KAMPUS UTAMA STIQ AN-NUR LEMPUING OKI

Kampus utama STIQ AN-NUR lEMPUING OKI di Jalan Lintas Timur Desa Tebing Suluh Kecamatan Lempuing Kabuupaten OKI Sumatera Selatan

DIRJEN PENDIS DAN KETUA STIQ AN-NUR LEMPUING OKI

Pertemuan Ketua STIQ AN-NUR LEMPUING OKI dan dirjen Pendis Di Jakarta.

DIRJEN PENDIS DAN KETUA STIQ AN-NUR lEMPUING OKI

Serah Terima SK Operasional STIQ AN-NUR LEMPUING OKI dari Dirjen Diktis Ke Ketua STIQ AN-NUR lEMPUING OKI di Jakarta.

PIMPINAN STIQ AN-NUR LEMPUING OKI

Sebelah Kiri Ketua, Pembantu Ketua I, Pembantu Ketua II dan Pembantu Ketua III.

PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Penerimaan Mahasiswa Baru STIQ AN-Nur Lempuing OKI Tahun Akademik 2016/2017.

Showing posts with label PTK. Show all posts
Showing posts with label PTK. Show all posts

Strategi Jigsaw Proposal PTK

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
       Perkembangan teknologi dan komunikasi tidak hanya berdampak pada kehidupan manusia saja. Ilmu pengetahuan juga mengalami banyak pemutakhiran. Pergeseran paradigma pendidikan mengakibatkan semua lintas disiplin ilmu berkembang dengan pesat. 

Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu disiplin ilmu yang terus berkembang. Perkembangan tersebut sebagai upaya sadar para ahli pendidikan. Perbaikan kurikulum Ilmu Pengetahuan Alam terus di upayakan sebagai pengaruh dari perkembangan tekhnologi tersebut. Hal ini dilakukan untuk menciptakan generasi yang cerdas, tangguh, dan mencintai lingkungan.

        Ilmu Pengetahuan Alam adalah bidang kajian tentang makhluk hidup dalam segala aspek, lingkungan, kehidupan, populasi, dan segala hal yang ada di sekitar kita. Pembelajaran pengetahuan alam bukan merupakan hal yang asing, karena dapat selalu kita jumpai dalam kehidupan disekitar kita.

       Memperhatikan bidang kajian mata pelajaran pengetahuan alam maka seharusnya pembelajaran di sekolah-sekolah merupakan suatu kegiatan yang di senangi, dan bermakna bagi peserta didik. Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif yang mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interakasi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan dalam sebelum pengjaran dilakukan. (Djamarah : 2006, 1). 

Sebagai suatu sistem interaksi edukatif mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat, sumber dan evaluasi (Djamarah : 2005, 16). Komponen – komponen tersebut saling berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan.

       Hamzah (2009) peranan guru sebagai pengelola pembelajaran adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas bagi begi bermacam-macam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.

       Dari uiraian diatas dapat diasumsikan bahwa mata pelajaran pengetahuan alam mempunyai nilai yang strategis dan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul, handal, dan mencintai lingkungan. Hal yang menjadi hambatan selam ini adalah kurang dikemasnya pembelajaran pengetahuan alam dengan metode yang menarik, menantang dan menyenangkan. 

Para guru sering kali menyampaikan materi pengetahuan alam apa adanya, sehingga pembelajaran pengetahuan alam kurang menarik minat siswa dan membosankan sehingga pada akhirnya menjadikan prestasi siswa kurang memuaskan. Disisi lain juga karena kecenderungan siswa untuk aktif masih rendah. 

Ada beberapa faktor yang mengacu ke dalam hal tersebut yaitu : siswa kurang memiliki kemampuan untuk merumuskan gagasan sendiri, siswa siswa kurang memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat kepada orang lain, dan siswa belum biasa bersaing menyampaikan gagasan dan pendaptnya dengan teman lain.

       Pembelajaran pengetahuan alam dianggap sebagai sesuatu yang membosankan, kurang menantang dan tidak bermakna. Hal ini mungkin disebabkan karena kemampuan guru kurang berdaya kreasi dalam pembelajaran, kurang dikuasainya metari-materi pengetahuan oleh siswa, dan kurangnya variasi pengajaran.

       Meningkatnya aktivitas siswa akan lebih mengarahkan pengetahuan alam kepada hal yang lebih bermakna. Dengan keikutsertaan siswa menyusun dan membuat perencanaan proses belajar mengajar, adanya dorongan semangat melalui intelektual emosional siswa, dan keikutsertaan siswa secara kreatif dalam mendengarkan dan memperhatikan apa yang disajikan guru akan membawa pembelajaran IPA lebih berhasil.

       Banyak cara agar pembelajaran pengetahuan alam menjadi pembelajaran yang lebih bermakna, menyenangkan, dan berarti dalam kehidupan. Salah satu cara yang cukup efektif adalah model pembelajaran quantum teaching dengan tekhnik Jigsaw. Oleh karena itu perlu diadakan penelitian tindakan kelas untuk membuktikan bahwa melalui pembelajaran model quamtum teaching tekhnik jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran pengetahuan alam.

B. Identifikasi Masalah
       Berdasarkan uraian masalah diatas keadaan pembelajaran pengetahuan alam yang saat ini terjadi adalah :

1. Pembelajaran pengetahuan alam masih berjalan monoton
2. Belum ada variasi dalam proses pembelajaran
3. Belum ditemukan model pembelajaran yang lebih tepat
4. Belum ada hubungan imbal balik antara guru dan siswa
5. Tekhnik yang digunakan bersifat konvensional
6. Rendahnya kualitas pembelajatan pengetahuan alam
7. Masih kuranya hasil belajar siswa untuk mata pelajaran pengetahuan alam.


C. Perumusan Masalah
       Bertitik tolak dari identifikasi masalah diatas, permasalah yang dapat dirumuskan adalah :

1. Bagaimana menerapkan pembelajaran model quantum teaching tekhnik Jigsaw agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran pengetahuan alam?

2. Apakah penggunaan pembelajaran model quantum teaching tekhnik jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran mata pelajaran pengetahuan alam?

D. Cara Memecahkan Masalah
       Metode yang akan digunakan untuk memecahkan masalah dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah mmodel pembelajaran quantum teaching dengan tekhnik jigsaw. Dengan model pembelajaran ini diharapkan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran siswa pengetahuan alam lebih meningkat.

E. Hipotesis Tindakan
       Penelitian ini direncanakan terbagi dalam tiga siklus, setiap siklus dilaksanakan mengikuti prosedur, perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Melalui ketiga siklus akan diamati peningkatan hasil belajar dan aktifitas siswa. 

Untuk itu, hal yang dirmuskan dalam hipotesis tindakan adalah sebagai berikut :
1. Dengan diterapkannya model pembelajaran quantum teaching dengan tekhnik jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran pemngetahuan sosial.

