembagian Kelompok
Siswa dibagi dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4 – 5 siswa yang memprioritaskan heterogenitas (keragaman).

b. Persentasi dari Guru
Guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai. Dalam proses pembelajaran dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu guru menjelaskan tentang tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya.

c. Kegiatan Belajar dalam Tim (Kerja Tim)
Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan lembar kerja bagi kelompok sehingga semua anggota mengusai dan masing-masing memberi kontribusi. Selama tim bekerja, guru memberikan motivasi, melakukan pengamatan serta memberikan bimbingan.

d. Kuis (Evaluasi)
Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis dan juga penilaian terhadap persentasi kelompok. Siswa diberi kursi secara individual untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan skor batas penguasaan untuk setiap soal sesuai dengan tingkat kesulitan.

e. Penghargaan Prestasi Tim
Pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Menghitung Skor Individu
2. Perhitungan Perkembangan Skor Kelompok

Skor kelompok dihitung dari rata-rata perkembangan setiap anggota kelompok yaitu dengan menjumlahkan semua skor perkembangan individu anggota kelompok dan membagi sejumlah anggota tersebut.

Dari rata-rata skor perkembangan kelompok diperoleh skor kelompok. 1). Pemberian hadiah dan pengakuan skor Setelah masing-masing kelompok memperoleh predikat, guru memberikan hadiah atau penghargaan kepada masing-masing kelompok sesuai dengan prestasinya.

Proposal PTK Matematika Tahun 2016

Pembaca, berikut saya berikan contoh proposal PTK matetmatika untuk tingkat SMP silahkan copy dan paste, semoga dapat membantu dan harapan saya ini hanyalah sekedar contoh bagaimana menyusun PTK selamat berkarya.......

Judul Penelitian :
Penerapan Apersepsi yang Efektif untuk meningat materi sebelumnya dalam meningkatkan penguasaan konsep matematka siswa kelas VII...


BAB I
PENDAHULUAN

A. latar Belakang
        Situasi pembelajaran yang diterapkan di Madrasah .... adalah system pembelajaran berbasis kontekstual (CTL). Unsur-unsur pembelajaran Kontekstual seperti pembelajaran konstruktivisme, penemuan (Inkuiry), Pemodelan, Refleksi dan pemanfaatan media sudah dilaksanakan dengan maksimal. Persepsi siswa tentang matematika bahwa matematika adalah pelajaran yang sukar membuat pembelajaran menjadi tidak optimal.

       Realita yang terjadi di pada pembelajaran matematika khususnya kelas VII tidak seperti yang diharapkan. Di awal pembelajaran matematika ketika siswa ditanya mengenai materi pelajaran yang telah lalu, sebagian besar siswa lupa dan tidak mau menjawab. Sebagian besar siswa tidak dapat merespon pertanyaan–pertanyaan yang diberian guru guru terkait dengan materi pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya.

       Proses tanya jawab tersebut lazim terjadi di awal pembelajaran pada bagian apersepsi. Apersepsi merupakan aktivitas pembelajaran yang dilakukan guru kepada siswa untuk menghubungan materi pelajaran yang telah diajarkan sebelumnya dengan materi pelajaran pelajaran baru, sebagai batu loncatan sejauh mana anak didik mengusai pelajaran materi pelajaran yang telah diajarkan sebelumnya lama sehingga dapat membantu siswa dalam menyerap marteri pelajaran baru.

Salah satu muatan yang disampaikan dalam apersepsi adalah mengingatkan kembali peserta didik terhadap materi ajar yang telah dipelajari sebelumnya. Hal ini penting dilakukan karena ada keterkaitan antara materi ajar sebelumnya dengan yang akan dipelajari sehingga akan terjadi keruntutan materi ajar dalam diri peserta didik.

       Dalam kegiatan pembelajaran matematika apersepsi menjadi bagian yang sangat penting untuk mendapat perhatian karena matamatika termasuk pelajaran yang bersifat deduktif aksiomatis dan keterkaitan antar sub-sub pokok bahasan dalam satu pokok bahasan sangat tinggi. Ketika proses apersepsi dan motivasi ini tidak dilaksanakan siswa akan mengalami kesulitan mempelajari materi berikutnya yang selalu berkaitan.

       Apersepsi dimaksudkan agar siswa dapat mengetahui apa yang diperlukan untuk memahami pengetahuan yang akan diterima dalam pembelajaran. Apersepsi pembelajaran matematika biasanya berisi tentang materi prasyarat yang dibutuhkan. Pada bagian inilah guru di ....... Cahya Maju Lempuing OKI merasa ada hal yang mengganggu pembelajaran, yaitu ketiak peserta didik tidak dapat dengan cepat menjawab pertanyaan-pertanyaan pada apersepsi.

       Kekhawatiran para guru disebabkan materi pada apersepsi lazim digunakan sebagai syarat minimal dalam memahami materi. Jika materi prasyarat tidak dikuasai oleh peserta didik, dikhawatirkan waktu pembelajaran terkurangi oleh sebab Guru harus menerangkan materi prasarat yang dibutuhkan.

Beberapa kemungkinan penyebab terjadinya kegagalan dalam aperserpsi ini adalah:
kemampuan peserta didik terbatas, sehingga siswa mudah lupa terhadap konsep yang telah dipelajari sebelumnya; kemauan belajar peserta didik kurang sehingga di rumah siswa tidak mengulang materi yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya; dan siswa tidak mengerjakan PR yang diberikan guru.

