KAMPUS UTAMA STIQ AN-NUR LEMPUING OKI

Kampus utama STIQ AN-NUR lEMPUING OKI di Jalan Lintas Timur Desa Tebing Suluh Kecamatan Lempuing Kabuupaten OKI Sumatera Selatan

DIRJEN PENDIS DAN KETUA STIQ AN-NUR LEMPUING OKI

Pertemuan Ketua STIQ AN-NUR LEMPUING OKI dan dirjen Pendis Di Jakarta.

DIRJEN PENDIS DAN KETUA STIQ AN-NUR lEMPUING OKI

Serah Terima SK Operasional STIQ AN-NUR LEMPUING OKI dari Dirjen Diktis Ke Ketua STIQ AN-NUR lEMPUING OKI di Jakarta.

PIMPINAN STIQ AN-NUR LEMPUING OKI

Sebelah Kiri Ketua, Pembantu Ketua I, Pembantu Ketua II dan Pembantu Ketua III.

PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Penerimaan Mahasiswa Baru STIQ AN-Nur Lempuing OKI Tahun Akademik 2016/2017.

Showing posts with label tips dan trik pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label tips dan trik pembelajaran. Show all posts

Tips membimbing Diskusi Kelompok Kecil

Memusatkan Perhatian
Hal yang dapat dilakukan untuk memusatkan perhatian yaitu merumuskan tujuan pada awal diskusi, disertai dengan pengenalan topik atau masalah, menyatakan dengan tegas masalah-masalah khusus yang sedang dibahas dan menyatakan kembali apabila terjadi penyimpangan, menandai terjadinya perubahan yang tidak relevan yang dapat membawa diskusi ke arah menyimpang, membuat rangkiman tentang pembahasan yang disepakati pada tahap-tahap tertentu.

Memperjelas masalah Atau uraian pendapat
hal ini dapat dilakukan dengan cara menguraikan atau merangkum gagasan yang dikemukakan sehingga menjadi lebih jelas, meminta komentar siswa tentang gagasan yang diajukan dengan mengajukan pertanyaan, dan memberi informasi tambahan dan/atau contoh yang dapet memperjelas gagasan yang diajukan.


Menganalisis Pandangan
dapat dilakukan dengan cara menganalisis pandangan siswa, dengan cara meminta siswa memberi alasan dan dasar pandangan yang diajukannya dan memperjelas atau menguraikan inti gagasan siswa tentang hal-hal yang sudah disepakati dan yang belum disepakati.

Meningkatkan Urutan
Cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci yang mampu menantang siswa untuk berpikir, memberikan contoh-contoh pada saat yang tepat, mengajukan pertanyaan mengundang banyak pendapat atau jawaban, memberi waktu yang cukup untuk berpikir tanpa diganggu oleh komentar-komentar yang dapat mengurangi konsentrasi siswa, dan memberikan dukungan terhadap uraian yang dikemukakan siswa.


Menyebarkan kesempatan Berpartisipasi
Hal ini dapat dilakukan dengan cara memancing urunan siswa yang enggan berpartisipasi dengan cara memberikan pertanyaan secara halus kepada siswa tersebut, mencegah terjadinya pembicaraan serentak dengan cara memberi giliran lebih dahulu kepada siswa yang jarang bicara, mencegah secara bijaksana terjadinya monopoli oleh siswa tertentu, mendorong terjadinya interaksi antar siswa dengan cara meminta siswa mengomentari pendapat temannya, dan meminta persetujuan siswa untuk melanjutkan diskusi bertitik tolak dari salah satu pendapat jika diskusi menemui jalan buntu atau mengambil jalan tengah.



Menutup Diskusi
Hal yang dilakukan adalah dengan membuat rangkuman, mengemukakan tindak lanjut, dan menilai proses dan hasil diskusi.

Tips menutup pelajaran yang baik

Kegiatan menutup pelajaran dilakukan pada setiap akhir penggal kegiatan. Agar kegiatan menutup pelajaran dapat berlangsung efektif guru diharapkan mamu menguasai cara menutup pelajaran. berikut beberapa tips untuk menutup pelajaran.



Meninjau kembali (mereviu). untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap inti pelajaran, pada setiap akhir penggal kegiatan guru hendaknya melakukan peninjauan kembali tentang penguasaan siswa dengan cara melakukan 2 cara sebagai berikut :

Merangkum inti pembelajaran. kegiatan ini pada dasarnya berlangsung selama proses pembelajaran. Misalnya ketika selesai menjelaskan satu topik guru meminta siswa merangkum topik yang telah dibahas. Rangkuman dapat juga dibuat oleh guru atau siswa dengan bimbingan guru.

Membuat ringkasan. kegitan ini merupakan satu cara untuk memantapkan penguasaan siswa terhadap inti pelajaran. Ringkasan dapat dimanfaatkan oleh siswa sebagai catatan ringkas yang dapat dipelajari kembali, baik oleh siswa yang memiliki buku sumber maupun oleh yang tidak memilikinya. sebagimana halnya dengan rangkuman ringkasan dapat dibuat oleh siswa (misalnya setelah membaca sub bab dari buku yang diwajibkan guru meminta siswa menyebutkan inti materi buku yang dibaca dan guru menuliskannya di papan tulis).

Menilai (mengevaluasi). penggal kegiatan atau akhir satu pelajaran dapat ditutup dengan menilai penguasaan siswa tentang pelajaran yang telah dibahas. Penilaian ddapat dilakukan dengan cara: Tanya jawab secara lisan, mendemonstrasikan ketrampilan, mengaplikasikan ide baru, menyatakan pendapat tentang masalah yang dibahas atau dengan memberikan soal-soal tertulis yang dikerjakan oleh siswa secara tertulis pula.

Memberi Tindak lanjut. agar siswa dapat memantapkan / mengembangkan kemampuan yang baru dielajari, guru perlu memberikan tindak lanjut, yang dapat berupa : Tugas-tugas yang dapat dikerjakan secara individual (PR) atau tugas kelompok untuk merancang sesuatu atau memcahkan masalah berdasarkan konsep yang baru dipelajari. dappat juga menambahkan cara-cara lain sesuai dengan pengalaman guru.

Tips Membuka Pelajaran Menyenangkan

Sebelum melakukan pembelajaran di awal seorang guru akan melaksankan kegiatan untuk membuka pelajaran. ada beberapa ketrampilan yang harus dikuasai oleh seorang guru dalam membuka pelajaran. kali ini saya akan share tentang tips untuk membuka peljaran agar menyenangkan.


Pertama Tarik perhatian siswa. hal yang bisa dilakukan yaitu menvarriasikan gaya mengajar guru misal dengan menvariasikan suara dari rendah ke tinggi atau dengan mengubah temppat duduk dari depan ke tengah bisa juga dengan gerak dan mimik muka, menggunakan alat bantu mengajar yang dapat menarik perhatian siswa, penggunaan pola interaksi yang bervariasi misal pemberian tugas singkat yang harus dikerjakan secara indiviidu.

