KAMPUS UTAMA STIQ AN-NUR LEMPUING OKI

Kampus utama STIQ AN-NUR lEMPUING OKI di Jalan Lintas Timur Desa Tebing Suluh Kecamatan Lempuing Kabuupaten OKI Sumatera Selatan

DIRJEN PENDIS DAN KETUA STIQ AN-NUR LEMPUING OKI

Pertemuan Ketua STIQ AN-NUR LEMPUING OKI dan dirjen Pendis Di Jakarta.

DIRJEN PENDIS DAN KETUA STIQ AN-NUR lEMPUING OKI

Serah Terima SK Operasional STIQ AN-NUR LEMPUING OKI dari Dirjen Diktis Ke Ketua STIQ AN-NUR lEMPUING OKI di Jakarta.

PIMPINAN STIQ AN-NUR LEMPUING OKI

Sebelah Kiri Ketua, Pembantu Ketua I, Pembantu Ketua II dan Pembantu Ketua III.

PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Penerimaan Mahasiswa Baru STIQ AN-Nur Lempuing OKI Tahun Akademik 2016/2017.

Showing posts with label education. Show all posts
Showing posts with label education. Show all posts

Penataan Lingkungan Fisik Sekolah

penataan lingkungan fisik sekolah adalah hal penting yang harus dilakukan. Pengembangan budaya sekolah mencakup: (1) penataan lingkungan fisik sekolah, dan (2) pengembangan lingkungan psikologissosial-kultural sekolah.

Penataan Lingkungan Fisik Sekolah 
Lingkungan fisik sekolah adalah seluruh aspek fisik yang ada di lingkungan sekolah. Lingkungan fisik sekolah meliputi: halaman sekolah, ruang kelas, dan peralatan belajar serta sarana dan prasarana penunjang yang lain.

Penataan halaman sekolah 
Halaman sekolah yang kondusif bagi pengembangan karakter positif siswa adalah halaman sekolah yang ramah siswa. Halaman sekolah yang ramah siswa memiliki ciri sebagai berikut.


Halaman sekolah aman bagi siswa. Halaman sekolah tidak berdebu dan terhindar dari keberadaan berbagai binatang yang membahayakan keselamatan siswa antara lain ular, tikus,musang, dan lain sebagainya. Siswa-siswa bisa bermain dan melakukan berbagai aktivitas dengan nyaman dan aman di sekolah

Halaman sekolah tertata rapih. Pohon-pohon dan tanaman tumbuh subur, terawat dengan baik, dan tertata rapih. Setiap barang di halaman sekolah ditempatkan secara baik sesuai dengan fungsinya masing-masing. Selain memperhatikan fungsi, penempatan setiap benda atau barang di halaman sekolah juga memperhatikan prinsip keartistikan. Penataan barang dan benda secara artistik dilakukan dengan memperhatikan keselarasan hubungan antara satu benda atau barang dengan benda atau barang yang lain.

Halaman sekolah bersih. Maksudnya, halaman sekolah yang bersih dari sampah, bahan kimia yang berbahaya, genangan air, kotoran binatang, dan tanaman liar. Halaman yang bersih itu indah dipandang dan aman sebagai tempat bermain bagi siswa-siswa.

Halaman sekolah yang teduh. Halaman yang teduh merupakan tempat yang nyaman untuk bermain bagi siswasiswa,terutama ketika hari panas. Halaman yang teduh membuat udara di ruang kelas juga menjadi sejuk dan segar,guru dan siswa-siswa merasa nyaman ketika melaksanakan pembelajaran. Lingkungan yang teduh membuat hati teduh Hati yang teduh membuat warga sekolah menjadi sabar dan mudah mengontrol emosinya

Penataan ruang kelas 
Lingkungan fisik dalam ruang kelas dapat mendukung atau menghambat kegiatan belajar aktif. Perabot yang terdapat di dalam ruang kelas dapat ditata secara berkala. Pendekorasian interior dan penataan ruang dapat dijadikan kegiatan belajar aktif bagi para siswa dan merupakan hal yang menyenangkan sekaligus menantang (khususnya jika perabot ruang kelas kurang ideal). Dalam beberapa kasus, perabot kelas bisa disusun ulang untuk menciptakan formasi yang berbeda. Ruang kelas yang kondusif adalah memiliki ciri sebagai berikut.


Ruang kelas bersih, dan rapi. Ruang kelas yang bersih dan tertata rapih adalah ruang kelas yang bersih dari debu, sampah,dan berbagai coretan serta bercak-bercak di tembok. Dinding,lantai, plafon, dan perabot kelas terjaga kebersihannya. Perabot dan media pembelajaran ditempatkan secara tepat dan rapih di ruang kelas sesuai dengan kebutuhan pembelajaran Ruang kelas dicat dengan baik dengan pilihan warna yang selaras dengan suasana belajar yang diinginkan.