       Permasalahan di atas harus segera diatasi karena kegagalan guru dalam proses apersepsi akan berakibat pada kegagalan proses pembelajaran secara keseluruhan, guru terpaksa mengulang-ulang materi yang telah lalu sehingga proses pembelajaran hanya berjalan ditempat. Kurikulum sekolah menuntut guru untuk dapat menyelesaikan materi sesuai dengan waktunya, sehingga jika guru selalu mengulang-ulang materi yang telah diajarkan, waktu yang diperlukan guru menjadi lebih lama.

B. Perumusan dan Pemecahan Masalah
1. Perumusan masalah
       Bagaimana implementasi apersepsi yang efektif agar siswa dapat mengingat kembali materi sebelumnya dalam rangka meningkatkan penguasan konsep matematika siswa kelas VII ....... ?

2. Pemecahan Masalah
Agar siswa dapat mengingat kembali materi sebelumnya dalam rangka meningkatkan penguasaan konsep matematika siswa kelas VII di ......., maka dilakukan beberapa tindakan sebagai berikut:

1. dengan memberi quis di awal pembelajaran terintegrasi dengan apersepsi;
2. dengan memberi quis di awal pembelajaran terintegrasi dengan apersepsi dilanjutkan dengan tanya jawab terkait materi prasyarat yang diperlukan; dan
3. dengan memberi quis di awal pembelajaran terintegrasi dengan apersepsi dilanjutkan dengan tanya jawab terkait materi prasyarat yang diperlukan dilengkapi dengan pemberian quis di akhir pembelajaran.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
       Tujuan penelitian ini adalah: mendeskripsikan implementasi apersepsi yang efektif agar siswa dapat mengingat kembali materi sebelumnya dalam rangka meningkatkan penguasan konsep matematika siswa kelas VII ........

       Manfaat yang diharapkan dari penelitian yang dilakukan ini adalah : siswa dapat meningkatkan penguasaan konsep matematika siswa dapat mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan penguasaan materi yang telah lalu guru mendapatkan suatu strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan penguasaan konsep matematika pada peserta didik.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Belajar dan Prestasi Belajar
       
        Belajar dan pembelajaran merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Dengan belajar manusia dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. Tanpa belajar manusia tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Winkel (dalam Darsono, 2000:4) menyatakan belajar adalah aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap.

Sartain (dalam Darsono, 2000:4) menyatakan bahwa belajar didefinisikan sebagai suatu perubahan perilaku sebagai hasil pengalaman. Perubahan tersebut antara lain ialah cara merespon suatu sinyal, cara menguasai suatu keterampilan dan mengembangkan sikap terhadap suatu objek. Winkel (dalam Darsono, 2000:4) menyatakan bahwa belajar adalah aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap.

        Belajar akan mengubah perilaku mental siswa yang belajar (Dimyati dan Mudjiono, 2002:5). Agar belajar dapat berkualitas dengan baik, perubahan itu harus dilahirkan oleh pengalaman dan oleh interaksi antara orang dengan lingkungannya.

B. Penguasaan Konsep Matematika
        Matematika adalah bidang studi yang terdiri dari objek-objek matematika. Objek matematika tersebut terbagi menjadi dua yaitu objek langsung dan objek tak langsung. Objek langsung berupa fakta, konsep, prinsip, dan skill (Gagne, 1983).

Untuk menguasai konsep matematika secara utuh, maka siswa harus dapat memahami objek-objek matematika secara keseluruhan. Untuk mempelajari matematika, prinsip mathematics connections merupakan salah satu cara untuk memahami matematika secara utuh (NCTM, 1989). Prinsip mathematics connection adalah suatu proses dalam pola berpikir siswa yang membutuhkan pengetahuan yang sudah ada untuk memahami pengetahuan baru.

        Dalam penelitian ini prinsip penguasaan konsep matematika adalah menguasai konsep matematika dengan memahami pengetahuan yang sudah ada dan menggunakan pengetahun tersebut untuk mempercepat pemahaman konsep. Penguasaan konsep yang sudah ada diperkuat dalam kegiatan awal pembelajaran untuk memperkuat penguasaan konsep siswa pada pembelajaran. Apersepsi dan Persepsi Matematika Siswa

        Apersepsi merupakan aktivitas pembelajaran yang dilakukan guru kepada siswa untuk menghubungan materi pelajaran yang telah diajarkan sebelumnya dengan materi pelajaran pelajaran baru, sebagai batu loncatan sejauh mana anak didik mengusai pelajaran materi pelajaran yang telah diajarkan sebelumnya lama sehingga dapat membantu siswa dalam menyerap materi pelajaran baru.

Salah satu muatan yang disampaikan dalam apersepsi adalah mengingatkan kembali peserta didik terhadap materi ajar yang telah dipelajari sebelumnya. Hal ini penting dilakukan karena ada keterkaitan antara materi ajar sebelumnya dengan yang akan dipelajari sehingga akan terjadi keruntutan materi ajar dalam diri peserta didik (Lucas, 2007:2).

        Dalam kegiatan pembelajaran matematika apersepsi menjadi bagian yang sangat penting untuk mendapat perhatian karena matamatika termasuk pelajaran yang bersifat induktif dan keterkaitan antar sub-sub pokok bahasan dalam satu pokok bahasan sangat tinggi. Ketika proses apersepsi dan motivasi ini tidak dilaksanakan siswa akan mengalami kesulitan mempelajari materi berikutnya yang selalu berkaitan.