Kedua tumbuhkan/timbulkan motivasi siswa. hal hal yang dapat dilakukan dalam menimbulkan motivasi siswa yaitu dengan bersikap hangat dan antusias, membangkitkan rasa ingin tahu siswa, mengemukakan ide yang bertentangan, memperhatikan minat siswa dan lain sebagainya.

Ketiga beri acuan. hal ini bertujuan untuk memberikan gambaran singkat kepada siswa tentang berbagai topik atau kgiatan yang akan dipelajari siswa dalam pelajaran tersebut. caranya dengan mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas, menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan, mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Keempat  buat kaitan. salah satu aspek yang membuat pelajaran jadi bermakna adalah jika pelajaran tersebut dikaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. cara untuk membuat kaitan dengan meninjau kembali pemahaman siswa tentang aspek-aspek yang telah diketahui dari materi baru yang akan dijelaskan, memberi kaitan materi baru dengan materi yang sudah diketahui siswa atau apabaila konsep yang akan dijelaskan sama sekali baru maka garis besar konsep ini dijelaskan terlebih dahulu. 

Demikian sedikit pengetahuan penulis yang dapat saya sampaikan bukan bermaksud menggurui tetapi pada kenyataanya jarang sekali guru yang mengerti akan hal ini atau mengerti tetapi tidak melaksanakannya dalam pembelajaran.

Cara Melaksanakan Tindak Lanjut Pembelajaran

Setelah dilaksanakan kegiatan pra pembelajaran, kegiatan awal pembelajaran, kegiatan inti pembelajaran, dan kegiatan akhir pembelajaran maka selanjutnya adalah mengadakan kegiatan tindak lanjut. Untuk mengoptimalkan penguasaan siswa terhadap kemampuan yang diharpkan dimiliki siswa ada beberapa hal yang dapat dilakukan guru.


Pertama memberikan tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah. berdasarkan hasil evaluasi diakhir pembelajaran guru dapat memberikan tugas atau latihan kepada siswa, baik untuk meningkatkan maupun untuk memantapkan penguasaan siswa terhadap kompetensi yang diharapkan. hal yang diperhatikan dalam memberikan tugas yaitu guru hendaknya menentukan dan menjelaskan secara singkat tentang topik tugas yang dikerjakan siswa, guru perlu menjelaskan tahapan-tahapan tugas yang harus dikerjakan lembaran tugas, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang tugas yang belum dipahami, guru menjelaskan tentang proses penyelesaian tugas, siswa di minta untuk menyerahkan tugas sesuai dengan kriteria, dan guru harus memeriksa dan membahas setiap tugas yang diberikan.

Kedua, Membahas kembali bahan pelajaran yang belum dikuasai oleh siswa. untuk membahas materi yang belum dikuasai siswa guru harus memperhatikan, waktu yang digunakan masih ada tidak untuk waktu itu juga, membahas pada waktu berikutnya, jika membutuhkan waktu relatif lama.

Ketiga, Membaca materi pelajaran tertentu. memberikan tugas kepada siswa untuk membaca buku sumber pelajaran lain yang membahas topik yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. kegiatan membaca ini dapat ditugaskan kepada siswa yang belum menguasai maupun yang sudah menguasai kompetensi yang ditetapkan.

Keempat Memberikan motivasi atau bimbingan belajar. Memberikan balikan terhadap pekerjaan siswa merupakan kegiatan yang harus dilakukan guru. disamping memberikan balikan guru juga hendaknya memberikan bimbingan kepada siswa agar mereka mampu meperbaiki kekurangannya.

Kelima, Mengemukakan tentang topik yang akan di bahas pada waktu yang akan datang. apabila dari hasil penilaian diketahui bahwa siswa sudah menguasai kemampuan yang telah ditetapkan, kegiatan tindak lanjut yang dapat dilakukan adalah mengemukakan atau memberikan gambaran kepada siswa tentang topik bahasan atau komptensi yang akan dieplajari pada pertemuan yang akan datang.

Cara Melaksanakan Kegiatan Akhir Pembelajaran yang Baik

Setelah kegiatan pra pembelajaran, awal pembelajaran, dan kegiatan inti pembelajaran selanjutnya adalah melaksanakan kegiatan akhir pembelajaran. kegiatan akhir pembelajaran tidak hanya diartikan untuk menutup pelajaran. yang lebih penting adalah untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap kompetensi yang diharapkan. Dengan melakukan kegiatan akhir pemblejaran guru akan mengetahui kompetensi yang sudah dan yang belum dikuasai siswa. kegiatan yang biasa dilakukan guru dalam kegiatan akhir ini adalah memberikan tes baik tertulis maupun lisan.


Selain hal diatas guru hendaknya melakukan kegiatan akhir pembelajaran agar siswa memperoleh gambaran yang utuh tentang pokok-pokok materi yang sudah dipelajari. kegiatan tersebut berupa kegiatan meninjau kembali penguasaan siswa.

hal yang perlu dilakukan dalam kegiatan akhir minimal adalah :

Pertama meninjau kembali penguasaan siswa. Untuk meninjau kembali penguasaan siswa terhadap materi yang telah dipelajari, guru dapat melakukan dua cara yaitu merangkum (menyimpulkan) pokok materi atau membuat ringkasan materi pelajaran. Kegiatan merangkum dan membuat ringkasan sebaiknya dilakukan oleh siswa di bawah bimbingan guru sehingga pada saat membuat rangkuman atau kesimpulan atau ringkasan itu salah atau kurang sempurna guru dapat membenarkannya. rangkuman atau ringkasan hendaknya memperhatikan :

Beorientasi pada acuan hasil belajar dan kompetensi dasar, singkat, jelas dan bahasa (tulis/lisan) mudah dipahami, kesimpulan/rangkuman/ringkasan tidak keluar dari topik yang telah dibahas, dan dapat menggunakan waktu sesingkat mungkin.

Kedua melaksanakan penilaian. Kegiatan penilaian dalam proses pembelajaran merupakan kegiatan mutlak yang harus dilaksanakan oleh guru dalam pembelajaran. Melalui kegiatan penilaian akhr guru akan mengetahui tercapai tidaknya kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa. Oleh karena itu guru perlu memiliki kemampuan dalam meniali hasil belajar siswa. Untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap kompetensi yang diharapkan, guru dapat memberikan tes atau meminta siswa untuk membuat kesimpulan dari materi yang dibahas.



waktu yang tersedia untuk kegiatan akhir dan tindak lanjut relatif singkat, maka guru perlu mengidentifikasi kegiatan teknik yang dianggap tepat untuk menilai penguasaan siswa. dalam prosesnya guru dapat melakasanakan secara lisan maupun tertulis. Apabila waktu yang dimiliki tidak banyak, guru dapat menunjuk beberapa siswa yang dianggap representatif (mewakili) seluruh siswa untuk menjawab pertanyaan secara lisan atau membuat kesimpulan. Atau apabia waktunya cukup banyak dan memadai guru dapat melakukan penilaian secara tertulis.