Ruang kelas memiliki penerangan yang cukup. Sumber penerangan yang ideal adalah dari sinar matahari. Selain menerangi, sinar matahari juga bisa membuat udara di dalam kelas tidak lembab dan sehat bagi tubuh. Sinar matahari juga hemat karenan penggunaannya tidak memerlukan tenaga listrik.

Ruang kelas memiliki udara yang sejuk dan segar. Udara bebas mengalir dari jendela dan lubang-lubang ventilasi diruang kelas. Hal itu membuat udara di dalam kelas menjadi segar.

Ruang kelas memiliki sumber belajar yang kaya. Sumber belajar itu bisa berupa buku-buku dan/atau CD materi yang ditempatkan di lemari atau di pojok-pojok ruang kelas, peta, gambar dan lain-lain yang dapat digunakan oleh siswa untuk belajar secara mandiri atau digunakan oleh guru sebagai media pembelajaran.

Pengelolaan sarana dan prasarana
Lingkungan fisik sekolah yang kondusif bagi pengembangan karakter positif juga didukung oleh berbagai sarana dan prasarana sekolah yang terjaga fungsinya kebersihan, dan kerapihannya. Tidak ada sarana dan prasarana sekolah yang sia-sia. Tidak ada sarana dan prasarana sekolah yang dibiarkan kotor dan tidak terawat.

Prinsip Pengembangan Budaya Sekolah

Pengembangan budaya sekolah memiliki prinsip-prinsip untuk dilaksanakan. bukan hanya sekedar budaya yang tidak memiliki arah tujuan tapi berdasarkan prinsip yang pasti. Pengembangan budaya sekolah yang kondusif untuk mengembangkan karakter positif siswa dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip berikut: (a) berkelanjutan, (b) terpadu, (c) konsisten, (d) implementatif, dan (e) menyenangkan.


Prinsip berkelanjutan 
Pengembangan budaya sekolah yang kondusif bagi pengembangan karakter itu memerlukan proses yang panjang. Proses itu dimulai dari perencanaan, sosialisasi, pelaksanaan pengembangan, dan diakhiri dengan evaluasi secara bersiklus. Ketiga tahapan tersebut dilakukan secara terus-menerus agar budaya sekolah yang sudah terbentuk tetap dapat dipertahankan, dan kalau perlu ditingkatkan lagi kualitasnya dari waktu ke waktu.

Prinsip terpadu 
Pengembangan budaya sekolah yang kondusif bagi pengembangan karakter dilakukan terintegrasi dengan seluruh aktivitas sekolah, mulai dari kegiatan pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, pengelolaan sarana prasarana sekolah, pengelolaan keuangan sekolah, hubungan sekolah dengan orangtua dan masyarakat, dan lain-lain. Artinya, seluruh aspek sekolah dirancang dan diarahkan agar kondusif bagi penyemaian dan pengembangan karakter siswa.

Prinsip konsistensi 
Pengembangan budaya sekolah yang kondusif bagi pengembangan karakter siswa dilakukan secara konsisten. Artinya, seluruh civitas sekolah, khususnya kepala sekolah dan guru harus konsisten dalam mengimplementasikan nilainilai positif dalam ucapan, sikap dan perilaku mereka di sekolah, seperti bersikap dan berperilaku jujur, adil, terbuka, menghargai perbedaan pendapat,sopan dan santun, gemar membaca, gemar menulis, bersikap ilmiah,rendah hati, berempati pada sesama, disiplin, hemat, dan lain-lain.

Prinsip implementatif 
Pengembangan budaya sekolah tidak cukup hanya dilakukan melalui pemajangan slogan, pengarahan kepala sekolah saat upacara, ceramah guru di kelas, nasihat guru konselor, edaran tulis kepada siswa dan orangtua siswa, atau pemberian materi PMP dalam pembelajaran. Nilai-nilai positif yang diinginkan harus diwujudkan dalam ucapan, sikap, dan perilaku seluruh warga sekolah. Artinya, semua warga sekolah harus menunjukkan karakter positif dalam ucapan, sikap, dan perilaku mereka dalam berbagai aktivitas.

Prinsip menyenangkan 
Pengembangan budaya sekolah yang kondusif bagi pengembangan karakter siswa dilakukan dalam suasana menyenangkan. Suasana yang menyenangkan adalah suasana yang bebas dari ketakutan, perasaan tertekan, dan terpaksa. Perasaan takut, tertekan, dan terpaksa menyebabkan warga sekolah menerapkan nilai-nilai positif secara terpaksa, bukan atas dasar kerelaan dan kesadaran mereka sendiri. Penerapan nilai secara terpaksa cenderung tidak bisa optimal dan tidak bertahan lama. Penerapan seperti itu biasanya terjadi karena yang bersangkutan merasa diawasi, diancam, atau takut mendapat hukuman.