2. Dengan diterapkan model pembelajaran quantum teaching tekhnik jigsaw dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam mata pelajaran pengetahuan alam.

F. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
1. Guru dapat meningkatkan strategi dan kualitas dalam pembelajaran pengetahuan alam.

2. siswa merasa lebih mendapat perhatian dalam mengungkapkan gagasan pendapat dan pertanyaan.

3. siswa dapat bekerja secara mandiri maupun kelompok serta mempertanggung jawabkan tugas individu maupun kelompok.

4. seluruh siswa dapat menguasai materi pelajaran secara tuntas.

G. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
      Uraian manfaat dari hasil penelitian tindakan kelas ini dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Proses belajar mengajar pengetahuan alam tidak lagi konvensional
  2. Ditemukan strategi pembelajaran yang tepat, tidak monoton, tetapi bersifat variatif.
  3. Keberanian siswa mengungkapkan ide, pendpat, pertanyaan dan saran meningkat.
  4. Keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas baik mandiri maupun kelompok meningkat.
  5. Kualitas pembelajaran pengetahuan alam meningkat 6. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam meningkat.


BAB II KAJIAN TEORI

A. Hakikat Model Pembelajaran Quantum Teaching
      Hakikat model pembelajarn quantum teaching akan di bahas dalam beberapa bagian yakni pembelajaran quantum teaching dan prinsip-prinsip quantum teaching,

1. Quantum Teaching
        Quantum teaching adalah penggubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan disekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur yang dapat mendukung efektifitas pembejaran, seperti dan semangat siswa dalam belajar. Interaksi tersebut juga mengubah kemampuan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan orang lain.

       Pembelajaran dengan quantum teaching berusaha menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan menyenangkan, dengan cara melibatkan semua unsur yang ada pada siswa dan belajrnya melalui interaksi yang terjadi dalam kelas. bila metode ini diterapkan, maka seorang guru akan lebih di mencintai dan berhasil dalam memeberikan materi serta lebih di cintai anak didik. Sebab guru, guru mengoptimalkan berbagai berbagai potensi yang ada, baik pada siswa maupun lingkungan sekitarnya. 

2. Prinsip-Prinsip Quantum Teaching
      Dalam metode quantum teaching asas utamanya adalah “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka.” Hal ini menunjukkan, betapa pengaaran quantum teaching tidak hanya sebuah proses transfer knowledge dari guru kepada siswa. Tetapi lebih jauh dari itu, bagaimana menciptakan suasana belajart kondusif bagi siswa dan membangun emosional yang baik antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

      Dalam quantum teaching keberadaan bahasa tubuh sangat ditekankan. Seperti tersenyum, bahu tegak, kepala ke atas, mengadakan kontak mata dengan siswa dan lain-lain. Guru tidak dianjurkan duduk manis di atas kursi dengan raut muka tanpa ekspresi dan terpaku dengan buku teks yang dimiliki, sehingga mengesankan suasana belajar yang menakutkan. 

Guru harus berusaha membuat suasana kelas menyenangkan dengan menunjukkan ekspresi wajah ceria, dan memberikan respon positif terhadap setiap hal positif yang dilakukan siswa. Selain itu guru juga dianjurkan selalu berusaha menumbuhkan rasa percaya diri siswa memberikan kesempatan kepada mereka untuk berani mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.

B. Tekhnik Jigsaw
      Tekhnik jigsaw adalah tekhnik dengan mengelompokkan siswa kedalam anggota kelompok. Setiap kelompok diberi materi yang berbeda. Setiap orang didalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan.

Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian / sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan bab mereka. Setelah diskusi selesai sebagai tim ahli tiap anggota ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota laiinya mendengarkan dengan sungguh-sungguh. 
Kemudian tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi.

C. Kerangka Pemecahan Masalah
Kerangka pemecahan masalah melalui tahapan :

1. Keadaan sekarang – diskusi pemecahan masalah – evaluasi awal
1) Pembelajaran IPA monoton
2) Belum ditemukan strategi yang tepat
3) Metode konvensional
4) Rendahnya kualitas pembejaran IPA
5) Rendahnya hasil pembejaran IPA
2. Perlakuan – penerapan metode Jigsaw
1. Penjelasan pembelajaran
2. Pelatihan pembejaran jigsaw
3. Simulasi pembejaran jigsaw
3. Hasil yang diharapkan - evaluasi akhir
1. Guru mampu menerapkan tekhnik jigsaw
2. Kulaitas pembelajaran meningkat
3. Hasil pemebalajartan IPA meningkat

D. Hakikat hasil belajar Dan Aktifitas Siswa
1. Hakikat hasil belajar
      Untuk mengatakan suatu proses dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafatnya. Berdasarkan kurikulum suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil apabila tujuan intruksional khususnya dapat dicapai. Untuk mengukur dan mengevakuasi tingkat keberhasilan belajar tersebut dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar.

      Hasil belajar dapat dilihat dari melihat hasil ulangan harian, nilai ulangan tengah semester, nilai semester. Dalam penelitian tindakan kelas ini yang dimaksud hasil belajar siswa adalah hasil nilai ulangan harian yang diperoleh siswa dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Ulangan harian minimal dilaksankan tiga dalam setiap semseter. 

Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses pembelajaran dalam satuan bahasan atau kompetensi tertentu.dalam ulangan harian terdiri dari seperangkat soal yang harus di jawab oleh peserta didik. tujuan ulangan harian adalah untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa, memperbaiki program pembelajaran siswa serta sebagai pertimbangan dalam nilai bagi para peserta didik.

2. Hakikat aktivitas siswa
      Aktifitas siswa adalah keterlibatan siswa dalam bentuk perhatian, sikap, pikiran, dalam pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Peningkatan aktifitas siswa dapat dilihat dari bertambahnya siswa yang bernai mengemukakan penndapatnya, meningkatnyanjumlah siswa yang terlibat aktif dalam pembelejaran, meningkatnya jumlah siswa yang saling berinteraksi membahas pelajaran. 

Metode belajar mengajar yang memancing imbal balik akan lebih menyebabkan suasan pembelajaran akan lebih kondusif, karena siswa akan lebih berperan terbuka dan sensitif dalam kegiatan belajar mengajar.

Indikator aktifitas siswa dapat dilihat dari : 
- Mayoritas siswa yang beraktifitas dalam pembelajaran
- Aktivitas pembelajaran didominasi oleh kegiatan siswa
- Mayoritas siswa mampu menyelesaikan tugas yang diberikan guru dalm lks melalui pembelajran quantum tekhnik jigsaw.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Setting penelitian
      Seting dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi : tempat penelitian, waktu penelitian, dan siklus PTK sebagai berikut.