Teknik Pembelajaran Perseorangan

Kegiatan pembelajaran perseorangan dapat membantu proses pembelajaran yang mengarah pada optimalisasi kemampuan siswa secara individu. dengan menerapkan pembelajaran perseorangan siswa dapat belajar secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Pembelajaran perseorangan pada umumnya banyak diterapkan dalam pemberian tugas dan atau latihan. dalam pelaksanaannya setelah menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberika pengarahan tentang tahapan dan teknik belajar yang harus ditempuh oleh siswa (kegiatan awal pembelajaran), setelah diadakan kegiatan pra pembelajaran, langkah selanjutnya (kegiatan inti pembelajaran) yang dilakukan guru adalah sebagai berikut.

Pertama menjelaskan secara singkat tentang materi pelajaran yang akan ditugaskan atau yang akan dilatihkan pada siswa.

Kedua, memberikan lembaran kerja atau tugas. pada tahap ini, guru memberikan bimbingan atau arahan/petunjuk yang sistematis secara lisan dan tertulis. selain itu, guru juga hendaknya memberikan stimulus atau dorongan supaya siswa dapat melakukan interaksi dan asosiasi, sehingga tugas sehingga tugas atau latihan tersebut dapat dilakukan secara optimal.

Ketiga, Memantau dan menilai kegiatan siswa. Pada kesempatan ini guru berkeliling memantau kegiatan yang dilakukan siswa, dan memberikan bantuan atau bimbingan, apabila ada siswa yang mengalami kesluitan dalam mengerjakan tugas atau latihan.

Pada akhir kegiatan pembelajaran guru memeriksa dan menilai tugas atau latihan yang telah dikerjakan oleh siswa serta memberikan belikan terhadap pekerjaan siswa. guru juga dapat membuat kesimpulan bersama-sama siswa tentang materi pelajaran yang telah ditugaskan.

Selama pembelajaran berlangsung, guru hendaknya banyak memberikan penguatan terhadap kegiatan dan hasil yang dicapai siswa. Dengan memberikan penguatan, perhatian siswa terhadap pelajaran akan meningkat. Selain itu, melalui penguatan guru dapat membangkitkan dan memlihara motivasi belajar siswa, dapat mengontrol, dan memodifikasi tingkah laku siswa yang kurang baik, serta dapat mendorong munculnya tingkah laku yang produktif. 

Cara Pembahasan Materi Pembelajaran Kelompok

Metode yang sering digunakan dalam pembelajaran kelompok diantaranya adalah metode diskusi. Metode ini membina siswa untuk belajar secara sistematis berdasarkan pada prosedur yang harus ditempuh. Dalam pelaksanaannya metode ini perlu ditunjang oleh metode lain seperti ceramah dan tanya jawab.

Dalam kegiatan inti untuk pembahasan materi pembelajaran siswa langkah-langkahnya adalah :

Pertama merumuskan masalah berdasarkan topik pembahasan dn tujuan pembelajaran. Perumusan masalah harus dilakukan oleh siswa dibawah bimbingan guru.

Kedua, mengidentifikasi masalah atau sub masalah berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan.

Ketiga analisis masalah berdasarkan sub masalah. Dalam tahap ini siswa dikondisikan secara indiviidu dalam kelompok untuk menjawab pertanyaan atau persoalan-persoalan sampai mencapai satu kesepakatan untuk menjawab persoalan kelompok.

Keempat menyusun laporan oleh masing-masing kelompok.

Kelima presentasi kelompok atau melaporkan hasil diskusi kelompok kecil pada seluruh kelompok dilanjutkan diskusi kelas yang langsung dibimbing oleh guru. Dalam tahapan ini sekaligus melaksanakan penguatan  pemahaman konsep dan prinsip yang diperoleh dari diskusi.

Pada akhir kegiatan siswa di bawah bimbingan guru menyimpulkan hasil diskusi berdasarkan rumusan masalah dan sub masalah.

Selama kegiatan kelompom berlangsung guru hendaknya memonitor jalannya kegiatan di masing-masing kelompok dan memberikan bimbingan atau bantuan apabila kelompok mengalami hambatan dan kesulitan dalam mengerjakan tugas kelompok.

di samping itu guru juga perlu memberikan motivasi dan perhatian supaya pembelajaran tersebut terlaksana secara optimal. dengan perhatian dan bimbingan guru, siswa akan dapat melakukan kegiatan kelompok secara efektif dan efesien.

trik menjalankan Kegiatan inti Pembelajaran klasikal

Setelah melaksanakan kegiatan pra pembelajaran dan kegiatan awal pembelajaran tahapan selanjutnya adalah melaksanakan kegiatan inti pembelajaran klasikal. cara melaksanakan kegiatan ini yang baik adalah :

Pertama, menyajikan (presentasi) bahan pelajaran dengan ceramah bervarasi. penjelasan guru tentang materi pelajaran harus dapat disimak oleh seluruh siswa dalam kelas. Selama menjelaskan guru hendaknya tidak terus menerus berbicara tetapi selang beberapa menit selalu memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya atau guru sendiri mengajukan pertanyaan kepada siswa. Setelah merasa yakin siswa memahami materi yang dijelaskan, guru melanjutkan kembali ke materri berikutnya.


Kedua, melakukan asoiasi dan memberikan ilustrasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahan pelajaran dengan cara menghubungkan atau mengaitkan materi yang sedang dipelajari dengan situasi nyata atau dengan bahan pelajaran yang lain atau dengan bahan pelajaran yang menggambarkan sebab akibat. Melalui kegiatan ini diharapkan pemahaman siswa terhadapp materi pelajaran akan semakin meningkat.

Pada akhir pembelajaran klasikal, guru dapat meminta siswa untuk melakukan kegiatan : Aplikasi bahan pelajaran yang telah dipelajari dengan cara tertulis atau lisan. kegiatan yang dapat dilakukan diantarnya siswa diminta untuk mengerjakan soal-soal atau menjawab pertanyaan selanjutnya menyimpulkan bahan pelajaran yang telah dipelajari. kesimpulan sebaiknya dibuat siswa dibawah bimbingan guru.

Cara Melaksanakan Awal Pembelajaran

Kegiatan awal pembelajaran dilakukan untuk menyiapkan mental siswa dalam memasuki kegiatan inti pembelajaran. kegiatan ini dilakukan setelah diadakan kegiatan pra pembelajaran seperti yang pernah saya share sebelumnya. selain itu, kegiatan awal dilakukan untuk membangkitkan motivasi dan perhatian siswa dalam mengikuti pembelajaran, memberikan gambaran yang jelas tentang batas-batas tugas atau kegiatan yang akan dilaksanakan, dan menunjukkan hubungan antara pengalaman anak dengan materi yang akan dipelajari.


cara melaksanakan kegiatan awal atau pendahuluan pembelajaran yang baik yaitu dengan :

Menimbulkan motivasi dan perhatian siswa. agar pikiran siswa dapat fokus pada materi yang akan disampaikan maka guru perlu melakukan kegiatan yang dapat menarik perhatian siswa misalnya dengan menyampaikan cerita yang menimbulkan pertanyaan, menunjukkan gambar atau alat peraga. pengajuan pertanyaan atau alat peraga yang menarik perhatian siswa dapat menimbulkan motivasi belajar siswa

Memberi acuan. yaiu dengan memberitahukan tujuan (kemampuan) yang diharapkan atau garis besar materi yang akan dipelajari, menyampaikan alternatif kegiatan belajar yang akan di tempuh siswa. disamping menyampaikan informasi tentang kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran berlangsung guru juga hendaknya menyampaikan informasi tentang sumber-sumber belajar yang mendukung dan dapat digunakan siswa.