Prinsip menyenangkan diwujudkan dalam pengelolaan suasana pembelajaran di kelas, suasana bermain saat istirahat, suasana kegiatan ekstrakurikuler, dll. Guru bisa menciptakan suasana menyenangkan dalam pembelajaran mereka, membuat antusiasme belajar dan keyakinan mereka untuk berhasil meningkat (Marilyn Jachetti Whirry, Guru teladan nasional 2003 dari California, Amerika Serikat).

Budaya Sekolah

Budaya sekolah adalah sistem nilai, kepercayaan, dan norma yang diterima bersama dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami dan di bentuk oleh lingkungan dengan menciptakan pemahaman yang sama pada seluruh civitas sekolah (Ditjen PMPTK, 2007).

Budaya sekolah dapat diklasifikasi menjadi dua maacam. Pertama, budaya sekolah yang kondusif bagi pengembangan karakter positif. Kedua, budaya sekolah yang menghambat pengembangan karakter positif. Berdasarkan pengertian tersebut, pengembangan budaya sekolah berarti upaya membuat adat kebiasaan positif yang berlaku di sekolah agar mantap dan kondusif bagi pengembangan karakter siswa.


Budaya sekolah dapat berpengaruh terhadap perkembangan karakter siswa. Hasil penelitian Jareonsttasin (2000) membuktikan bahwa sekolah memang berpengaruh terhadap perkembangan karakter siswa. Di sini suasana sekolah merupakan aspek sekolah yang paling berpengaruh terhadap perkembangan karakter siswa. Suasana sekolah adalah kualitas lingkungan sekolah yang tampak pada lingkungan internal sekolah (Hakam, 2007). Lingkungan internal tersebut meliputi lingkungan fisik, suasana psikologis, dan lingkungan sosiokultural sekolah, baik yang tampak pada lingkungan sekolah secara umum maupun pada l ingkungan kelas.


Dalam pengembangan budaya sekolah di sekolah dasar, ada enam aspek yang perlu diperhatikan yaitu: (1) budaya moral spiritual, (2) budaya bersih-rapi, (3) budaya cinta tanah air, (4) budaya setiakawan, (5) budaya belajar, dan (6) budaya mutu.

Budaya moral-spiritual tercermin pada sikap dan perilaku saling asih, asah, asuh, disiplin, jujur, konsisten dalam urusan moral dan spiritual. Budaya moral-spiritual juga tampak pada keinginan selalu meningkatkan kualitas penghayatan dan implementasi moral-spiritual serta meningkatkan toleransi dan saling menghormati/menghargai antarkeyakinan yang berbeda.

Budaya bersih-rapi tercermin pada sikap dan perilaku bersih, rapi secara fisik di semua sudut dan bagian sekolah/kelas. Selain itu, budaya bersih rapi juga mencakup bersih dari sifat tercela, rapi secara fisik termasuk administratif, bersih dan rapi dari urusan keuangan, bersih dan rapi dalam pelaksanaan kegiatan, tidak ada urusan yang terbengkalai dan tanpa ada tindak lanjutnya.

Budaya cinta tanah air tercermin pada sikap dan perilaku menghargai jasa pahlawan, bangga menggunakan produksi bangsa sendiri, bangga sebagai warga sekolah, warga masyarakat, warga negara, menjaga kerukunan hidup antarwarga sekolah.

Budaya setiakawan tercermin pada sikap saling asih, asah dan asuh, kekeluargaan, kekompakan, kerukunan, solidaritas rasional, guyub rukun, semangat membangun kelompok solid berkualitas, memberi layanan prima pada semua stakeholder, saling menopang dan mendukung untuk mencapai tujuan bersama.

Budaya belajar tercermin pada sikap dan perilaku tekun, disiplin, cerdas memperbaiki (update) hasil belajar, bersaing (ada benchmark dan bandingan untuk titik tolak maju), cerdas yang mampu menyerap konsep baru, tidak mengulang kesalahan, mampu menerapkan konsep tertentu pada situasi baru, dan membangun kompetensi optimal secara kolektif. Hal ini berlaku bagi guru dan peserta didik.

Budaya mutu tercermin pada sikap dan perilaku yang sungguh-sungguh, disiplin, kerja keras, bersemangat profesional, dan menjaga mutu di setiap tahapan proses dan setiap lini/komponen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki karakter baik juga memiliki prestasi akademik yang tinggi (Jareonsttasin, 2000).