C. Penilaian Pembelajaran
        Evaluasi Hasil Belajar antara lain mengunakan tes untuk melakukan pengukuran hasil belajar. Tes dapat didefinisikan sebagai seperangkat pertanyaan dan/atau tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait, atribut pendidikan, psikologik atau hasil belajar yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar.

Pengukuran diartikan sebagai pemberian angka pada status atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas (Jutmini, 2007:2).

        Penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan instrumen test maupun non-test. Penilian dimaksudkan untuk memberi nilai tentang kualitas hasil belajar Secara klasik tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk membedakan kegagalan dan keberhasilan seorang peserta didik.

Namun dalam perkembangannya evaluasi dimaksudkan untuk memberikan umpan balik kepada peserta didik maupun kepada pembelajar sebagai pertimbangan untuk melakukan perbaikan serta jaminan terhadap pengguna lulusan sebagai tanggung jawab institusi yang telah meluluskan. Tes, pengukuran dan penilaian berguna untuk : seleksi, penempatan, diagnosis dan remedial, umpan balik, memotivasi dan membimbing belajar, perbaikan kurikulum dan program pendidikan serta pengembangan ilmu.

Penilaian merupakan rangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan (Jutmini, 2007:12).

        Penilaian dalam KTSP adalah penilaian berbasis kompetensi, yaitu bagian dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Penilaian dilakukan selama proses pembelajaran dan/atau pada akhir pembelajaran.

Fokus penilaian pendidikan adalah keberhasilan belajar peserta didik dalam mencapai standar kompetensi yang ditentukan. Pada tingkat mata pelajaran, kompetensi yang harus dicapai berupa Standar Kompetensi (SK) mata pelajaran yang selanjutnya dijabarkan dalam Kompetensi Dasar (KD). Untuk tingkat satuan pendidikan, kompetensi yang harus dicapai peserta didik adalah Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

        Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan satuan pendidikan dalam mengelola proses pembelajaran. Penilaian merupakan bagian yang penting dalam pembelajaran. Dengan melakukan penilaian, pendidik sebagai pengelola kegiatan pembelajaran dapat mengetahui kemampuan yang dimiliki peserta didik, ketepatan metode mengajar yang digunakan, dan keberhasilan peserta didik dalam meraih kompetensi yang telah ditetapkan.

Berdasarkan hasil penilaian, pendidik dapat mengambil keputusan secara tepat untuk menentukan langkah yang harus dilakukan selanjutnya. Hasil penilaian juga dapat memberikan motivasi kepada peserta didik untuk berprestasi lebih baik. Penilaian dalam KTSP menggunakan acuan kriteria. Maksudnya, hasil yang dicapai peserta didik dibandingkan dengan kriteria atau standar yang ditetapkan.

Apabila peserta didik telah mencapai standar kompetensi yang ditetapkan, ia dinyatakan lulus pada mata pelajaran tertentu. Apabila peserta didik belum mencapai standar, ia harus mengikuti program remedial/perbaikan sehingga mencapai kompetensi minimal yang ditetapkan (Jutmini, 2007:5).

        Penilaian yang dilakukan harus memiliki asas keadilan yang tinggi. Maksudnya, peserta didik diperlakukan sama sehingga tidak merugikan salah satu atau sekelompok peserta didik yang dinilai. Selain itu, penilaian tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, bahasa, jender, dan agama. Penilaian juga merupakan bagian dari proses pendidikan yang dapat memacu dan memotivasi peserta didik untuk lebih berprestasi meraih tingkat yang setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuannya.

        Pada penelitian ini tes yang dimaksud adalah tes diagnosis berbentuk isian singkat dengan item pertanyaan tidak lebih dari 5 butir. Waktu pelaksanaan quis ini maksimal 8 menit dan terintegrasi dalam kegiatan apersepsi. Substansi quis adalah materi pembelajaran yang baru saja diajarkan pada pembelajaran sebelumnya dan materi prasyarat untuk memahami materi pada pembelajaran yang akan berlangsung.

D. Motivasi Belajar
       Gagne (1983:12) menyatakan bahwa belajar sebagai hasil dari pembentukan hubungan antara rangsangan dari luar (stimulus) serta tanggapan dari dalam diri si anak (response) yang bisa diamati. Stimulus tersebut dapat berasal dari mana saja. Stimulus yang dari dalam disebut motivasi. Motivasi belajar adalah proses internal yang mengaktifkan, memandu dan mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu.

Individu termotivasi karena berbagai alasan yang berbeda, dengan intensitas yang berbeda. Sebagai misal, seorang siswa dapat tinggi motivasinya untuk menghadapi tes ilmu sosial dengantujuan mendapatkan nilai tinggi (motivasi ekstrinsik) dan tinggi motivasinya menghadapi tes matematika karena tertarik dengan mata pelajaran tersebut (motivasi intrinsik).

        Motivasi belajar adalah proses internal yang mengaktifkan, memandu dan mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu. Individu termotivasi karena berbagai alasan yang berbeda, dengan intensitas yang berbeda. Sebagai misal, seorang siswa dapat tinggi motivasinya untuk menghadapi tes ilmu sosial dengantujuan mendapatkan nilai tinggi (motivasi ekstrinsik) dan tinggi motivasinya menghadapi tes matematika karena tertarik dengan mata pelajaran tersebut (motivasi intrinsik).

        Penelitian ini memfokuskan diri pada tindakan memberikan quis sebagai bagian dari apersepsi. Sesuai dengan penjelasan pada kondisi setting pada pendahuluan, dapat ditarik testimoni bahwa pembelajaran pada MTs ... sudah sesuai dengan kondisi siswa.