Membuat kaitan. dengan cara mengajukan pertanyaan tentang bahan atau materi yang sudah dielajari sebelumnya, menunjukan materi yang akan dipelajari, meminta siswa mengemukakan pengalaman yang berkaitan dengan materi yang dibahas.

Melaksanakan tes awal hal ini digunakan untuk memperoleh informasi untuk menentukan dari mana pembahasan materi baru akan di mulai. tes awal dapat dilakukan dengan cara lisan yang ditujukan pada beberapa siswa yang dianggap representatif (mewakili) seluruh siswa.

Dalam melaksanakan kegiatan awal pembelajaran guru hendaknya, memahami latar belakang (termasuk kemampuan) siswa, dapat membangkitkan (menarik) perhatian siswa sehingga perhatian siswa terpusat pada pelajaran yang akan diikutinya, dapat memberikan bimbingan belajar secara kelompok maupun individu, dapat menciptakan interaksi edukatif yang efektif sehingga siswa merasakan adanya suasana belajar yang aman dan menyenangkan, memberikan penguatan pada siswa, dan menanamkan sikap disiplin pada siswa

jika seorang guru dapat melaksanakan kegiatan pra pembelajaran dan kegiatan awal pembelajaran dengan baik maka kegaiatan inti juga akan berjalan dengan baik, tetapi juga sebaliknya. 

Baca Juga :
Kegiatan pra pembelajaran yang baik
Kegiatan Inti pembelajaran

Cara Kegiatan pra Pembelajaran yang baik

Pra pembelajaran dan kegiatan pendahuluan atau kegiatan awal berbeda. kegiatan ini merupakan kegiatan pendahuluan sebelum belajar di mulai yang diarahkan untuk menyiapkan siswa mengikuti pelajaran. Kegiatan prapembelajaran bersifat umum dan tidak ada kaitan langsung dengan kompetensi atau materi yang akan di bahas dalam kegiatan inti pembelajaran.


Cara melaksanakan kegiataan pra pembelajaran yang baik yaitu :

menciptakan suasana kelas yang menarik. Kondisi belajar dapat dipengaruhi oleh sikap guru di depan kelas. Guru harus memperlihatkan sikap yang menyenangkan supaya siswa tidak mersa tegang, kaku, bahkan takut mengikuti pelajaran. selain itu kelas juga harus dipersiapkan dan di tata alat-fasilitas yang memudahkan siswa beraktivitas belajar dalam kelas.

Memeriksa kehadiran siswa. jika guru sudah hafal dengan semua siswanya cara mengecek kehadiran siswa cukup bertanya kepada siswa yang hadir tentang siapa yang tidak masuk dan alasan ketidakhadirannya.

Menciptakan kesiapan belajar siswa. hal yang dapat dilakukan guru pada kegiatan ini yaitu membantu atau membimbing siswa dalam mempersiapkan fasilitas/sumber belajar yang diperlukan dalam kegiatan belajar, menciptakan kondisi belajar untuk meningkatkan perhatian siswa dalam belajar, menunjukkan minat dan penuh semangat tinggi dalam mengajar, mengontrol (mengelola) seluruh aktivitas siswa mulai dari awal samppai akhir pembelajaran, menggunakan berbagai media dan mengembangkan kegiatan belajar yang memungkinkan siswa dapat melakukannya.

Menciptakan Suasana belajar yang demokratis. guru harus membimbing siswa agar berani menjawab, berani bertanya, berani berpendapat atau berani mengeluarkan ide-ide, dan berani memperlihatkan unjuk kerja (performance). kegiatan yang dapat dilakukan pada kegiatan prapembelajaran diantaranya mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab siswa atau meminta siswa untuk berpendapat atau mengeluarkan gagasan.

Strategi Pembelajaran Heuristik

Strategi ini adalah yang mencari mengolah pesan (materi pelajaran) ialah siswa. Guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing kegiatan belajar siswa. Jadi, di sini yang lebih aktif ialah siswa itu sendiri. Dengan strategi pembelajaran Heuristik, guru tidak berada di depan dan menarik siswa untuk mengikutinya, tetapi siswa disuruh berada di depan guru mengarhkan, memberi dorongan, membantu siswa bila mengalami kesulitan.


adapun cara pembelajaran dengan menggunakan strategi heuristik pada pembelajaran matemtika dengan tujuan pembelajaran "Siswa dapat menentukan keliling lingkaran yang telah diketahui garis dengan menggunakan rumus keliling lingkaran". materi atau bahan pelajarannya adalah "Rumus Mencari Keliling lingkaran".


Proses atau langkah-langkah pembelajarannya :
Seorang atau dua orang siswa diminta mengukur keliling sebuah lingkaran yang terbuat dari bambu, yang telah disiapkan guru dan disaksikan teman-temannya.

Siswa tersebut diminta menuliskan hasil pengukurannya pada papan tulis (umpamanya 145 cm). Kegiatan seperti ini, jika diperlukan, dapat dilakukan kembali oleh siswa atau kelompok siswa lain (untuk lebih meyakinkan hasilnya).

Siswa atau kelompok siswa lain diminta mengukur garis tengah lingkaran tadi dan menuliskan hasil pengukurannya pada papan tulis (umpamanya 49 cm). kegiatan ini pun bila diperlukan  dapat dilakukan kembali oleh siswa atau kelompok lain.

Semua siswa di minta membagi bilangan 154 dengan bilangan 49. Hasil yang diperoleh adalah 3,14. dengan demikian siswa menemukan rumus mencari keliling lingkaran ialah 22/7 X R

Siswa diberi tugas menentukan keliling sebuah lingkaran yang lain yang telah diketahui garis tengahnya (umpanya : 14 cm)

Dari contoh pembelajaran di atas siswa tidak hanya dapat menentukan keliling lingkaran yang telah diketahui garis tengahnya, tetapi juga mereka memahami betul mengapa rumus mencari keliling lingkaran 22/7 x R. hal ini dapat terjadi karena siswa sendiri yang menemukannya bukan disuapi oleh guru.

Keuntungan penggunaan strategi ini bagi siswa adalah secara berangsur-angsur akan terbentuk sikap positif pada diri mereka antara lain kreatif, kritis, inovatif, percaya diri, terbuka dan mandiri. strategi ini terbagi dalam dua bagian yaitu diskoveri (discovery) dan inkuiri (inquiry). 