Oleh sebab itu, menciptakan budaya sekolahyang kondusif untuk menyemaikan dan mengembangkan karakter positif siswa merupakan langkah strategis yang perlu dilakukan sekolah untuk meningkatkan kualitas lulusannya. Budaya sekolah yang kondusif berarti seluruh aspek lingkungan sekolah, baik lingkungan fisik maupun psikologis-sosial-kultural sekolah ditata dan diupayakan sedemikian rupa agar seluruh warga sekolah merasa nyaman, aktif, dan bergairah bekerja sehingga lingkungan sekolah sangat baik bagi penyemaian dan pengembangan karakter positif siswa.

Lingkungan fisik sekolah yang mencakup seluruh sarana dan prasarana sekolah harus ditata sebaik mungkin. Sedangkan lingkungan psikologissosial-kultural sekolah, meliputi: hubungan gurukepala sekolah,guru-guru, guru- siswa, guru-tenaga adminstrasi, siswa-siswa, siswatenaga administrasi.

Langkah-langkah Program Remedial

Program remedial memiliki langkah-langkah pembelajaran yaitu perencanaan, pelaksanaan kegiatan, dan penilaian kegiatan. untuk lebih jelasnya maka saya akan membahas tentang tiga kegiatan tersebut.


Perencanaan kegiatan 
Perencanaan kegiatan ekstra kurikuler mengacu pada jenis-jenis kegiatan yang memuat unsur-unsur: a) Sasaran kegiatan; b) Substansi kegiatan; c) Pelaksana kegiatan dan pihak-pihak yang terkait, serta keorganisasiannya; d) Waktu dan tempat; dan e) sarana

Pelaksanaan kegiatan
a. Kegiatan ekstra kurikuler yang bersifat rutin, spontan dan keteladanan dilaksanakan secara                   langsung oleh guru, konselor dan tenaga kependidikan di sekolah/madrasah.
b. Kegiatan ekstra kurikuler yang terprogram dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi, jenis           kegiatan, waktu, tempat, dan pelaksana sebagaimana telah direncanakan.
c. Pelaksana kegiatan ekstra kurikuler adalah pendidik dan atau tenaga kependidikan sesuai dengan         kemampuan dan kewenangan pada substansi kegiatan ekstra kurikuler yang dimaksud

Penilaian kegiatan
a. Hasil dan proses kegiatan ekstra kurikuler dinilai secara kualitatif dan dilaporkan kepada pimpinan     sekolah/madrasah dan pemangku kepentingan lainnya oleh penanggung jawab kegiatan.
b. Kegiatan ekstra kurikuler di sekolah/madrasah dipantau, dievaluasi, dan dibina melalui kegiatan         pengawasan.
c. Pengawasan kegiatan ekstra kurikuler dilakukan secara: a) interen, oleh kepala sekolah/madrasah.;     dan b) eksteren, oleh pihak yang secara struktural/fungsional memiliki kewenangan membina             kegiatan ekstra kurikuler yang dimaksud.
d. Hasil pengawasan didokumentasikan, dianalisis, dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu               perencanaan dan pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah/madrasah.

Kegiatan Ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler juga sangat penting dilaksanakan karena akan memberikan pengalaman bagi siswa. ada bermacam-macam kegiatan ekstrakurikuler yang dapat dilakukan di sekolah.

Pengertian Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan Ekstra Kurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/madrasah.


Fungsi Kegiatan Ekstra Kurikuler 
a. Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan           kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka.
b. Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa                   tanggung jawab sosial peserta didik.
c. Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan suasana rileks,                         mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan.
d. Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir               peserta didik.

Prinsip Kegiatan Ekstra Kurikuler 
a. Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat dan minat           peserta didik masing-masing.
b. Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan keinginan dan diikuti secara           sukarela peserta didik.
c. Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang menuntut keikutsertaan peserta             didik secara penuh.
d. Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler dalam suasana yang disukai dan                       mengembirakan peserta didik.
e. Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang membangun semangat peserta didik untuk       bekerja dengan baik dan berhasil.
f. Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang dilaksanakan untuk kepentingan         masyarakat.

Jenis kegiatan Ekstra Kurikuler 
a. Krida, meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), Palang Merah                 Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA).
b. Karya Ilmiah, meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan                   kemampuan akademik, penelitian.
c. Latihan/lomba keberbakatan/prestasi, meliputi pengembangan bakat olah raga, seni dan budaya,         cinta alam, jurnaistik, teater, keagamaan.
d. Seminar, lokakarya, dan pameran/bazar, dengan substansi antara lain karir, pendidikan, kesehatan,       perlindungan HAM, keagamaan, seni budaya.