Dalam kenyataannya, agar siswa menjadi lebih termotivasi untuk belajar materi yang baru diajarkan, pemberian quis di awal kegiatan pembelajaran menjadi hal yang sesuai. Secara teoritis, pemberian quis sebagai bagian dari apersepsi merupakan motivasi ekstrinsik siswa untuk belajar materi sebelumnya, sehingga materi prasyarat yang dimiliki siswa menjadi lengkap dan utuh.
Rencana dan Prosedur Penelitian

Rencana Penelitian
Setting Penelitian
        Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII ....... Kabupaten ....... dengan jumlah siswa 38 orang terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan.

Tempat Penelitian
        Dalam penilitian ini penulis mengambil lokasi di M Ts Nurush Shomad Kabupaten ....... , penulis mengambil lokasi atau tempat ini dengan pertimbangan bekerja pada sekolah tersebut, sehingga memudahkan dalam mencari data , peluang waktu yang luas dan subyek penelitian yang sangat sesuai dengan profesi penulis.

Waktu Penelitian
       Dengan beberapa pertimbangan dan alasan penulis menentukan menggunakan waktu penelitian selama 10 bulan .... Waktu dari perencanaan sampai penulisan laporan hasil penelitian tersebut pada Tahun pelajaran

Lama Tindakan
        Waktu untuk melaksanakan tindakan pada bulan Agustus, mulai dari siklus I, siklus II dan siklus III.

Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang diterapkan dalam hal ini antara lain :

Tahap Perencanaan (persiapan), terdiri atas kegiatan sebagai berikut.
1. Menetapkan materi pelajaran, yaitu materi pelajaran kelas .
2. Menyusun Silabus dan Rencana pembelajaran.
3. Menyusun instrument test yang berupa kuis.
4. Menetapkan cara dan prosedur refleksi.
5. Memberikan pengertian kepada siswa bahwa kuis – kuis yang akan diberikan akan sangat penting manfaatnya untuk kemajuan belajar siswa.
6. Memberitahukan kepada siswa bahwa nilai kuis-kuis akan digabung dengan nilai ulangan harian.
7. Memberikan penguatan pada setiap kegiatan apersepsi dengan cara memberikan soal berupa kuis baik secara tertulis.

Pelaksanaan tindakan (Action ), mencakup kegiatan sebagai berikut.
Pelaksanaan tindakan akan dibagi menjadi beberapa siklus sesuai dengan yang telah ditetapkan Siklus pertama.

Penjelasan siklus pertama.
Tindakan : Pemberian kuis pada kegiatan apersepsi.
1. Pada kegiatan ini siswa akan langsung diberi kuis. Siswa mengerjakan kuis yang telah disiapkan guru dalam waktu 5-10 menit. Bentuk soal kuis adalah soal multiple choice dengan jumlah soal sebanyak 3 buah pada setiap kali pertemuan. Validitas kuis dapat dilakukan dengan mensinkronkan muatan materi yang terdapat dalam RPP dengan butir soal kuis.

2. Siklus pertama dalam penelitian ini dinyatakan berhasil jika: siswa yang mendapat nilai 6,5 minimal 70% dari hasil mengerjakan soal kuis, da rerata hasil tes penguasaan konsep setelah pembelajaran materi pokok tertentu, telah memenuhi KKM yang ditentukan sekolah.

Pada akhir siklus, dilakukan refleksi oleh semua tim peneliti baik guru maupun mitra untuk mengkaji perubahan tingkah laku siswa selama dan setelah pemberian tindakan, sebagai acuan dalam membuat rencana tindakan baru pada siklus berikutnya.

Siklus kedua.
Siklus kedua dilaksanakan jika hasil refleksi menyatakan bahwa indicator keberhasilan belum terpenuhi. Rencana tindakan pada siklus kedua adalah pemberian kuis pada kegiatan apersepsi dan penguatan (penjelasan mengenai materi kuis).

Siklus ketiga.
Siklus ketiga dilaksanakan jika hasil refleksi menyatakan bahwa indicator keberhasilan belum terpenuhi. Rencana tindakan pada siklus ketiga adalah pemberian kuis pada kegiatan apersepsi dan penguatan (penjelasan mengenai materi kuis) serta pemberian quis di akhir pembelajaran.
Refleksi, dimana perlu adanya pembahasan antara siklus-siklus tersebut untuk dapat menentukan kesimpulan atau hasil dari penelitian.

Biaya Penelitian
Personalia Peneliti
Penelitian ini melibatkan Tim peneliti, identitas dari Tim tersebut adalah :

Ketua Peneliti
Nama Lengkap :
Jenis Kelamin :
NIP :
Disiplin Ilmu :
Pangkat/Golongan :
Jabatan :
Waktu Penelitian : 10 Jam/Minggu
Anggota Peneliti 1
Nama Lengkap :
Jenis Kelamin :
NIP :
Disiplin Ilmu :
Pangkat/Golongan :
Jabatan :
Waktu Penelitian : 10 Jam/Minggu
Anggota Peneliti 2
Nama Lengkap :
Jenis Kelamin :
NIP :
Disiplin Ilmu :
Pangkat/Golongan :
Jabatan :
Waktu Penelitian : 10 Jam/Minggu

Daftar Pustaka
1. Darsono, M. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press.
2. Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
3. Gagne, R.M. (1983). Some Issues in the Psychology of Mathematics Instruction. Journal for Research in Mathematics Education. 14 (1) 4. Jutmini, S. dkk. 2007. Paduan Evaluasi Pendidikan. LPP UNS.
5. Lucas, D.M. and Fugitt, J. 2007. The Perception of Math and Math Education in the Rural Midwest. Appalachian Collaborative Center for Learning, Assessment, and Instruction in Mathematics Working Paper No. 37.
6. NCTM. 1989. 1989 NCTM Standards: Grades 9-12 Mathematics as Problem Solving. Download dari http://www.nctm.org pada tanggal 15 Januari 2006.