Dengan strategi diskoveri siswa melakukan kegiatan dengan berpedoman pada langkah-langkah yang telah ditetapkan oleh guru. jadi dengan strategi ini siswa memperoleh atau menemukan pengetahuannya sendiri dengan bantuan pedoman atau panduan yang diberikan guru maka pada penerapan strategi inkuiri siswa memperoleh pengalaman dan menemukan sendiri pengetahuan tanpa pedoman atau panduan dari guru. Dalam strategi inkuiri siswa benar-benar dilepas tanpa disertai dengan panduan yang telah disiapkan oleh guru.


Cara Pembelajaran Ekspositori

Jika yang mengolah pesan atau materi elajaran itu, guru maka strategi pembeajaran yang digunakan adalah ekspositori. Dengan strategi pembelajaran ekspositori, guru yang mncari materi pelajaran yang akan diajarkan dari berbagai sumber, kemudian guru mengolahnya serta membuat rangkuman dan/atau mungkin membuat bagan. di depan siswa guru menjelaskannya dan siswa tinggal menerimanya kemudian mencatatnya. Jadi guru lebih aktif daripada siswa. sementara siswa tinggal terima jadi dari guru.

berikut contoh penggunaan ekspositori pada mata pelajaran Ilmu pengetahuan sosial.

Tujuan Pembelajaran :
Siswa dapat menguraikan manfaat muka bumi di wilayah Indonesia yang terdiri dari daratan, pantai, daratan rendah, dataran tinggi dan perairan.
Bahan Pelajaran : Wilayah Indonesia

Proses Pembelajaran
sebelum pembelajaran berlangsung, guru telah mempelajari materi pelajaran dari berbagai sumber yang ada, kemudian membuat rangkuman antara lain :

Guru menjelaskan materi pelajaran secara rinci kepada siswa. Pada saat menjelaskan, sebaiknya guru menggunakan alat peraga, setelah selesai menjelaskan guru melaksanakan tanya jawab untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap penjelasan yang diberikan.

Siswa dibawah bimbingan guru menyimpulkan materi pelajaran tersebut. membuat rangkuman dan memberikan kesimpulan serta diberi penguatan atau diberikan tugas.

Siswa di minta mencatat materi pelajaran dan/atau mempelajarinya kembali di rumah masing-masing. 

Tips Pembelajaran Induktif

Dalam strategi pembelajaran induktif, pesan atau materi pelajaran diolah mulai dari yang khusus, bagian atau atribut, menuju ke yang umum, yaitu generalisasi atau rumusan konsep atau aturan. Gambaran konsep dan atribut dalam strategi dalam strategi pembelajaran induktif dapat di lihat pada gambar berikut :

Dengan memperhatikan gambar tersebut, kita dapat merancang pembelajaran dengan strategi pembelajaran induktif. adapun langkah-langkah dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut :

Siswa di minta untuk mengidentifikasi benda-benda yang ada di sekitarnya. Selanjutnya siswa di minta untuk menuliskan nama benda-benda tersebut di papan tulis sesuai dengan wujud benda

Siswa diminta untuk mengelompokkan benda-benda tersebut ke dalam kelompok benda padat, benda cair, dan benda gas. apabila ada siswa yang salah dalam mengelompokkan benda-benda tersebut, guru dapat meminta siswa lain untuk membetulkan.

Terakhir siswa diminta untuk menuliskan jenis-jenis wujud benda. kemudian guru menunjuk beberapa siswa untuk menjabarkan hasil yang diperoleh di depan kelas. hal ini untuk membiasakan siswa berbicara dan melatih mental siswa.

Kegiatan tersebut dapat berbentuk project dengan menerapkan metode pembelajaran project based learning. yaitu siswa di beri tugas di luar kelas untuk mengidentifikasi benda-benda yang ada di sekitar mereka.


Cara Pembelajaran Deduktif

Dalam Pembelajaran deduktif, pesan atau materi diolah mulai dari yang umum, generalisasi atau rumusan konsep atau rumusan aturan, dilanjutkan ke hal yang khusus, yaitu penjelasan bagian-bagiannya atatu atribut-atributnya (ciri-cirinya) dengan menggunakan berbagai ilustrasi atau contoh. strategi pembelajaran deduktif antara lain dapat digunakan pada pelajaran mengenai konsep "terdefinisi".

Cara penerapan strategi pembelejaran deduktif dalam pembelajaran :
Pembahasan tentang Kenampakan Alam. Pembelajaran di mulai dengan rumusan konsep Kenampakan alam.

Kemudian guru meminta siswa menyebutkan jenis-jenis kenampakan alam, seperti gunung, dataran tinggi, dataran rendah, pantai, pegunungan, sungai, danau, dan selat.

Setelah itu siswa di minta untuk memberikan contoh jenis-jenis kenampakan alam tersebut. Dalam kesempatan ini, guru dapat menggunakan peta atau gambar pemandangan yang menggambarkan kenampakan alam.

Selanjutnya guru dapat menugaskan kepada siswa untuk berdiskusi mencari contoh kenampakan alam di daerahnya sebanyak-banyaknya. kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. selam diskusi kelompok lain dapat menanggapi atau bertanya.

Untuk memberikan manfaat agar pembelajaran tidak hanya sampai di situ, guru memberikan tugas kepada siswa untuk mencari kenampakan alam lain dari sumber koran, majalah, internet dan lainnya.

Sebelum menutup pembelajaran sebaiknya guru mengadakan tanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa serta jangan lupa untuk memberi penguatan. diakhir pembelajaran guru harus memberikan evaluasi baik tertulis atau lisan untuk mengukur kompetensi yang dicapai peserta didik.

Strategi pembelajaran deduktif tepat digunakan apabila konsep yang akan dibahas merupakan konsep baru bagi siswa atau waktuyang tersedia untuk membahas suatu konsep relatif terbatas.

Cara Penerapan Revisi Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 telah mengalami revisi, untuk tahun 2016 berdasarkan hasil revisinya ada beberapa hal yang mengalami perubahan berarti. ini menjadi acuan bagi seklah penyelenggara kurikulum 2013. hasil revisi tersebut antara lain :


Nama Kurikulum tidak berubah menjadi kurikulum nasional namun tetap Kurikulum 2013 edisi revisi yang berlaku secara Nasional.

Penilaian sikap KI 1 dan KI 2 sudah ditiadakan di setiap  mata pelajaran tetapi hany untuk Pendidikan Agama dan PPKn namun KI tetap di cantumkan dalam penulisan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Jika ada 2 nilai praktek dalam 1 Kompetensi Dasar maka yang diambil adalah nilai tertinggi. 

Penghitungan nilai ketrampilan dalam 1 KD ditotal (praktek, produk, portofolio) dan diambil nilai rata-ratanya. untuk pengetahuan bobot penlaian harian dan penilaian akhir semester itu sama.
Pendekatan scientific 5 M bukanlah satu-satunya metode saat mengajar dan apabila digunakan maka susunannya tidak harus berurutan.