1. Tempat penelitian
      Penelitian tindakan kelas ini dilaksnakan di MTs. Nurush Shomad Cahya Maju Kecamatan Lempuing Kabupaten Ogan Komering Ilir untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Sebagai subjek dalam penelitian ini adalah kelas VII tahun pelajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang, terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Pemilihan sekolah ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran.

2. Waktu Pnelitian
      Penelitian akan dilaksanakan pada awal tahun, yaitu bulan Mei sampai dengan Juni 2010. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah, karena PTK memerlukan siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar efektif di kelas.

3. Siklus PTK
      PTK ini dalakasanakan melalui tiga siklus untuk melihat peningkatan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam mengikuti mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam memalui pemeblajaram quantum teaching tekhnik jigsaw.

B. Persiapan Penelitian tindakan kelas
      Dalam PTK ini dilaksanakan dibuat berbagai input instrumental yang akan dighunakan untuk memberi perlakuan dalam PTK yaitu rencana pembelajaran yang akan dijadikan PTK, yaitu Kompetensi Dasar (KD) : Membandingkan sifat fisika dan sifat kimia zat dan Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia.

      Selain itu juga dibuat perangkat pembelajaran berupa : 1) Lembar Kerja Siswa, 2) lembar pengamatan diskusi, 3) lembar evaluasi. Dalam persiapan juga akan disusun daftar nama kelompok diskusi yang dibuat secara heterogen.

C. Subjek Penelitian
      Dalam Penelitian tindakan kelas ini yang menajdi subjek penelitian adalah siswa kelas 7 yang terdiri 30 siswa dengan jumlah laki-laki 13 dan 17 jumlah perempuan

D. Sumber Data
      Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari beberapa sumber yaitu siswa, guru dan teman sejawat atau kolaborator.

1. Siswa
      Untuk Mendapatkan data tentang hasil belajar dan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar

2. Guru
      Guna melihat tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran model quantum dengan tekhnik jigsaw dan hasil belajar serta aktivitas siswa dalam proses pembelajaran

3. Teman Sejawat dan Kolaborator
      Teman sejawat dan kolaborator dimaksudkan sebagai sumnber data untuk melihat implementasi penelitian tindakan kelas secara komprehensif, baik dari sisi maupun guru.

E. Tekhnik dan Alat Pengumpulan Data
1. Tekhnik
      Tekhnik pengumpulan dat dalam penelitian ini adalah tes, observasi, wawancara, wawancara dan diskusi.

a. Tes : dipergunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajart siswa
b. Observasi : dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang partisipasi PBM dan implenetasi tekhnik jigsaw.
c. Wawancara : untuk mendapatkan data tentang tingkat keberhasilan impelemntasi pembelajaran quantum teaching tekhnik jigsaw.
d. Diskusi antara guru, teman sejawat, dan kolaborator untuk refleksi hasil siklus PTK

2. Alat Pengumpulan Data
      Alat Pengumpul Data dalam PTK ini meliputi tes, observasi, wawancara, kuisioner dan diskusi sebagaimana berikut ini. 

a. Tes. Menggunakan butir soal / instrumen soal untuk megnukur hasil belajar siswa
b. Observasi : menggunakan lembar observasi untuk mengukur tingkat partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar
c. Wawancara : mengungkapkan panduan wawancara untuk mengetahui pendaat atau sikap siswa dan teman sejawat tentang pembelajaran tekhnik jigsaw
d. Kuisioner : untuk mengetahui pendapat atau sikap siswa dan teman sejawat tentang pembelajaran tekhnik jigsaw
e. Diskusi : menggunakan lembar hasil pengamatan

F. Indikator Kinerja
      Dalam PTK ini yang akan dilihat indikator kinerjanya selain siswa adalah guru, karena guru merupakan fasilitator yang sangat berpengaruh terhadap kinerja siswa.
1. Siswa
a. Tes : rata-rata nilai ulangan harian
b. Observasi : keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar

2. Guru
a. Dokumentasi : kehadiran siswa
b. Observasi : hasil observasi

G. Analisis Data
      Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus penelitian tindakan kelas dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan tekhnik presentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran.

1. Hasil belajar : dengan menganalisa rata-rata nilai ulangan harian. Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.

2. Aktivitas siswa dalam proses belajar Ilmu Pengetahuan Alam : dengan menganalisa tingkat keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang dan rendah.

3. Implementasi pembelajaran qunatum teaching tekhnik jigsaw : dengan menganalisa tingkat keberhasilan impelementasi tekhnik jigsaw kemudian dikategorikan dalam klasiikasi berhasil, kurang berhasil, dan tidak berhasil.

Penelitian Tindakan Kelas dan Cara Menyusunnya

Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu bentuk diri kolektif yang dilakukan peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran keadilan praktik-praktik sosial mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, kita dapat menafsirkan pengertian PTK secara lebih luas, secara singkat PTK dapat di definisikan sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan tertentu agar dapat memperbaiki atau meningkatkan praktek – praktek pembelajran di kelas, sehingga kondisi ini, sangat menghambat pencapaian tujuan pembelajran. Karena itu, guru dapat melakukan penelitian tindakan kelas agar minat  siswa terhadap pembelajaran dapat ditingkatkan. 

Dalam bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran, PTK berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Dengan melaksanakan tahap-tahap PTK, guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. 

Selain itu sebagai penelitian terapan, disamping guru melaksanakan tugas utamanya mengajar di kelas, tidak perlu harus meninggalkan siswanya. Jadi PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru di lapangan. Dengan melaksanakan PTK, guru mempunyai peran ganda : praktisi dan peneliti.

Classroom action research (CAR) adalah action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan-riset-tindakan- …”, yang dilakukan secara siklik, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Ada beberapa jenis action research, dua di antaranya adalah individual action research dan collaborative action research (CAR). 

Jadi CAR bisa berarti dua hal, yaitu classroom action research dan collaborative action research; dua-duanya merujuk pada hal yang sama.

Action research termasuk penelitian kualitatif walaupun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif. Action research berbeda dengan penelitian formal, yang bertujuan untuk menguji hipotesis dan membangun teori yang bersifat umum (general). 

Action research lebih bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi. Namun demikian hasil action research dapat saja diterapkan oleh orang lain yang mempunyai latar yang mirip dengan yang dimliki peneliti.

Karakteristik  Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Karakteristik tindakan sebagai berikut  (Cohen dan Manion, 1980) :
Situasional, praktik, dan secara langsung gayut (relevan) dengan situasi nyata dalam dunia kerja. Ia berkenan dengan diagnosis suatu masalah dalam  kontek tertentu dan usaha untuk memecahkan masalah tersebut.

   Subjeknya adalah di kelas, anggota staf sekolah, dan yang lain penelitiannya terlibat dengan mereka subjek tindakan.

  1. Memberikan kerangka kerja yang teratur kepada pemecahan masalah.  Penelitian tindakan juga bersifat empiris dalam hal bahwa ia mengandalkan observasi  nyata dan data perilaku, dan tidak lagi termasuk kajian pihak-pihak panitia yang subjektif atau pendapat orang berdasarkan pengalaman masa  lalu.