Format Kegiatan 
a. Individual, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik secara perorangan.
b. Kelompok, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti oleh kelompokkelompok peserta           didik.
c. Klasikal, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik dalam satu kelas.
d. Gabungan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti peserta didik                                            antarkelas/antarsekolah/madraasah. 
e. Lapangan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti seorang atau sejumlah peserta didik       melalui kegiatan di luar kelas atau kegiatan lapangan.

Cara Pembelajaran Remedial

ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran program remedial berikut saya share tentang langkah-langkah pembelajaran program remedial pembelajaran.

Identifikasi Permasalahan Pembelajaran Penting untuk memahami bahwa “tidak ada dua individu yang persis sama di dunia ini”, begitu juga penting untuk memahami bahwa peserta didik pun memiliki beragam variasi baik kemampuan, kepribadian, tipe dan gaya belajar maupun latar belakang sosial-budaya. Oleh karenanya guru perlu melakukan identifikasi terhadap keseluruhan permasalahan pembelajaran. Secara umum identifikasi awal bisa dilakukan melalui : a) Observasi (selama proses pembelajaran); b) Penilaian otentik (bisa melalui tes/ulangan harian atau penilaian proses)

Permasalahan pembelajaran bisa dikategorikan ke dalam 3 fokus perhatian:
a) Permasalahan pada keunikan peserta didik Keberagaman individu dapat membedakan hasil belajar dan permasalahan belajar pada peserta didik.Ada peserta didik yang cenderung lebih aktif dan senang praktik secara langsung, ada yang cenderung mengamati, ada yang lebih tenang dan suka membaca.
Di kelas, guru juga perlu memiliki wawasan lebih menyeluruh mengenai latar belakang keluarga dan sosial budaya.Peserta didik yang dibesarkan dalam keluarga pedagang, tentu memiliki keterampilan berbeda dengan keluarga petani atau nelayan. Peserta didik yang berasal dari keluarga yang terpecah, mungkin berbeda dengan peserta didik yang berasal dari keluarga harmonis dan mendukung kegiatan belajar.


b) Permasalahan pada materi ajar Rancangan pembelajaran telah disiapkan dalam buku guru dan buku siswa.Pada praktiknya, tidak semua yang disajikan dalam materi ajar, sesuai dengan kompetensi peserta didik.Guru bisa sajamenemukan bahwa materi ajar (KD) yang disajikan dalam buku terlalu tinggi bagi peserta didik tertentu. Oleh karena itu perlu disiapkan berbagai alternatif contoh aktivitas pembelajaran yang bisa digunakan guru untuk mengatasai permasalahan pembelajaran ini. (contoh dan alternatif aktivitas untuk siswa yang merasa kesulitan terhadap materi ajar, bisa dilihat dalam buku “Panduan Teknis Penggunaan Buku Guru dan Siswa)

c) Permasalahan pada strategi pembelajaran Dalam proses pembelajaran, guru sebaiknya tidak hanya terpaku pada satu strategi atau metode pembelajaran saja. Dikarenakan tipe dan gaya belajar peserta didik sangat bervariasi termasuk juga minat dan bakatnya, maka guru perlu mengidentifikasi apakah kesulitan peserta didik dalam menguasai materi disebabkan oleh strategi atau metode belajar yang kurang sesuai.

Perencanaan Setelah melakukan identifikasi awal terhadap permasalahan belajar anak, guru telah memperoleh pengetahuan yang utuh tentang peserta didik dan mulai untuk membuat perencanaan. Dengan melihat bentuk kebutuhan dan tingkat kesulitan yang dialami peserta didik, guru bisa merencanakan kapan waktu dan cara yang tepat untuk melakukan pembelajaran remedial.

Pada prinsipnya pembelajaran bisa dilakukan : a) Segera setelah guru mengidentifikasi kesulitan peserta didik dalam, b) proses pembelajaran, c) Menetapkan waktu khusus di luar jam belajar efektif. Dalam perencanaaan guru perlu menyiapkan hal-hal yang mungkin diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran remedial, seperti : a) Menyiapkan Media Pembelajaran, b) Menyiapkan contoh-contoh dan alternatif aktifitas, c) Menyiapkan materi-materi dan alat pendukung.

Pelaksanaan Setelah perencanaan disusun, langkah selanjutnya adalah melaksanakan program pembelajaran remedial. Ada 3 fokus penekanan : a) Penekanan pada keunikan peserta didik, 2) Penekanan pada alternative contoh dan aktivitas terkait materi ajar, c) Penekanan pada strategi/metode pembelajaran, d) Penilaian Otentik, e)

Penilaian otentik dilakukan setelah pemebalajaran remedial selesai dilaksanakan. Berdasarkan hasil penilaian, bila peserta didik belum mencapai kompetensi minimal (tujuan) yang ditetapkan guru, maka guru perlu meninjau kembali strategi pembelajaran remedial yang diterapkannya atau melakukan identifikasi (analisa kebutuhan) terhadap peserta didik dengan lebih seksama.