Metode Cooperatif Learning untuk Meningkatkan Hasil belajar Siswa

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA MELALUI METODE COOPERATIF LEARNING DI SD............

Abstrak

Kurangnya minat siswa pada mata pelajaran IPS membuat siswa memperoleh rata-rata kelas kurang dari standar kriteria ketuntasan minimal yaitu 70 .hal ini menunjukkan rendahnya penguasaan materi IPS oleh karena itu penulis mencoba menggunakan metode diskusi kelompok /kerja kelompok.

Adapun tujuan penelitian ini untuk meningkatkan minat dan kemampuan kreatifitas dalam proses belajar.Penelitian berjudul Upaya meningkakan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada materi ajar Sumber Daya Alam dan Pemamfaatanya pada lingkunga setempat dengan menggunakan metode pembelajaran kelompok (Cooperatif Learning) siswa kelas IV SD.......

Dari hasil penelitian pelaksanaan perbaikan pembelajaran terdiri dari Pra siklus,Siklus I ,Siklus II ,dan Siklus III.hasil belajar dari Pra Siklus mempeoleh nilai rata – rata 55,57 .hasil belajar siswa pada Siklus I memperoleh nilai rata – rata 63,75 hasil belajar siswa pada Siklus II memperoleh nilai rata rata 70,00 dan hasil belajar siswa pada Siklus III diperoleh nilai rata – rata 77,5 .dari hasil perbaikan pembelajaran dari siklus ke siklus meningkat.

Kata Kunci :minat siswa, metode pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning ) ,hasil belajar

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
        Pendidikan adalah perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Sesuai dalam formal dan operasional UU No.20 tahun 2003 Pendidikan adalah Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan ,pengendalian diri kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia,serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat,bangsa dan negara. Dalam hal ini peran guru sangat menentukan tercapainya tujuan pendidikan tersebut.

       Menurut pendapat Abis Syamsudin membedakan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pendidik (edukator) dan (teacher) dalam konsep pendidikan mencakup seluruh proses hidup dan segenap bentuk interaksi individu dengan linkungan baik secara informal dan non formal dalam menunjukkan dirinnya sesuai dengan tahapan tugas perkembangannya secara optimal sehingga ia tercipta sesuatu kedewasaan. Dalam hal ini guru sebagai konservator ( pemelihara ),transmitor ( penerus ),transpormator ( tejemah ) dan organesator ( peneyelenggara).

        Menurut Mulyasa (2004:100 ) tugas guru yang paling utama guru adalah mengkondisikan lingkungan agar menujang terjadinya perubahan prilaku bagi peserta didik. untuk terjadinya perubahan prilaku sudah tentu didalam pembelajaran tersebut harus terdapat pengalaman belajar yang sistematis yang langsung kebutuhan siswa .

        Menurut Margaret E.Bell Gedler ( 1991:2007 ) bahwa istilah Pembelajaran dapat diartikan sebagai seperangkat acara peristiwa ekternal yang dirancang untuk mendukung terjadinya proses yang sifatnya internal.pengertian ini mengisaratkan bahwa pembelajaran merupakan proses yang sengaja direncanakan dan dirancang sedemikian rupa dalam rangka memberikan bantuan bagi terjadinya proses belajar.

        Pendapat yang semakna dengan definisi diatas dikemukakan oleh J.Drost ( 1999:2) yang menyatakan bahwa Pembelajaran merupakan usaha yang dilakukan untuk menjadikan orang lain belajar .sedang Mulkan ( 1993: 113 ) memahami pembelajaran sebagai suatu aktivitas guna menciptakan kreatifitas siswa.dari pendapat ini dapat dikemukan bahwa pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang diushakan dengan tujuan agar orang ( Misalnya : Guru,Siswa,dapat melakukan aktifitas belajar.

        Dengan demikian pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu peristiwa atau situasi yang sengaja dirancang dalam rangka membantu dan mempermudah proses belajar dengan harapan dapat membangun kreatifitas siswa.

        Pembelajaran yang sesuai,ditunjukkan oleh penugasan materi dan tingkat penguasaan materi pembelajaran ditentukan oleh penialaian . penulis sebagai guru kelas IV merasa belum puas dengan nilai yang diperoleh siswa terutama pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS ). Dari pengalaman yang dialami maka penulis mengadakan Penelitian Melalui Metode pembelajaran kooperatif ( Cooperative learning ) yang artinya : memberikan kesempatan pada siswa untuk saling berinteraksi ,mengembangkan beberapa kecakapan diantaranya : kecakapan berkomuniksai dan kecakapan bekerja sama,dan juga dapat mengembangkan Kemampuan menuangkan gagasan dan pendapat-pendapat melalui diskusi-diskusi, Belajar Kooperatif upaya untuk mewujudkan pembelajaran Aktif,Kreatif,dan menyenangkan.Penulis melanjutkan tindakan (Action ) yang berulang-ulang dalam rangka mencapai perbaikan yang diharapkan.