  2. Fleksibel dan adaptif, memungkinkan adanya perubahan selama masa percobaan dengan mengabaikan pengontrolan karena lebih  menekankan tanggap dan pengujicobaan dan pembaharuan di tempat kejadian.

   3. Partisipatori karena peneliti atau anggota tim peneliti sendiri ambil bagian secara langsung  atau tidak langsung dalam melaksanakan  penelitiannya.

   4. Self – evaluative, yaitu modifikasi secara kontinyu dan dievaluasi dalam situasi yang ada /aktual, tujuan akhirnya ialah untuk meningkatkan praktik dalam cara tertentu. Meskipun berusaha secara sistematis, penelitian tindakan secara ilmiah kurang ketat karena ditinjau dari kesahihan instrumen juga agak lemah.

      Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK
  
   Semua kegiatan penelitian tindakan memiliki dua tujuan utama yakni untuk meningkatkan kemampuan yang ada pada subjek tindakan, sekaligus melibatkan subjek yang ditingkatkan kemampuannya tersebut. Penelitian tindakan bertujuan untuk meningkatkan tiga hal, yaitu:

Peningkatan praktek

Peningkatan (atau pengembangan profesionalisme) pemahaman praktek oleh praktisinya;
Peningkatan situasi tempat pelaksanaan praktek (Grundy dan Kemmis  1982:84 ).

SIFAT  PTK
  1. Penelitian Tindakan kelas memiliki sifat sebagai berikut
  2. Permasalahan yang di bahas berbasis  kelas, artinya hal-hal yang terjadi di kelas.
  3. Kolaboratif, artinya ada kebersamaan kegiatan dengan pihak yang diberi tindakan.
  4. Tidak menguji teori, tetapi dilaksanakan berdasarkan teori.
  5. Tidak mengeneralisasikan, hasilnya hanya berlaku bagi subjek tindakan itu
  6. Tidak ada populasi dan sampel, yang ada hanya subjek tindakan.
  7. Tidak ada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
  8. Dilakukan dalam putaran siklus.    
Prinsip – Prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Beberapa prinsip yang dianut dalam Penelitian Tindakan kelas:
  • Tidak mengganggu komitmen mengajar;
  • Tidak menuntut waktu tertentu untuk pengamatan secara khusus;
  • Metode pemecahan masalah riil.
  • Pemecahan berorientasi pada   pemecahan masalah guru  kesehariannya;
  • Pekerjaan guru ialah mengajarkan perlu ada peningkatan, perubahan sesuai dengan   kondisi peserta didik;
  • Masalah penelitian didasarkan atas tanggungjawab  professional;
  • Kepedulian yang tinggi atas prosedur etika pekerjaannya,  diketahui oleh pimpinan, disosialisasikan kepada rekan – rekan, tatakrama penelitian akademik; dan
  • Permasalahan tidak hanya kelas, tetapi juga mencakup perspektif visi dan misi   sekolah.
Butir Kunci Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
  • Memperbaiki hal-hal yang menjadi penyebab timbulnya permasalahan.
  • Partisipatori ( tidak bekerja sendiri, ada andil dari pihak-pihak lain);
  • Berkembang melalui proses refleksi yang bersifat spiral
  • Kolaboratif, kerjasana dengan subjek tindakan yang dibimbing.
  • Proses  pembelajaran sistematis karena dirancang dengan cermat.
  • Membangun teori secara induktif menentukan praktek/kegiatan belajar ;
  • Memerlukan bukti-bukti yang dapat memeriksa gagasan dalam praktek;
  • Mendeskripsikan apa yang terjadi, melakukan analisis, kolaborasi, dan penilaian.
  • Ada kemungkinan resistensi/penolakan baik dari diri sendiri maupun orang lain yang terkena dampak.
Fungsi Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Fungsi PTK sebagai alat untuk  meningkatkan kualitas pelaksanaan   kerja di sekolah dan ruang kelas, misalnya, penelitian tindakan dapat memiliki lima kategori fungsi sebagai (Cohen dan Manion, 1980) :
  1. Alat untuk memecahkan masalah yang didiagnosis dalam situasi   tertentu;
  2. Alat pelatihan dalam jabatan, dengan demikian membekali guru yang bersangkutan serta keterampilan dan metode baru, mempertajam kemampuan analisisnya, dan perubahan;
  3. Alat untuk mengenalkan pendekatan tambahan atau inovasi pada pengajaran dan pembelajaran ke dalam sistem sekolah yang  biasanya menghambat inovasi dan perubahan;
  4. Alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya kurang lancar antara guru lapangan dengan penelitian akademis, dan memperbaiki kegagalan penelitian tradisional dalam memberikan deskripsi yang jelas; dan
  5. Alat untuk menyediakan alternatif yang lebih baik daripada pendekatan yang lebih subjektif dan impresionistik pada pemecahan masalah di dalam kelas.
  6. Dari lima kategori di atas, kalau direduksi fungsi penelitian tindakan tersebut sebenarnya sebagai alat untuk meningkatkan kualitas, dan efisiensi pelaksanaan kegiatan pendidikan.
Selanjutnya Cohen dan Manion, 1980) menyatakan bahwa bidang garapan penelitian tindakan meliputi:
  • Metode mengajar;
  • Strategi belajar;
  • Prosedur evaluasi;
  • erubahan sikap dan nilai;
  • Pengembangan jabatan guru;
  • Pengelolaan dan pengendalian; dan
  • administrasi.
Bidang garapan penelitian tindakan lainnya yang juga perlu mendapat perhatian  ialah :
Media pembelajaran, baik cetak maupun non cetak, elektronik dan  non elektronik
Lingkungan belajar ( setting );
Materi pembelajaran;
Kurikulum; dan
Model – model pembelajaan.
Kelebihan dan Kekurangan PTK
Penelitian tindakan, seperti halnya jenis pnelitian lain, memiliki kelebihan dan kekurangan. Peneliti dapat mengurangi kekurangannya dan memaksimalkan kelebihannya. Shumsky (1982) telah mencatat kelebihan penelitian tindakan sebagai berikut:
  1. Kerja sama dalam penelitian tindakan menimbulkan rasa memiliki;
  2. Kerja sama dalam penelitian tindakan mendorong kreativitas dan pemikiran kritis;
  3. Kerja sama meningkatkan kemungkinan untuk berubah; dan
  4. Kerja sama dalam penelitian meningkatkan kesepakatan.
Meskipun memiliki kelebihan – kelebihan sepeti disebutkan di atas, penelitian tindakan memiliki beberapa kelemahan, sebagai berikut  :
  1. Berkaitan dengan kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalamTeknik dasar penelitian tindakan pada pihak peneliti
  2. Berkenaan dengan waktu. Karena itu, penelitian tindakan memerlukan komitmen peneliti untuk terlibat dalam prosesnya, faktor waktu ini dapat menjadi kendala yang besar. Praktisi yang ingin melakukan tugas rutinnya dan untuk melakukan penelitian. 
Untuk mengatasi setiap permasalahan yang muncul atau mungkin terjadi dalam proses pembelajaran, guru harus selalu membuat perencanaan terlebih dahulu, baru kemudian pelaksanaan tindakan sebagai implementasi perencanaan tersebut. Pelaksanaan tindakan selalu disertai dengan pengamatan, baik oleh pelaku sendiri maupun oleh observer lain. 