Program Remedial Pembelajaran

Selain program pengayaan pembelajaran seperti yang share sebelumnya juga terdapat program remedial pembelajaran. berikut tentang program remedial pembelajaran.

Program Remedial adalah program pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kompentensi minimalnya dalam satu kompetensi dasar tertentu. Metode yang digunakan dapat bervariasi sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan belajar yang dialami peserta didik dan tujuan pembelajarannya pun dirumuskan sesuai dengan kesulitan yang dialami peserta didik. 



Pada program pembelajaran remedial, media belajar harus betul-betul disiapkan guru agar dapat mempermudah peserta didik dalam memahami pelajaran yang dirasa sulit.Alat evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran remedial pun perlu disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami peserta didik. 

Mengapa diperlukan pembelajaran remedial? 
Setiap guru berharap peserta didiknya dapat mencapai penguasaan kompetensi yang telah ditentukan. Berdasarkan permendikbud No.65 tentang Standar Proses,No.66 thn 2013 tentang standar penilaian, setiap pendidik hendaknya memperhatikan prinsip perbedaan individu (kemampuan awal, kecerdasan,kepribadian, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, gaya belajar), maka program pembelajaran remedial dilakukan untuk memenuhi kebutuhan/hak anak. 

Dalam program pembelajaran remedial guru akan membantu peserta didik, untuk memahami kesulitan belajar yang dihadapinya, mengatasi kesulitannya tersebut dengan memperbaiki cara belajar dan sikap belajar yang dapat mendorong tercapainya hasil belajar yang optimal. 

Kapan dilakukan program pembelajaran remedial? 
Mengacu pada permendikbud 65 tentang Standar Proses,No.66 thn 2013: “Hasil penilaian otentik dapat digunakan oleh guru untuk merencanakan program perbaikan (remedial), pengayaan (enrichment) atau pelayanan konseling. Penilaian yang dimaksud adalah tidak terpaku pada hasil tes (ulangan harian) pada KD tertentu. 

Penilaian juga bisa dilakukan ketika proses pembelajaran berlangsung (dari aspek pengetahuan, sikap ataupun keterampilan). Pembelajaran remedial dilakukan ketika peserta didik teridentifikasi oleh guru mengalami kesulitan terhadap penguasaan materi pada KD tertentu yang sedang berlangsung. Guru dapat langsung (segera) melakukan perbaikan pembelajaran (remedial) sesuai dengan kesulitan peserta didik tersebut, tanpa menunggu hasil tes (ulangan harian). Program pembelajaran remedial dilaksanakan di luar jam pelajaran efektif atau ketika proses pembelajaran berlangsung (bila memungkinkan). 

Berapa lama program pembelajaran remedial dilakukan? 
Program pembelajaran remedial dilaksanakan sampai peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diharapkan (tujuan tercapai).Ketika peserta didik telah mencapai kompetensi minimalnya (setelah program pembelajaran remedial dilakukan), maka pembelajaran remedial tidak perlu dilanjutkan. 

Bagaimana program pembelajaran remedial dilakukan? 
Teknik pembelajaran remedial bisa diberikan secara individual maupun secara berkelompok (bila terdapat beberapa peserta didik yang mengalami kesulitan pada KD yang sama). Beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran remedial yaitu : pembelajaran individual, pemberian tugas, diskusi, tanya jawab, kerja kelompok, dan tutor sebaya. 

Aktivitas guru dalam pembelajaran remedial, antara lain : memberikan tambahan penjelasan atau contoh, menggunakan strategi pembelajaran yang berbeda dengan sebelumnya, mengkaji ulang pembelajaran yang lalu, menggunakan berbagai jenis media.Setelah peserta didik mendapatkan perbaikan pembelajaran,ia perlu menempuh penilaian, untuk mengetahui apakah peserta didik sudah menguasai kompetensi dasar yang diharapkan. 

Siapa yang melakukan program pembelajaran remedial?
Yang melakukan program pembelajaran remedial adalah Guru kelas. Guru kelas dapat melakukan identifikasi terhadap kesulitan peserta didik dan langsung membuat perencanaan pembelajaran remedial. (misal mencari metode dan aktivitas yang lebih tepat, mencari dan menetapkan waktunya). 

Prinsip-prinsip Program Remedial: 
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran remedial sesuai dengan sifatnya sebagai pelayanan khusus antara lain: 
Adaptif Pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan peserta didik untuk belajar sesuai dengan daya tangkap, kesempatan, dan gaya belajar masingmasing. 