       Berdasarkan pengalaman penulis, mengajar mata Pelajaran IPS kelas IV di SDN ...., siswa kurang terlibat aktif kurang bergairah,hal ini dapat berakibat hasil belajar yang rendah. dari 20 siswa hanya 10 siswa yang mencapai nilai diatas KKM 70 dan 10 siswa belum mencapai diatas rata-rata KKM.

       Mengingat gejala yang terjadi pada pembelajaran IPS di kelas IV SDN .... Maka dari itu guru diharapkan dapat memilih metode pembelajaran yang sesuai karena metode pembelajaran menentukan jenis interaksi dalam pembelajaran.Pembelajaran yang baik harus menimbulkan aktivitas belajar yang baik sehingga tujuan pembelajaran tercapai secara maksimal dan siswa mencapai ketuntasan belajar

1. Identifikasi Masalah
       Berdasarkan hal tersebut penulis berusaha merefleksikan dan diskusi dengan teman sejawat untuk mengidentifikasi kekurangan dari proses pembelajaran tersebut terungkap beberapa masalah yang terjadi dalam pembelajaran,yaitu:

• Belajar yang monoton sehingga siswa merasa bosan
• Aktivitas siswa selama melaksankan tahap belajar dengan metode ceramah
• Pengaruh penerapan metode diskusi Kelompok guna meningkatkan hasil belajar siswa
• Siswa kurang memberi respons atas pertanyaan guru

2. Analisis Masalah
• Metode pembelajaran kurang tepat.
• Kurangnya alat peraga.
• Penjelasan guru terlalu cepat.
• Guru kurang menguasai kelas.
• Penjelasan guru kurang menarik.

3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
       Upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Tegalsari Kec.Beltang II Kab.OKU Timur berdasarkan penelitian yang dilaksanakan maka penulis menangkap perlu pemakaian metode Pembelajaran Kooperatif ( Cooperative Learning) guna meningkatkan minat belajar siswa.

B. Rumusan Masalah
        Berdasarkan analisis diatas maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut Bagaimana upaya meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman konsep pembelajaran IPS melalui Pembelajaran Kooperatif ( Cooperatif Laerning ) di kelas IV SDN....

C. Tujuan Perbaikan
1. Membangkitkan minat belajar siswa untuk memperoleh hasil yang lebih baik
2. Meningkatkan pemahaman konsep pembelajaran IPS.
3. Mengaktifkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan pelajaran IPS.
4. Melatih siswa agar bertanggung jawab menyelesaikan tugasnya dengan baik

D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Penulisan laporan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Bagi Siswa
  • Membantu siswa meningkatkan pemahaman konsep pembelajaran IPS sehingga mendapatkan nilai yang memuaskan.
  • Meningkatkan motivasi siswa belajar IPS.
  • Meningkatkan hasil belajar.
2. Bagi Guru
  • Meningkatkan kemampuan guru mengatasi permasalahan pembelajaran..
  • Memberikan motivasi pada guru untuk melaksanakan pembelajaran
  • Aktif,,Inovatif, Kreatif dan Menyenangkan dalam Proses Pembelajaran IPS 
  • Meningkatkan profesionalisme guru.
  • Meningkatkan kinerja guru
3. Bagi Sekolah
  • Memberi landasan sekolah untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
  • Memberikan kontribusi untuk meningkatkan mutu pembelajaran disekolah
  • Memberikan sumbangan pemikiran demi kemajuan pendidikan di sekolah

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Belajar
       Belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competences,skills,dan attitudes.Bell-Gredler(1986;1) dalam Udin SW 2007.

       Belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan dengan membaca dan menggunakan pengalaman dan sumber belajar sebagai pengetahuan yang menandai perilaku pada masa yang akan datang.(Udin SW 2007 ).        

Belajar adalah : proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan .Seseorang dikatakan belajar bila pikiran dan perasaannya aktif,aktifitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati orang lain,akan tetapi akan terasa oleh yang bersangkutan ( orang yang sedang belajar itu )

       Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.(UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dalam Udin SW 2007

B. Jenis-Jenis Media
       Media adalah alat saluran komunikasi .media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium “ yanh secara harfiah berati perantara yaitu perantara sumber pesan dengan sumber pesan Heinich,dkk.(1993)

       Pembelajaran Kooperatif ( Cooperative Learning ) adalah salah satu upaya untuk mewujudkan pembelelajaran Aktif,Kreatif,Efektif dan Menyenangkan ( Ika Berdiati ( 2010:5) .belajar kooperatif memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling berinteraksi,dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda .belajar belum dikatakan tuntas bila salah satu siswa dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran.

       Pembelajaran Kooperatif (Coopertaive Learning) Merupakan pembelajaran dengan sekelompok kecil peserta didik bekerja/belajar bersama-sama dan saling membantu satu sama lain untuk menyelesaikan tugas akademik.