Silabus Kurikulum 2013 edisi revisi lebih raming hanya 3 kolom yaitu Kompetensi Dasar, materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran

Perubahan terminologi ulangan harian menjadi penilaian harian, UAS menjadi penilaian Semester untuk semester 1 dan penilaian akhir tahun untuk semester 2. dan sudah tidak ada lagi UTS langsung ke penilaian akhir semester.

Dalam RPP tidak perlu disebutkan nama metode pembelajaran yang digunakan dan materi dibuat dalam bentul ;lamiran berikut dengan rubrik penilaian (jika ada)

Skala penilaian menjadi 1 - 100. Penilaian sikap diberikan dalam bentuk predikat A, B, C, atau D dan deskripsi.

Remedial diberikan untuk siswa yang kurang namun sebelumnya diberikan pembelajaran ulang, nilai remedial adalah nilai yang dicantumkan dalam hasil.

selain itu ada kelengkapan guru yang harus dilengkapi yakni buku kerja guru.

demikian tentang revisi kurikulum 2013 bagi sekolah yang menjadi sasaran penerapan kurikulum ini dapat menjadi acuan dalam pelaksanaannya, dan akan diadakan pelatihan tentang kurikulum 2013 secara bertahap. Kurikulum revisi ini berlaku untuk kelas 1, 4, 7 dan kelas 10. buku kurikulum 2013 juga mengalami revisi dan sampai saat ini belum selesai. tetapi akan siap digunakan pada awal tahun pelajaran

Cara Pengelolaan Pembelajaran KTSP ke K 13

Pengelolaan pembelajaran merupakan salah satu komponen transisi yang penting untuk dipahami dan dilakukan. Dalam hal ini, kepala sekolah, guru, orang tua, serta pihak lain yang terlibat, setidaknya harus memiliki pemahaman akan pentingnya perubahan, sebagai bagian dari transisi kurikulum lama ke Kurikulum 2013.

Beberapa jenis transisi yang harus dilakukan, antara lain:
Pengembangan Muatan Lokal
Muatan lokal untuk kelas I, II, IV, dan V pada Kurikulum 2013 terintegrasi dengan Muatan Mata Pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dengan alokasi waktu 4 Jam Pelajaran, serta 5 Jam Pelajaran di Kelas IV dan V. Sementara itu, untuk kelas III dan VI sama dengan struktur kurikulum KTSP 2006, yaitu terintegrasi secara tematik di kelas III dan 2 jam pelajaran di kelas VI. Jenis muatan lokal yang diambil, baik di kelas I, II, III, IV, V, dan VI, sesuai dengan karakteristik sekolah dan daerah. Pengembangan muatan lokal dalam kurikulum 2013, secara lengkap disajikan pada Buku Panduan Teknis yang dikembangkan Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar.

Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler
Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, baik di Kelas I, II, IV, dan V maupun di kelas III dan VI dapat dilaksanakan dengan jenis dan pola yang sama. Artinya, kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Kepramukaan, dapat dijadikan ekstrakurikuler wajib untuk semua peserta didik sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Panduan Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler secara lengkap disajikan pada Buku Panduan Teknis yang dikembangkan Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar.

Pendampingan peserta didik oleh orang tua
Kerjasama atau interakasi orang tua dalam mendampingi aktivitas belajar peserta didik, sesungguhnya dapat dilakukan untuk semua jenjang peserta didik. Berbeda dengan siswa kelas I, II, IV, dan V, dimana kerjasama orang tua telah dirancang secara khusus dalam buku siswa, maka untuk siswa kelas III dan VI, kerjasama orang tua dapat dirancang oleh guru kelas atau sekolah. Kerjasama orang tua dalam mendampingi aktivitas pembelajaran peserta didik di rumah, harus sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan sesuai yang tertuang dalam panduan teknis pendampingan orang tua terhadap peserta didik yang telah dikembangkan Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar.

Jadwal Pembelajaran
Penyusunan jadwal pembelajaran bagi siswa kelas I, II, IV, dan V disusun dengan pendekatan tematik terpadu. Sementara itu, untuk kelas III disusun dengan pendekatan tematik, dan kelas VI disusun dengan pendekatan mata pelajaran.

Pelaksanaan Pembelajaran
Salah satu elemen perubahan yang paling mendasar pada Kurikulum 2013 adalah standar proses, yang didalamnya memuat perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Pada prinsipnya berbagai perubahan dalam proses pembelajaran seperti menekankan dari berpusat pada guru menuju siswa, dari satu arah menuju interaktif, dari isolasi menuju lingkungan jejaring, dari pasif menuju aktif-menyelidiki, dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata, dari pembelajaran pribadi menuju pembelajaran berbasis tim, dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan, dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru, dari alat tunggal menuju alat multimedia, dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif, dapat diterapkan pada seluruh kelas di SD. Khusus guru yang bertugas di kelas I, II, IV, dan V, harus menggunakan pendekatan pembelajaran yang dituntut pada Kurikulum 2013. Sementara itu, guru yang bertugas bertugas di kelas III dan VI pada prinsipnya dapat juga menerapkan pendekatan pembelajaran sejenis, sekalipun kelengkapan buku guru dan siswa belum seperti yang dimiliki kelas I, II, IV, dan V.

Beberapa transisi pelaksanaan pembelajaran yang perlu diperhatikan adalah:
Penggunaan buku guru dan siswa
Bagi guru yang bertugas di kelas I, II, IV, dan V pelaksanaan pembelajaran harus mengacu pada buku guru dan buku siswa yang disusun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Guru berperan untuk memperkaya materi dan kegiatan yang ada dalam buku guru dan siswa, dengan berbagai aktivitas pembelajaran yang mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Sementara itu, bagi guru kelas III dan VI dapat menggunakan buku yang sesuai dengan SKL, SK, dan KD yang tertuang dalam Kurikulum 2006. Dalam pengembangannya, guru kelas III dan VI dapat mengembangkan pembelajaran berbasis aktivitas, seperti yang tertuang dalam buku kelas I, II, IV, dan V. Harapannya, bagi siswa kelas III dan kelas VI pada kelas atau jenjang berikutnya sudah lebih terbiasa dengan pembelajaran yang berbasis aktivitas.

Pendekatan Tematik Terpadu
Pendekatan tematik terpadu, secara spesifik dilakukan di kelas I, II, IV, dan VI, sedangkan kelas III masih menggunakan pendekatan tematik, dan kelas VI menggunakan pendekatan mata pelajaran. Dalam pelaksanaannya, keterpaduan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas I, II, IV, dan VI, pada prinsipnya dapat diadopsi dalam pembelajaran di kelas III dan VI sesuai dengan tuntutan kompetensi yang dipersyaratkan.