Dalam hal ini, observer yang dimaksud juga boleh siswa, rekan guru, kepala sekolah, atau orang lain. Namun sebaiknya siswa tidak mengamati lengsung pada guru supaya tidak mengganggu proses berpikirnya, tetapi dapat menggunakan angket. Observer dilakukan sebagai upaya pengumpulan data. Observer berperan melihat, mendengar, dan mencatat segala yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung, baik dengan atau tanpa menggunakan alat bantu pengamatan. 

Obsever hendaknya tidak menyalahkan tetapi bersifat mendukung. Observer juga bukan menilai tetapi mencatat fakta yang ada. Setelah pembelajaran selesai dan diperoleh hasil pengamatan lengkap mungkin dilakukan diskusi balikan dengan guru yang melaksanakan tindakan.

Pelaksanaan diskusi tentang data yang diperoleh dari hasil pengamatan maupun dari tes dan angket, akan diseleksi, disederhanakan, diorganisasikan secara sistematik dan rasional serta dengan teknik tri-angulasi untuk akan memperoleh suatu kesimpulan secara mantap. 

Kegiatan tersebut merupakan kegiatan refleksi. Refleksi dilakukan secara bersama –sama  untuk mengetahui hal – hal mana saja yang sudah harus dipertahankan dan hal – hal mana yang masih harus ditingkatkan atau ditinggalkan. Jika kegiatan yang disebut refleksi ini dilakukan dengan benar dengan telah melibatkan semua pihak yang terkait, maka kegiatan pembelajran atau pelaksanaan tindakan kelas akan selalu bermuara pada hasil suatu tindakan yaitu penyusunan perencanaan dan tindakan perbaikan berikutnya.

Pengkajian seperti membuat perencanaan pembelajaran yang berorientasi pada suatu tujuan melaksanakan perencanaan tersebut yang disertai pengamatan guna memperoleh data tentang pelaksanaan pembelajaran, baik tentang kelebihan maupun kelemahannya, hasilnya dianalisis, dan dikaji secara bersama – sama guna pelaksanaan penyusunan perencanaan tindakan perbaikan. Inilah yang disebut dengan satu siklus dalam PTK.

Perbedaan Antara  Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Non PTK
Terdapat beberapa perbedaan antara Penelitian Tindakan Kelas dengan jenis penelitian lainnya, sepertin ditampilkan pada tabel 3 berikut:
Tabel Perbedaan PTK dan NonPTK

Non  PTK
PTK
Dilakukan oleh pihak luar
Dilakukan oleh guru;
Ketat terhadap syarat–syarat formal, seperti ukuran sampel, populasi harus representative
Fleksibel terhadap ukuran sampel dan populasi
Instrumen dikembangkan hingga valid dan reliabel
Tidak dituntut pengembangan Instrumen seperti penelitian jenis lain dengan uji validitas dan reliabilitas
Rumusan masalah hanya satu kalimat tertuju ke hasil
Rumusan masalah terdiri dari lebih dari satu kalimat, tertuju ke proses dilanjutkan ke hasil
Menggunakan analisis statistik yang lebih rumit
Tidak menggunakan analisis Statistik yang rumit
Mensyaratkan hipotesis penelitian
Tidak menggunakan hipotesis penelitian kecuali hipotesis tindakan dapat memperbaiki proses/praktek
Tidak langsung memperbaiki
praktek proses pembelajaran
Pembelajaran secara langsung diperbaiki
Diarahkan pada generalisasi.
Tidak diarahkan pada generalisasi.

Lingkungan Sumber Belajar dan Prestasi Belajar IPS PTK

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
       Mengingat manusia dalam konteks sosial demikian luasnya, maka pada pembelajaran IPS setiap jenjang pendidikan, kita harus melakukan pembatasan sesuai dengan kemampuan siswa pada tingkat masing-masing. Sebagaimanam Nursid (1984: 11) menyatakan bahwa: “Radius ruang lingkup pengajaran IPS di SD dibatasi sampai gejala dan masalah sosial yang dapat dijangkau geografi dan sejarah. Terutama gejala dan masalah sosial kehidupan sehari-hari yang ada pada lingkungan hidup murid SD tersebut”. Menyimak dari pernyataan di atas bahwa ruang lingkup yang dipelajari IPS adalah manusia sebagai anggota masyarakat. 

Oleh karena itu segala gejala dan masalah serta peristiwa tentang kehidupan manusia di masyarakat, dapat dijadikan sumber dan materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS ). IPS adalah bidang pengetahuan yang digali dari kehidupan praktis sehari-hari di masyarakat. Oleh karena itu pengajaran IPS yang tidak bersumber kepada masyarakat, tidak mungkin akan mencapai sasaran dan tujuan pelajaran IPS.

Nursid (1994: 13) selanjutnya mengatakan bahwa: “Pengajaran IPS yang melupakan masyarakat sebagai sumber dan obyeknya, merupakan suatu bidang pengetahuan yang tidak berpijak kepada kenyataan”.



      Terkait dengan penelitian ini, Peneliti tertarik dengan permasalahan-permasalahan yang menyangkut pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, yang dirumuskan dalam judul penelitian. Peneliti yakin apabila guru tidak mengetahui perkembangan anak, maka guru akan menghadapi kesulitan dalam melaksanakan tugasnya, sebab guru telah mengabaikan potensi anak, sedangkan bila guru melupakan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, maka guru akan membina anak didik dalam mimpi-mimpi yang tidak realistis. 