C. Kegunaan Pembelajaran (Cooperatif Learning)
memberi manfaat bagi peserta didik dalam :
a) Meningkatkan kemampuan untuk bekerjasama dan bersosialisasi.
b) Melatih kepakaan diri.
c) Menumbuhkan rasa percaya diri.
d) Meningkatkan motivasi belajar.
e) Meningkatkan prestasi belajar.
f) Mewujudkan suasana Aktif,Kreatif,Efektif,Inofatif dan Menyenangkan

D. Hasil Belajar
        Faktor –faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar :
1. Faktor yang berasal dari diri siswa yang mempengaruhi hasil belajar diantaranya adalah Kecakapan,minat,bakat,usaha ,motivasi,perhatian, kelemahan,dan kesehatan fisik, dan kebiasaan siswa

2. Faktor dari luar siswa yang mempengaruhi terhadap hasil belajar diantaranya adalah lingkungan fisik ,lingkungan non fisik,sosial budaya,linkungan keluarga,program dan disiplin sekolah, program dan sikap guru ,pelaksanaan pembelajaran,dan teman sekolah. (Anita,dkk (2007:210)

E. Pengertian Bahan Ajar
       Bahan ajar adalah segala bentuk bahan ajar yang digunakan untuk membuat struktur dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dikelas .bahan yang dimaksud bahan yang tertulis maupun tidak tertulis Sebuah bahan ajar paling tidak mencakup

1. Petunjuk belajar
2. Prestasi yang akan dicapai
3. Materi pembelajaran
4. Informasi pendukung
5. Latihan-latihan
6. Petunjuk kerja berupa lembar kerja
7. Evaluasi
8. Respon/balikan terhadap hasil Evaluasi

F. Jenis-Jenis Bahan Ajar
       Berdasarka tehnologi bahan ajar dapat dikelompkkan menjadi 4 :
1. Bahan cetak
2. Bahan ajar dengar ( audio )
3. Bahan ajar pandang dengan ( audio Visual )
4. Bahan ajar multi media ( Interaktif )

G. Pengertian Pembelajaran IPS
       Pengertian IPS ( Ilmu Pengetahuan Sosial ) adalah : bidang studi yang mempelajari dan menelaah serta menganalisis gejala dan masalah sosial dimasyarakat ditinjau dari berbagai aspek kehidupan secara terpadu.

       Pembelajaran IPS ( 2006 ) bertujuan : membentuk warga negera yang berkemampuan sosial dan yakin akan kehidupanya sendiri ditengah – tengah kekuatan fisik dan social yang pada giliranya akan menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab.

       Ilmu Pengetahuan Sosial terpadu merupakan salah satu mata pelajaran di Sekolah Dasar yang menyiapkan peserta didik sebagai anggota masyarakat dan warga Negara yang baik dan memberi dasar pengetahuan dalam masing-masing bidangnya untuk kelanjutan pendidikan jenjang di atasnya ( Depdikbud,1994;1984;1975 dalam Udin SW 2007)

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian
1. Temppat Penelitian
Tempat penelitian yang digunakan dalam melakukan penelitian ini untuk memperoleh data yang diinginkan adalah di SD..........

2. Waktu PElaksanaan
Waktu penelitian ini dilaksanakan pada tanggal...sampai dengan .... tahun.....

3. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN.... terdiri dari siswa laki-laki sebanyak...dan siswa perempuan sebanyak....

B. Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru,sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat maka guru mengadakan prosedur perbaikan pembelajaran yang dibagi menjadi 3 Siklus yaitu Siklus I ,Siklus II,dan Siklus III.setiap siklus melalui tahapan :

Jadwal Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran
No
Siklus
Materi
Hari/Tangal
1
Prasiklus

Pengertian Sumber daya lam serta pemanfaatannya

Kamis
25September 2014
2
Siklus I
Pengertian Sumber daya lam serta pemanfaatannya

Kamis,
02 Oktober 2014
3
Siklus II
hubungan sumber daya alam dengan kegiatan ekonomi lingkungan sekitar


Kamis,
09 Oktober  2014
4
Siklus III
Membuat daftar kegiatan ekonomi penduduk

Rabu,
15 Oktober 2014

A. Siklus I
Siklus I dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 02 Oktober 2014 dengan materi Pengertian sumber daya alam serta manfaatnya dikelas IV SD Negeri Tegalsari Kec.Belitang II terdiri dari :

• Perencanaan
Perencanakan pelaksanaan pada siklus I dengan pokok bahasan Pengerian Sumber Daya Alam Serta Manfaatnya dikelas IV SDN Tegalsari kec.Belitang kab.OKU Timur meliputi langkah –langkah sebagai berikut :

- Membuat RPP Perbaikan Pembelajaran dengan materi
- Menyiapkan kondisi keadaan kelas
- Menyiapkan alat Penilaian APKG I dan APKG 2
- Membuat soal-soal Evaluasi

• Pelaksanaan
Kegiatan pelaksanaan proses belajar mengajar dilaksanakan pada tanggal 02 Oktober 2014 jam ke-1 dikelas IV SDN Tegalsari Kec.Belitang II Kab.OKU Timur .pembelajaran dilaksanakan dengan langkah –langkah

- Guru memulai pelajaran dengan motivasi ,apersepsi,tentang materi
- Guru memberi petunjuk dan menjelaskan tentang materi pelajaran
- Guru memimpin kelas dengan mengarahkan pada jawaban yang benar
- Guru dan siswa secara bersama menyimpulkan pembelajaran
- Guru memberikan soal evaluasi kepada siswa hasil nilai siswa terlampir

• Pengamatan
Pembelajaran diamati oleh penulis I dan 2 dengan menggunakan Alat APKG I dan APKG 2 serta lembar observasi dari pengamat penilai I dan penilai 2 diperoleh hasil bahwa siswa kurang aktif dalam pembelajaran guru tidak memberikan motivasi kepada siswa : guru menjelaskan materi tidak menggunakan metode yang bervariasi

• Refleksi
Pada akhir siklus diadakan refleksi terhadap hasil-hasil yang diperoleh dari aktivitas siswa. Pada saat pembelajaran maupun hasil tes pada akhir pembelajaran serta hasil observasi dari penilai I dan 2 berdasarkan hasil pengamatan .Proses pembelajaran yang digunakan

B. Siklus II
Siklus II dilaksanakan pada hari Kamis 09 Oktober 2014 dengan materi hubungan sumber daya alam dengan kegiatan ekonomi lingkungan sekitar dikelas IV SDN Tegalsari Kec.Belitang II Kab.OKU Timur.