Interaktif Pembelajaran remedial hendaknya melibatkan keaktifan guru untuk secara intensif berinteraksi dengan peserta didik dan selalu memberikan monitoring dan pengawasan agar mengetahui kemajuan belajar peserta didiknya. 

Fleksibilitas dalam metode pembelajaran dan penilaian Pembelajaran remedial perlu menggunakan berbagai metode pembelajaran dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. 

Pemberian umpan balik sesegera mungkin Umpan balik berupa informasi yang diberikan kepada peserta didik mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin agar dapat menghindari kekeliruan belajar yang berlarut-larut. 

Pelayanan sepanjang waktu Pembelajaran remedial harus berkesinambungan dan programnya selalu tersedia agar setiap saat peserta didik dapat mengaksesnya sesuai dengan kesempatan masing-masing.

tips pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan jenis dan bentuknya

Jenis Pembelajaran Pengayaan
Ada tiga jenis pembelajaran pengayaan, yaitu:
1) Kegiatan eksploratori yang bersifat umum yang dirancang untuk disajikan kepada peserta didik. Sajian dimaksud berupa peristiwa sejarah, buku, tokoh masyarakat, dsb, yang secara regular tidak tercakup dalam kurikulum.

2) Keterampilan proses yang diperlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran mandiri.

3) Pemecahan masalah yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/ penelitian ilmiah.

Pelaksanaan pembelajaran pengayaan
Pemberian pembelajaran pengayaan pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih, baik dalam kecepatan maupun kualitas belajarnya. Agar pemberian pengayaan tepat sasaran maka perlu ditempuh langkah-langkah sistematis, yaitu pertama mengidentifikasi kelebihan kemampuan peserta didik, dan kedua memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran pengayaan. 

Identifikasi Kelebihan Kemampuan Belajar Identifikasi kemampuan berlebih peserta didik dimaksudkan untuk mengetahui jenis serta tingkat kelebihan belajar peserta didik. Kelebihan kemampuan belajar itu antara lain meliputi: 

Belajar lebih cepat. Peserta didik yang memiliki kecepatan belajar tinggi ditandai dengan cepatnya penguasaan kompetensi (SK/KD) mata pelajaran tertentu. 

Menyimpan informasi lebih mudah Peserta didik yang memiliki kemampuan menyimpan informasi lebih mudah, akan memiliki banyak informasi yang tersimpan dalam memori/ ingatannya dan mudah diakses untuk digunakan. 

Keingintahuan yang tinggi Banyak bertanya dan menyelidiki merupakan tanda bahwa seorang peserta didik memiliki hasrat ingin tahu yang tinggi. 

Berpikir mandiri. Peserta didik dengan kemampuan berpikir mandiri umumnya lebih menyukai tugas mandiri serta mempunyai kapasitas sebagai pemimpin. 

Superior dalam berpikir abstrak. Peserta didik yang superior dalam berpikir abstrak umumnya menyukai kegiatan pemecahan masalah. 

Memiliki banyak minat. Mudah termotivasi untuk meminati masalah baru dan berpartisipasi dalam banyak kegiatan. 

Teknik Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih peserta didik dapat dilakukan antara lain melalui : tes IQ, tes inventori, wawancara, pengamatan, dsb. 

Tes IQ (Intelligence Quotient) adalah tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat kecerdasan peserta didik. Dari tes ini dapat diketahui tingkat kemampuan spasial, interpersonal, musikal, intrapersonal, verbal, logik/matematik, kinestetik, naturalistik, dsb. 

Tes inventori digunakan untuk menemukan dan mengumpulkan data mengenai bakat, minat, hobi, kebiasaan belajar, dsb. 

Wawancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai program pengayaan yang diminati peserta didik. 

Pengamatan (observasi) dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun tingkat pengayaan yang perlu diprogramkan untuk peserta didik. 

Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan 
Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan antara lain melalui: 

Belajar Kelompok Sekelompok peserta didik yang memiliki minat tertentu diberikan pembelajaran bersama pada jam-jam pelajaran sekolah biasa, sambil menunggu teman-temannya yang mengikuti pembelajaran remedial karena belum mencapai ketuntasan. 

Belajar mandiri. Secara mandiri peserta didik belajar mengenai sesuatu yang diminati. 

Pembelajaran berbasis tema. Memadukan kurikulum di bawah tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan antara berbagai disiplin ilmu. 

Pemadatan kurikulum. Pemberian pembelajaran hanya untuk kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik. Dengan demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing. 

Perlu dijelaskan bahwa panduan penyelenggaraan pembelajaran pengayaan ini terutama terkait dengan kegiatan tatap muka untuk jam-jam pelajaran sekolah biasa. Namun demikian kegiatan pembelajaran pengayaan dapat pula dikaitkan dengan kegiatan tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. 