Pengajaran IPS tidak akan mampu membina keterampilan sosial para siswa. Hal ini dikemukakan oleh Jhon Dewey, (dalam Numan,S,dkk,1997:23) mengungkapkan bahwa:

      “Masalah yang utama dalam pengajaran sosial ialah bagaimana menemukan bahwa pelajaran yang dapat memberikan dorongan siswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan yag cocok dengan waktu, kebutuhan serta cita-cita peserta didik, karenanya guru seyogyanya berusaha mencari dan merumuskan stimuli-stimuli yang mampu membina respon murid ke arah terciptanya kecakapan intelektual dan pertumbuhan rasa yang dikehendaki. Untuk itu program pengajaran harus mampu menyajikan masalah lingkungan kehidupan anak”

      Kalau kita perhatikan, banyak sekali sumber daya potensial yang berada di sekolah yang dapat kita jadikan sebagai sumber belajar. Di sekitar sekolah kita terdapat masjid, toko, pasar, kolam, tempat rekreasi, kebun, pabrik, grup seni, dan lain-lainnya. Secara fungsional itu semua dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dalam proses belajar mengajar siswa. “Secara umum, proses belajar mengajar dengan mengaplikasikan lingkungan alam sekitar adalah upaya pengembangan kurikulum dengan mengikutsertakan segala fasilitas yang ada di lingkungan alam sekitar sebagai sumber belajar”.( Lily Barlia. 2002:2 )

      Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar, akan memberikan pengetahuan nyata bagi siswa, juga dimaksudkan untuk menghindari verbalisme, sebab menurut Piaget, anak usia SD pada umumnya yaitu pada taraf anak belajar mengenal sesuatu melalui benda yang nyata terlihat di lingkungan sekitarnya. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dapat mempermudah siswa menyerap bahan pelajaran, lebih mengenal kondisi lingkungannya, menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajarinya, serta akrab dengan lingkungannya. 

Dalam hal ini Lily Barlia (2002: 1) menyatakan bahwa: “Kebiasaan untuk memanfaatkan fasilitas yang tersedia di lingkungan sekitar dalam proses belajar mengajar merupakan wujud proses belajar mengajar dengan pendekatan ekologi”.

      Salah satu tantangan mendasar dalam pengajaran IPS saat ini adalah bagaimana mecari strategi pembelajaran yang inovatif yang memungkinkan meningkatnya mutu proses pembelajaran. Perkembangan dan kemajuan IPTEK membuka kemungkinan siswa tidak hanya belajar di dalam kelas akan tetapi peserta didik dapat belajar di luar kelas. Dengan belajar di luar kelas peserta didik akan lebih leluasa menemukan ide-ide yang diperoleh dari informasi berbagai sumber, melatih siswa utuk memecahkan suatu masalah yang ada di masyarakat. 

Maka dengan demikian siswa bisa secara kritis dan kreatif serta dapat melakukan aktivitas dalam belajar. JJ. Rouseau, (dalam Lily, B 2002: 3) menyatakan bahwa: “Anak-anak sebaiknya belajar langsung dari pengalamannya sendiri, dari pada hanya mengandalkan perolehan informasi dari buku-buku, guru pertamaku adalah kakiku, tanganku dan mataku, karena dengan inderaku itu mengajariku berpikir”.

      Berdasarkan pernyataan di atas, dianggap perlu memperkenalkan, memahami, mengembangkan dan menerapkan model pembelajaran dengan Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar IPS SD dalam rangka meningkatkan prestasi belajar. Oleh karena itu peneliti terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul “ PENINGKATAN PRESTASI SISWA MELALUI PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS SISWA KELAS IV SDN xxxxx”.

1.2 Rumusan Masalah
      Agar lebih jelas permasalahan penelitian ini lebih difokuskan pada pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana upaya guru memanfaatkan media lingkungan sebagai sumber belajar IPS di SD ?

2. Bagaimana guru dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran IPS memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa ?

1.3 Tujuan Penelitian
      Agar penelitian dapat dilakukan sesuai dengan tujuan maka perlu adanya rumusan tujuan yang jelas.Adapun pada penelitian ini bertujuan:
a. Dengan menggunakan sumber lingkungan maka guru dapat meningkatkan proses pembelajaran IPS.

b. Ingin meningkatkan hasil belajar siswa dengan memanfaatkan Lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPS di SD.

1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
a) Sebagai syarat menyelesaikan studi pada Program S.1
b) Mendapat temuan atau gambaran tentang pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPS

2. Bagi guru
a) Dapat mengetahui kelemahan siswa dalam pembelajaran IPS dan mengetahui kelemahan guru dalam mengajar.

b) Memberikan pengalaman sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan pembelajaran IPS.

3. Bagi siswa
a) Dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran IPS.
b) Dapat menciptakan daya nalar siswa untuk berpikir kritis, kreatif dan aktif.

4. Bagi Sekolah
Dapat menerapkan dan melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sumber Belajar
      Peningkatan mutu pendidikan dapat kita lakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan berusaha untuk memahami bagaimana peserta didik belajar dan bagaimana informasi yang diperoleh dapat di proses dalam pikiran mereka sehingga menjadi milik mereka serta bertahan lama dalam pikirannya. 

Dengan kata lain, kita perlu menyadari bahwa peserta didik merupakan sumber daya manusia sebagai aset bangsa sangat berharga. Oleh sebab itu, perlu diupayakan penerapan iklim belajar yang tepat untuk menciptakan lulusan yang benar-benar kreatif, inovatif dan berkeingina untuk maju melalui pemanfaatan sumber belajar untuk mengembangkan potensinya seara utuh dan optimal.

      Sumber belajar sebagaimana di ketahui adalah sarana atau fasilitas pendidikan yang merupakan komponen penting untuk terlaksananya proses belajar mengajar di sekolah. Dalam melaksanakan kegitan belajar mengaja guru sewajarnya memanfaatkan sumber belajar, karena pemanfaatan sumber belajar merupakan hal yang sangat penting dalam konteks belajar mengajar tersebut. 

Di katakan demikian karena memanfaatkan sumber belajar akan dapat membantu dan memberikan kesempatan belajar yang berpartisipa serta dapat memberikan perjalanan belajar yang kongkrit. Kemudian dapat juga memperluas cakrawala dalam kelas, sehingga tujuan yang telah ditentukan dapat di capai dengan efisien dan efektif.

Sumber belajar dapat diartikan sebagai segala hal di luar diri anak didik yang memungkinkannya untuk belajar yang dapat berupa pesan, orang, bahan, alat teknik dan lingkungan. Uraian tersebut dapat di lihat dari defenisi AECT (Association For Educaton Communication Technology) yang menyatakan penegrtian sumber belajar sebagai berikut :Sumber belajar untuk teknologi pendidikan meliputi semua sumber (data, orang, barang) yang dapat digunakan oleh peserta didik baik secara tepisah maupun dalam bentuk gabungan, biasanya dalam situasi informal, untuk memberikan fasilitas belajar”

      Kenyataan yang kita hadapi selama di sekolah adalah siswa hanya menerima pelajaran yang diberikan oleh guru. Dan selama proses belajar megajar berlngsung keaktifan siswa sangat kurang sekali. Hal ini menggambarkan belajar secara tradisional dimana siswa hanya mendengar penjelasan dari guru sebagai satu-satunya sumber. 

Sedangkan kita ketahui kemampuan guru terbatas baik dari segi keterampilan maupun dari pengetahuan. Walaupun di gunakan juga sumber lain seperti buku teks, namun sumber belajar tidak terbatas pada buku saja masih banyak sumber belajar lain yang dapat membantu dalam proses belajar mengajar.