Pembelajaran Saintifik
Pembelajaran saintifik, yang didalamnya memuat komponen mengamati, menanya, mencoba, menalar, serta mengkomunikasikan pada prinsipnya dapat dilakukan di semua kelas sekolah dasar. Artinya, sekalipun di kelas III dan VI belum menerapkan Kurikulum 2013, dalam aktivitas pembelajarannya dapat menggunakan pembelajaran saintifik. Model Pembelajaran Saintifik secara lengkap disajikan pada Buku Panduan Teknis yang dikembangkan Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar

Pembelajaran Discovery/Inquiry
Seperti halnya, pembelajaran saintifik, pembelajaran berbasis penemuan atau discovery juga dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran di semua kelas sekolah dasar. Berbeda dengan guru di kelas I, II, IV, dan V yang telah distimulasi melalui buku guru dan siswa, guru yang bertugas di kelas III dan VI perlu merancang sendiri aktivitas pembelajarannya, sesuai dengan materi yang terdapat pada standar isi kurikulum 2006. Model Pembelajaran Discovery/Inquiry secara lengkap disajikan pada Buku Panduan Teknis yang dikembangkan Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar.

Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembelajaran berbasis proyek, prinsipnya dapat digunakan oleh semua jenjang kelas sekolah dasar, baik yang sudah mengimplementasikan kurikulum 2013 maupun yang belum. Guru yang bertugas di kelas III dan VI, dapat merancang pembelajaran berbasis proyek berdasarkan materi yang ada dalam Kurikulum 2006. Model Pembelajaran Berbasis Proyek, secara lengkap disajikan pada Buku Panduan Teknis yang dikembangkan Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Model rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dikembangkan di kelas I, II, IV, dan V pada dasarnya dapat juga digunakan oleh guru kelas III dan VI, terutama pada model rumusan tujuan pembelajaran, kegiatan awal, inti, dan penutup, serta penilaian. Sementara itu, isi materi untuk kelas III dan VI disesuaikan dengan kurikulum 2006. Model RPP yang sesuai dengan Kurikulum 2013 SD secara lengkap disajikan pada Buku Panduan Teknis Penyusunan RPP yang dikembangkan Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar.

Cara Pengaturan Lingkungan Sekolah Ideal

Lingkungan kelas sangat berperan dalam menciptakan suasana yang mendorong siswa untuk belajar. Penataan lingkungan kelas bisa berupa pengaturan meja-kursi/ bangku siswa, penataan sumber dan alat bantu belajar, dan penataan pajangan hasil karya siswa, serta penyediaan sudut baca.

Pengaturan Meja-Kursi/Bangku
Penataan meja-kursi siswa paling sedikit memenuhi 4 hal: 1) Mobilitas, memudahkan siswa untuk bergerak dari satu pojok ke pojok lain, 2) Aksesibilitas, memudahkan siswa mengakses sumber dan alat bantu belajar, 3) Interaksi, memudahkan siswa untuk berinteraksi dengan sesama teman dan gurunya, dan 4) Variasi kegiatan, memudahkan siswa melakukan berbagai kegiatan yang beragam, misal berdiskusi, melakukan percobaan, dan presentasi. Pengaturan meja-kursi/bangku siswa dalam bentuk kelompok atau berbentuk huruf ‘U’ dapat memenuhi beberapa hal di gambar di samping.

Penataan Sumber dan Alat Bantu Belajar

Penataan sumber dan alat bantu belajar hendaknya diatur sedemikian rupa, sehingga sumber belajar mudah diakses oleh siswa maupun guru. Misal penempatan alat bantu belajar di tengah ruangan memungkinkan semua siswa memiliki jarak yang relatif sama dalam mengaksesnya daripada dari pada alat tersebut ditempatkan di salah satu pojok ruangan.

Penataan Pajangan Hasil Karya Siswa

Penataan pajangan hasil karya siswa dengan mempertimbangkan aspek estetika (keindahan) juga kondisi siswa, yang berada dalam jangkauan siswa agar mereka memperoleh manfaat dari pemajangan hasil karya. Bentuknya bisa dua atau tiga dimensi. Pajangan mencerminkan upaya yang dilakukan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, menggambarkan penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang diharapkan. Pajangan diganti secara reguler setiap 1- 2 minggu sekali/selesai satu tema. Pajangan dapat menjadi alat pemantau efektivitas proses pembelajaran. Pajangan berfungsi sebagai : (a) motivasi peserta didik agar senantiasa berkarya; (b) alat bantu belajar; (c) sumber belajar bagi peserta didik; (d) umpan balik/ penghargaan kepada peserta didik yang berhasil membuat karya; kompetitif

Peningkatan Minat Baca Siswa
Salah satu tujuan program MBS adalah untuk meningkatkan minat peserta didik membaca atau menciptakan budaya baca. Untuk mencapai tujuan ini beberapa hal perlu dilakukan di sekolah:
1. Perpustakaan sekolah dikelola untuk menciptakan suasana yang mendorong anak untuk membaca.
2. Sudut baca dibuat di ruang kelas supaya buku
3. Jumlah buku ditambah
4. Jam membaca diterapkan di kelas ataupun sekaligus di seluruh sekolah supaya anak dibiasakan untuk membaca.

Cara Menghitung KKM

KKM merupakan target ketuntasan minimal untuk setiap aspek penilaian mata pelajaran, yang telah ditetapkan oleh masing-masing madrasah. Untuk menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dihitung berdasarkan tiga komponen yaitu : kompleksitas, daya dukung, intake.

Tingkat kesulitan dan kerumitan setiap KD yang harus dicapai oleh siswa. Tingkat Kompleksitas Tinggi, bila dalam pelaksanaannya menuntut: (i) SDM yang kompeten dan kreatif dalam melaksanakan pembelajaran, (ii) waktu cukup lama karena perlu pengulangan, dan (iii) perlu penalaran dan kecermatan yang tinggi dari siswa. Yang dimaksud dengan kemampuan sumber daya pendukung yaitu ketersediaan tenaga, sarana dan prasarana pendidikan yang sangat dibutuhkan, BOP, manajemen madrasah, dan kepedulian stakeholders madrasah.

KKM dapat dihitung dengan dua cara, yaitu dengan perhitungan kasar menggunakan rentang nilai 1 sampai 3 dan secara lebih halus dengan rentangan nilai dari 1 sampai 100 untuk setiap komponen yang dinilai dengan menggunakan tabel penilaian sebagai berikut:

No.
Komponen
Katergori penilaian
Rentang  kasar
Rentang halus
1.
Kompleksitas
Tinggi
Sedang
Rendah
1
2
3

54 – 60
65 – 80
81 - 100
2.
Daya dukung
Tinggi
Sedang
Rendah
3
2
1

81 - 100
65 – 80
54 -  60
3.
Tingkat kemampuan rata-rata siswa (intake)
Tinggi
Sedang
Rendah
3
2
1

81 - 100
65 – 80
54 -  60

Misalnya dengan menggunakan nilai rentang kasar, untuk pelajaran Matematika kompleksitasnya ”tinggi” berarti nilainya 1, ”daya dukung” untuk melaksanakan pembelajaran matematika ”tinggi”, dan intake dari nilai rata-rata siswa ”sedang”. Jika KD di dalam mata pelajaran memiliki kriteria : kompleksitas rendah, daya dukung tinggi dan intake siswa sedang, nilai KKM matematika adalah: (3 + 3 + 2) : 9 x 100 = 88,9.