1. Perencanaan
Meliputi langkah –langkah sebagai berikut :
a. Membuat RPP Perbaikan
b. Membagi masing –masing kelompok
c. Menentukan langkah – langkah yang akan ditempuh melalui proses materi .Pengguna alat peraga ,tugas dan evaluasi
d. Menyiapkan alat nilai APKG I dan APKG 2
e. Memuat soal – soal Evaluasi

2. Pelaksanaan
Pelaksanaan belajar mengajar dilaksanakan pada hari Kamis, 09 Oktober 2014 jam Ke- I di kelas IV SDN Tegalsari Kec.Belitang II Kab.OKU Timur.dengan langkah –langkah sebagai berikut :

1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
2. Guru memotivasi agar siswa aktif
3. Guru membagi masing –masing kelompok
4. Siswa memperhatikan penjelaskan guru
5. Guru memberi soal evaluasi
6. Hasil nilai siswa terlampir.

3. Pengamatan
Pembelajaran diamati oleh penilai I dan Penilai 2 dengan menggunakan alat penilai APKG I dan APKG 2 serta lembar observasi dari pengamatan penilai I dan Penilai 2 diperoleh hasil sebagai berikut :

- Keterlibatan siswa sudah baik
- Dalam proses pembelajaran guru memotivasi siswa
- Dalam proses pembelajaran guru sudah menggunakan metode bervariasi
- Penguasaan kelas sudah agak baik

4. Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi dengan penilai I dan penilai 2 ternyata pada siklus II di pada siklus II diperoleh Temuan :

1. Siswa sudah mulai aktif dalam pembelajaran
2. Dalam penjelasan guru sudah memberikan banyak contoh
3. Guru sudah membuat rangkuman dengan baik
4. Penguasaan kelas sudah mulai baik 

C. Silkus III
Siklus III dilaksanakan pada hari Rabu, 15 Oktober 2014 dengan pokok pembahasan Membuat daftar kegiatan ekonomi penduduk pada siswa kelas IV SD Negeri Tegalsari Meliputi langkah – langkah sebagai berikut :

1. Perencanaan
- Membuat RPP perbaikan pembelajaran
- Mengatur kondisi kelas
- Meyediakan alat Gambar peta Pesebaran Sumber daya Alam
- Menyiapkan alat APKG I dan APKG 2
- Membuat soal Evaluasi

2. Pelaksanaan
Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 15 Oktober 2014 jam ke I dikelas IV SD Negeri Tegalsari Kec.Belitang II Kab.OKU Timur .Pembelajaran dilaksanakandengan langkah – langkah sebagai berikut :
  • Guru membuka pembelajaran motivasi dan aperspsi
  • Guru memberikan penjelasan tentang materi pembelajaran
  • Siswa memperhatikan dan mendengarkan materi yang dijelaskan oleh guru
  • Guru Memberikan soal evaluasi setelah menjawab soal ,guru memeriksa hasil kerja siswa
  • Nilai siswa terlampir

3. Pengamatan
Pembelajaran diamati oleh Penilai I dan Penilai 2 menggunakan alat penilai APKG I dan APKG 2 dari pengamaan penilai I dan Penilai 2 diperoleh hasil seabagai berikut :

- Semua komponen yang diamati hasilnya baik ( Pembukaan ,Penguasaan Materi, penguasaan kelas ,Keaktifan siswa mengerjakan soal ,memberi penguatan membuat rangkuman)

4. Refleksi
Menurut hasil pengamatan penilai I dan penilai 2 ternyata pada siklus III
  • Penyampaian pembelajaran sudah baik
  • Situasi kelas yang kondusif karena siswa terlibat aktif dalam menggunkan Metode Pembelajaran Kooperatif ( Cooperative Learning ) dan terjadi komunikasi antara Guru dan siswa
  • Pada pembelajaran berlangsung ,keadaan kelas menjadi aktif,kreatif,inovatif dan menyenangkan.

D. Teknik Analisis Data
1. Setelah Siklus I diperoleh hasil belajar siswa rata –rata 63,75 yang mencapai KKM ada 9 orang dan yang belum mencapai KKM 11 Orang mencapai KKM ada 9 Orang .Nilai KKM lebih besar 90 dari 20 orang sedangkan Pra siklus diperoleh hasil belajar rata –rata 55,57 yang mencapai KKM 7 Orang dan yang belum mencapai 13 orang.pada Siklus I masih banyak siswa yangbelum mencapai KKM maka penulis melanjutkan ke Siklus II

2. Siklus II diperoleh hasil belajar siswa rata –rata 70.00 yang mencapai KKM 10 Orang dari 20 orang jadi yang belum tuntas ada 10 orang ternyata pada siklus II yang belum tuntas lebih dari setengah kelas maka penulis mlanjutkan Siklus III

3. Pada Siklus III diperoleh hasil belajar siswa rata-rata 77,50 yang mencapai KKM Semua siswa yang berjumlah 20 orang ternyata yang mencapai KKM pada siklus III lebih banyak dibandingkan siklus II.