      Dalam penggunaan sumber belajar tersebut oleh siswa harus di arahkan oleh guru. Jadi guru bukan hanya satu-satunya sumber belajar melainkan ada sumber lain yang serta bermanfaat bagi perluasan pemahaman dan pengalaman siswa. Sumber belajar yang lain tersebut sebenarnya banyak tedapat di sekeliling kita sungguhpun itu tidak harus memakai peralatan yang mahal. Bahan-bahan sederhanapun bisa di jadikan sumber belajar yang berharga.

      Belajar dengan mengutamakan sumber belajar adalah sistem belajar yang berorientasi kepada siswa yang di atur sangat rapi untuk belajar individual atau kelompok. Kegiatan belajar di lakukan dengan menggunakan sumber belajar baik manusia maupun bahan belajar non manusia dalam situasi belajar yang di atur secara efektif.

      Fenomena yang kita lihat sekarang ini, sumber-sumber belajar yang tesedia di lingkungan kita masih kurang di manfaatkan sehingga pelaksanaan proses belajar mengajar juga kurang optimal yang lebih jauh mengakibatkan mutu pendidikan yang kita harapkan belum lagi tecapai. Beranjak dari hal inilah Peneliti tertarik untuk membahas tentang “Pemafaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar”. Lebih lanjut dalam penelitian ini .

Belajar mengajar sebagai suatu proses merupakan suatu sistem yang tidak terlepas dari komponen-komponen lain yang saling berintegrasi di dalamnya. Salah satu komponen dalam proses tersebut adalah sumber belajar. Sadiman (1989) menyatakan bahwa “segala macam sumber yang ada di luar diri seseorang (peserta didik) dan yang memungkinkan atau memudahkan tejadinya proses belajar”.

      Menurut pengertian ini, dapat diambil kesimpulan bahwa sumber belajar itu adalah semua sumber. Jadi, dari pegertian ini sumber itu dapat berupa manusia maupun non manusia atau juga sumber belajar yang di rancang maupun yang dimanfaatkan.

      Menurut Fercipal dan Elinghton (1988:124) memberikan batasan bahwa sumber belajar adalah “Satu set bahan atau situasi belajar yang dengan sengaja diciptakan agar siswa secara individual dapat belajar”.

      Dari kutipan ini dikatakan bahwa sumber belajar itu satu set bahan atau situasi belajar yang sengaja diciptakan, jadi sumber belajar itu hanya yang di rancang saja dan bisa menunjang terjadinya proses belajar

      Dalam pengertian sempit sumber belajar dapat diartikan seperti seperti buku- buku atau bahan tercetak lainnya. Pengertian itu dapat di pakai dewasa ini sebagian guru hal ini dapat kita lihat dalam program pengajaran yang di susun oleh para guru, biasanya terdapat komponen sumber belajar pada umumya di isi dengan buku tek atau buku wajib yang di anjurkan. 

Namun dalam pengertian yang lebih luas tantang sumber belajar dapat di berikan Edgar Dale yang dikutip, yang dikutip oleh Rohani (1990:153) yang mengatakan bahwa “ sumber belajar itu adalah pengalaman”. Sumber belajar dalam pengertian tersebut menjadi sangat luas maknanya seluas hidup itu sendiri karena segala sesuatu yang di alami di anggap sebagai sumber belajar sepanjang hal itu membawa pengalaman yang menyebabkan belajar. 

Sebagaimana kita ketahui belajar pada hakikatnya adalah proses perubahan tingkah laku ke arah yang lebih sempurna sesuai dengan tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelumnya.

2.2 Syarat dan Manfaat Sumber Belajar
      Pada dasarnya sumber belajar yang di pakai dalam pendidikan adalah suatu sistem yang terdiri dari sekumpulan bahan atau situasi yang diciptakan dengan sengaja dan di buat agar memungkinkan siswa belajar secara individual. 

Untuk menjamin bahwa sumber belajar tersebut adalah sumber belajar yang cocok, gambar tersebut harus memenuhi persyaratan, Fred Percipal (1998) ada Tiga Persyaratan Sumber Belajar yaitu sebagai berikut:
1. Harus tersedia dengan cepat
2. Harus memungkinkan siswa untuk memacu diri sendiri
3. Harus bersifat individual misalnya harus dapat memenuhi berbagai kebutuhan para siswa dalam belajar mandiri.

      Berdasarkan pada persyaratan tersebut maka sebuah sumber belajar harus berorientasi pada siswa secara individu, berbeda dengan sumber belajar tradisional yang dibuat berdasarkan pada pendekatan yang berorientas pada guru atau lembaga pendidikan

      Dalam kegiatan instruksional ada banyak sumber dan daya yang dapat kita manfaatan baik yang tedapat di ruang maupun yang banyak tedapat di sekitar kita, dan semuanya bermanfaat untuk meningkatkan cakrawala berfikir siswa dalam rangka peningkatan hasil belajar. 

Berikut ini ada beberapa manfaat sumber belajar menurut P&K (1983:7) yaitu :
1. Sumber belajar dapat memberikan perjalanan belajar yang kongkrit dan langsung kepada pelajarnya. Seperti kegiatan darma wisata ke pabrik, pusat tenaga lstrik, pelabuhan dan sebagainya.

2. Sumber belajar menyajikan sesuatu yang tidak mungkin di adakan atau di kunjungi dan di lihat secara langsung oleh siswa. Contohnya seperti penggunaan peta, denah, foto dan sebagainya.

3. Sumber belajar dapat menambah dan memperluas cakrawala sajian yang ada di dalam kelas, misalnya buku, foto-foto dan nara sumber

4. Sumber belajar dapat memberikan informasi yang akurat dan terbaru, misalnya penggunaan buku teks, majalah, dan orang sumber informasi

5. Sumber belajar dapat memecahkan masalah pendidikan atau pengajaran baik dalam lingkup mikro maupun makro

6. Sumber belajar dapat memberikan motivasi yang positif, lebih-lebih jika di atur dan direncanakan pemanfaatannya dengan tepat.

7. Sumber belajar dapat merangsang untuk berfikir, bersikap dan berkembang lebih lanjut.

      Berdasarkan ke tujuh poin di atas maka dapat kita lihat besarnya manfaat sumber belajar dalam proses pembelajaran, dan menggunakan sistem pendekatannya berorientasi pada siswa sehingga betul-betul menekankan pada perkembangan pola pikir siswa

2.3 Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
      Kegiatan belajar mengajar bukanlah berproses pada kehampaan tetapi berproses pada kemaknaan. Di dalamnya ada sejumlah nilai yang di sampaikan kepada anak didik, nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya tetapi terampil dari berbagai sumber guna di pakai dalam proses belajar mengajar, jadi dari berbagai sumberlah pengajaran itu di ambil dan salah satunya dari lingkungan

      Lingkungan yaitu situasi yang tersedia di mana pesan itu di terima oleh siswa. Lingkungan terdiri atas lingkungan fisik dan non fisik. Lingkungan fisik seperti gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, studio, auditorium, taman dan lain-lain. Lingkungan non fisik seperti penerangan sirkulasi udara dan lain-lain.