Sementara itu apabila menggunakan nilai rentang halus untuk kompleksistas 58, daya dukung 96, dan tingkat kemampuan 76, maka KKM untuk mata pelajaran matematika menjadi: (58 + 96 + 76) : 300 x 100 = 76,6.

Apabila kesulitan dalam menentukan kriteria penilaian pada setiap komponen itu, maka penentuan nilai tersebut dapat didiskusikan dalam forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Cara Pembelajaran PKn Tematik dan Portofolio

MODEL PEMBELAJARAN PKn SD BERBASIS TEMATIK
A. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Tematis PKn SD/MI Pembelajaran tematis adalah bentuk pengorganisasian pembelajaran terpadu. Dalam pembelajaran bentuk ini peserta didik belajar melalui pemahaman dan pembiasaan perilaku yang terkait pada kehidupannya. Tujuan akhir dari pembelajaran tematik adalah berkembangnya potensi peserta didik secara alami sesuai dengan usia dan lingkungannya.


Secara umum langkah-langkah menyusun pembelajaran tematik antar mata pelajaran sebagai berikut:
1. Membuat/memilih tema;
2. Melakukan analisis indikator, kompetensi dasar dan hasil belajar yang sesuai dengan tema dan             membagi alokasi waktu;
3. Melakukan pemetaan hubungan kompetensi dasar, indikato dengan tema;
4. Membuat pengelompokkan jaringan indikator;
5. Melakukan penyusunan silabbus
6. Menyusun rencana pembelajaran tematik;

B. Model Pembelajaran Tematis PKn Di SD 
Dilihat dari cara memadukan konsep/materi, ketrampilan, topik, dan unit tematiknya, terdapat 10 model atau cara merencanakan pembelajaran terpadu, namun yang akan dibahas hanya tiga yaitu :

1. Model Webbed 
Model ini sering disebut jaring laba-laba, adalah model pembelajaran yang digunakan untuk mengajarkan tema tertentu yang berkecenderungan dapat disampaikan melalui beberapa mata pelajaran. Dalam model Webbed tema dapat dijadikan sebagai pengikat pembelajaran dalam satu mata pelajaran atau antar mata pelajaran.

2. Model Conected 
Model ini dilandasi anggapan bahwa butir-butir pembelajaran dapat dipayungkan pada induk mata pelajaran tertentu. Dalam model ini guru perlu menata butir-butir pembelajaran dan proses pembelajaran secara tematis karena pembentukan pemahaman, ketrampilan dan pengalaman secara untuh tidak berlangsung secara otomatis.

3. Model integrated
Model integrated merupakan pemaduan sejumlah tema (topik) pembelajaran dari mata pelajaran yang berbeda tetapi esensinya sama dalam sebuah tema/topik tertentu. Dalam model ini, butir-butir pembelajaran perlu ditata sedemikian rupa hingga dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan berbagai butir pelajaran dari berbagai mata pelajaran yang berbeda. Oleh karena itu perlu adanya tema sentral dalam pemecahan suatu masalah yang dapat ditinjau dari berbagai disiplin ilmu.

MODEL PEMBELAJARAN PKn SD BERBASIS PORTOFOLIO DI KELAS IV, V, DAN VI 
A. Konsep dan Hakikat Pembelajaran Portofolio 
Portofolio adalah kumpulan informasi yang tersusun dengan baiik yang menggambarkan rencana kelas berkenaan dengan stau isu kebijakan publik yang telah diputuskan untuk dikaji, baik dalam kelompok kecil maupun kelas (antarkelompok dalam kelas atau antar kelas dan bahkan antar sekolah).

Untuk keterlaksanaan kegiatan pembelajaran portofolio guru tidak terlibat secara penuh dalam kegiatan pembelajaran tersebut, guru hanya bersifat membimbing dan memfasilitasi apa yang diperlukan siswa. Siswa secara demokratis mengidentifikasi, merumuskan sampai mencari berbagai solusi tentang kebijakan publik yang ada dilingkungan hidupnya.

B. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Portofolio 
Langkah-langkah yang harus dilakukan siswa dalam pembelajaran portofolio adalah menemukenali (mengidentifikasi) masalah yang akan dikaji, mengumpulkan informasi, mengkaji pemecahan masalah, dan membuat kebijakan publik kalian sendiri.

Salah satu aspek atau langkah yang strategis dalam pembelajaran portofolio adalah tahap penyajian. Pada tahap ini siswa dilatih untuk membiasakan diri mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah diperolehnya dalam penyusunan portofolio tersebut. Selain itu pada tahap penyajian ini siswa dilatih untuk menggunakan argumentasi, sekaligus mempertahankan bahkan melakukan debat dengan dewan juri. Ini proses pembelajaran portofolio yang penuh nuansa demokratis.

Cara Membuat Model Konduksi

Model Alat Konduksi Panas

Berikut ini akan disampaikan hal-hal penting yang berkaitan dengan media untuk model Alat konduksi panas. Hal-hal tersebut meliputi cara pembuatan media, petunjuk cara penyampaian atau penggunaan media model Alat Konduksi, panduan diskusi dengan siswa berkaitan dengan penggunaan media dan konsep-konsep sains yang ingin ditanamkan kepada siswa berkaitan dengan penggunaan media.

Alat dan Bahan:
• Alat penjepit.
• Pipa baja bulat.
• Bola lilin.
• Sumber panas (lilin).

Cara Penyampaian/Penggunaan Media
1. Mintalah siswa untuk merangkai alat tersebut seperti pada gambar. Kemudian menyalakan lilin dan     meletakkannya pada ujung pipa baja/logam.
2. Mintalah kepada siswa mengamati bulatan-bulatan plastisin selama ujung baja dipanasi.
3. Adapun hasil yang diharapkan adalah sebagai berikut.
a. Plastisin berjatuhan secara bergantian dari plastisin di ujung dekat nyala api sampai plastisin yang       dekat penyangga.

Diskusi Konsep-konsep penting yang berkaitan dengan sifat hantaran panas melalui diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa yang menyebabkan plastisin pada batang baja jatuh?
2. Plastisin mana yang jatuh lebih dulu? Plastisin yang terdapat pada ujung batang baja dekat nyala         api. Selanjutnya plastisin mana yang jatuh? Plastisin yang berada dekat plastisin yang telah jatuh         atauplastisin yang berada semakin jauh dari nyala ap.i
3. Berdasarkan urutan jatuhnya plastisin, energi apa yang mengalami perpindahan pada batang baja         tersebut? Energi panas.
4. Informasikan bahwa energi panas yang seperti percobaan tersebut adalah peristiwa konduksi.

Konsep-konsep yang Ditanamkan
1. Energi panas
2. Hantaran panas atau konduksi.