      Selanjutnya lingkungan yang di sebut sebagai sumber belajar adalah tempat atau ruangan yang dapat mempengaruhi siswa. Tempat dan ruangan tersebut ada yang di rancang (by Design) khusus untuk tujuan pengajaran, misalnya gedung sekolah ruang perpustakaan dan laboratorium, studio dan sebagainya. selain itu ada juga tempat atau ruangan yang bukan di rancang secara khusus atau hanya dimanfaatkan sebagai sumber belajar untuk tujuan pengajaran, seperti gedung dan peninggalan sejarah, bangunan industri lingkungan pertanian, museum, pasar, tempat rekreasi dan lain-lain.

      Menurut Semiawan (1990: 96) ada empat sumber belajar yang berkenaan langsung dengan lingkungan sebagai berikut:

a. Masyarakat kota atau desa sekeliling sekolah
b. Lingkungan fisik di sekitar sekolah
c. Bahan sisa yang tidak terpakai dan barang bekas yang terbuang yang dapat menimbulkan pemahaman lingkungan
d. Peristiwa alam dan peristiwa yang terjadi di manfaatkan cukup menarik perhatian siswa.

Ada peristiwa yang tidak mungkin atau tidak dapat dipastikan akan terulang kembali. Jangan lewatkan peristiwa itu tanpa adanya catatan pada buku atau alam pikiran siswa.

      Berdasarkan kutipan di atas maka dapat kita lihat bahwa di sekitar sekolah terdapat berbagai macam sumber belajar yang dapat di manfaatkan oleh guru dan siswa dalam proses belajar engajar. Dengan demikian siswa akan lebih mengenal lingkungannya, pengetahuan siswa akan lebih autentif, sifat verbalisme pada siswa dapat dikurangi serta siswa akan lebih aktif dan lebih banyak berlatih.

2.4 Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
      Sumber belajar akan dapat digunakan bila sumber belajar itu tersedia sebelum proses belajar mengajar berlangsung. Penggunaan sumber belajar merupakan komponen yang sangat penting dalam proses belajar mengajar, karena tanpa menggunakan sumber belajar maka pesan yang tersimpan dalam materi suatu pelajaran tidak akan di terima oleh siswa. Semakin banyak sumber belajar yang digunakan semakin banyak pula keterlibatan indera siswa dalam penerimaan pesan tersebut dan akan semakin banyak kesan dan pengalaman yang di serap oleh siswa.

      Secara teoritis pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar mempunyai berbagai arti penting diantaranya lingkungan mudah di jangkau, biayanya relatif murah, objek permasalahan dalam lingkungan beraneka ragam dan menarik serta tidak pernah habis.

      Sehubungan dengan pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar ini, Nasution (1985:125) menyatakan bahwa pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : dengan cara membawa sumber-sumber dari masyarakat ke atau lingkungan ke dalam kelas dan dengan cara membawa siswa ke lingkungan. Tentunya masing-masing cara tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan, metoda, teknik dan bahan tertentu yang sesuai dengan tujuan pengajaran.

      Lebih lanjut Nasution (1982:134) menjelaskan ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam rangka membawa siswa ke dalam lingkungan itu sendiri yaitu metode Karya wisata, service proyek, school camping, surfer dan interviu. Lewat karyawisata umpamanya, siswa akan memperoleh pengalaman secara langsung, membangkitkan dan memperkuat belajar siswa, mengatasi kebosanan siswa balajar dalam kelas serta menanamkan kesadaran siswa tentang lingkungan dan mempunyai hubungan yang lebih luas dengan lingkungan.

Namun metode karya wisata ini memiliki kelemahan yang berbeda yang berkaitan dengan waktu dan follow upkarya wisata ini perlu diperhatikan secara cermat. Demikian juga dengan metode lain yang membawa siswa ke luar kelas, metode yang di pilih memerlukan rencana yang lebih cermat dan matang serta harus berpedoman kepada tujuan pengajaran yang hendak di capai. 

Cara yang kedua yaitu dengan cara membawa sumber dan lingkungan luar ke dalam kelas, hal tersebut dapat dilakukan dengan membawa resourses person, hasil, contoh dan koleksi tertentu ke dalam kelas.

      Kedua cara yang telah dijelaskan di atas sebenarnya saling berkaitan satu dengan yang lainnya karena keduanya dapat dikombinasikan. Misalnya melalui karya wisata siswa mempunyai kesempatan untuk mengumpulkan berbagai benda sehingga koleksi benda tersebut dapat memperkaya khasanah laboratorium di sekolah dan sewaktu-waktu benda-benda tersebut dapat digunakan sebagai media sekaligus sebagai sumber belajar.

2.5 Faktor Yang Mempengaruhi Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
      Urgensi pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar seperti yang telah dijelaskan terdahulu sebenarnya sudah lama disadari oleh pendidik, namun kesadaran itu tidaklah berarti bahwa lingkungan sudah dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber belajar di sekolah dalam menunjang kegiatan belajar mengajar itu sendiri. 

Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mempengaruhi lingkungan sebagai sumber belajar, mungkin dari segi guru, faktor dana, lembaga dan sebagainya. Sehubungan dengan hal ini Hanafi (1986: 23) menyatakan:Pemanfaatan sumber belajar tergantung pada kreatifitas guru, kemampuan guru, waktu yang tersedia, dana yang tersedia, serta kebijakan-kebijakan lainnya.

      Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa dalam pemanfaatan sumber belajar termasuk lingkungan oleh siswa sangat tergantung pada bimbingan dan arahan dari guru. Berarti di sini guru berfungsi sebagai fasilitator, komunikator, motivator dan manager. Fungsi guru seperti inilah yang sangat diharapkan untuk mencapai tujuan pendidikan.

      Guru memang sudah tahu dan mengenal dengan baik jenis-jenis sumber belajar yang harus digunakan. Itu saja belum cukup karena disini dibutuhkan lagi kemauan dan kreatifitas guru-guru tadi untuk menyediakan dan mencari pengetahuan tentang cara memanfaatkan sumber belajar tersebut secara efektif dan efisien.

      Guru sebagai salah satu komponen penting dalam pendidikan seyogyanya harus mengerti dan cakap dalam mencari dan memakai sumber belajar yang ada mampu berperan sebagai komunikator, fasilitator, dan motivator dalam menumbuhkan kreatifitas siswa untuk memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Pihak sekolah juga harus memperhatikan kebutuhan akan sumber belajar dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan agar dapat menghasilkan keluaran yang berkualitas.

      Untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar diperlukan adanya kerjasama yang baik antara pihak sekolah, masyarakat serta lembaga terkait lainnya.