Sekolah dapat juga memfasilitasi peserta didik dengan kelebihan kecerdasan dalam bentuk kegiatan pengembangan diri dengan spesifikasi pengayaan kompetensi tertentu, misalnya untuk bidang sains. Pembelajaran seperti ini diselenggarakan untuk membantu peserta didik mempersiapkan diri mengikuti kompetisi tingkat nasional maupun internasional seperti olimpiade internasional fisika, kimia dan biologi. 

Sebagai bagian integral dari kegiatan pembelajaran, kegiatan pengayaan tidak lepas kaitannya dengan penilaian. Penilaian hasil belajar kegiatan pengayaan, tentu tidak sama dengan kegiatan pembelajaran biasa, tetapi cukup dalam bentuk portofolio, dan harus dihargai sebagai nilai tambah (lebih) dari peserta didik yang normal.

Program Pengayaan

Secara umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik yang melampui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak semua peserta didik dapat melakukannya. Untuk memahami pengertian program pembelajaran pengayaan, terlebih dahulu perlu diperhatikan bahwa KTSP yang berlaku berdasar permendiknas 22, 23, dan 24 Tahun 2006 pada dasarnya menganut sistem pembelajaran berbasis kompetensi, sistem pembelajaran tuntas, dan sistem pembelajaran yang memperhatikan dan melayani perbedaan individual peserta didik.

Sistem dimaksud ditandai dengan dirumuskannya secara jelas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai peserta didik. Penguasaan SK dan KD setiap peserta didik diukur dengan menggunakan sistem penilaian acuan kriteria (PAK). Jika seorang peserta didik mencapai standar tertentu maka peserta didik tersebut dipandang telah mencapai ketuntasan.

Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, lazimnya guru mengadakan penilaian awal untuk mengetahui kemampuan peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang akan dipelajari sebelum pembelajaran dimulai. Kemudian dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan berbagai strategi seperti ceramah, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri, dsb. Melengkapi strategi pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti media audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari kaset audio, slide, video, komputer multimedia, dsb.


Di tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, diadakan penilaian proses dengan menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari. Penilaian proses juga digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran bila dijumpai hambatan-hambatan.

Pada akhir program pembelajaran, diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar, apakah seorang peserta didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan kompetensi tertentu. Penilaian akhir program ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan apakah peserta didik telah mencapai kompetensi (tingkat penguasaan) minimal atau ketuntasan belajar seperti yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan.

Jika ada peserta didik yang lebih mudah dan cepat mencapai penguasaan kompetensi minimal yang ditetapkan, maka sekolah perlu memberikan perlakuan khusus berupa program pembelajaran pengayaan. Pembelajaran pengayaan merupakan pembelajaran tambahan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan pembelajaran baru bagi peserta didik yang memiliki kelebihan sedemikain rupa sehingga mereka dapat mengoptimalkan perkembangan minat, bakat, dan kecakapannya.

Pembelajaran pengayaan berupaya mengembangkan keterampilan berpikir, kreativitas, keterampilan memecahkan masalah, eksperimentasi, inovasi, penemuan, keterampilan seni, keterampilan gerak, dsb. Pembelajaran pengayaan memberikan pelayanan kepada peserta didik yang memiliki kecerdasan lebih dengan tantangan belajar yang lebih tinggi untuk membantu mereka mencapai kapasitas optimal dalam belajarnya.

Pendekatan Teknologi Dalam Pengelolaan Kelas

Pembelajaran tidak hanya terpaku pada kegiatan yang dari hanya berbicara dan transfer pengetahuan, seiring dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi sekolah mencari bentuk baru dalam proses belajar pembelajaran anak.

Pembelajaran yang dimaksudkan adalah perkembangan teknologi dimasa kini dan mendatang murid butuh untuk persiapan dirinya trutama kaitanyya dengan pengembangan projek-projek yang harus dikerjakan baik secara individual maupun kelompok.


Hal ini tentunya mendorong guru untuk lebih bertindak sebagai coaching dari pada hanya sekedar telling dan spending ilmu pengetahuan. Pemanfaatan teknologi informasi adalah basis dalam pengembangan pembelajaran di dalam kelas, baik dalam pengaturan kelas dengan alat teknologitersebut (praktek), maupun kelas yang di sett dengan alat teknologi yang memungkinkan anak dapat mempelajari apa yang diinginkannya dengan bantuan alat teknologi tersebut.

Pentingnya Guru yang Inovatif dalam Restrukturisasi Kelas Berbasis Teknologi.
Setiap guru menghendaki muridnya dapat belajar dan sukses dalam belajarnya. Keberhasilan dalam belajar murid akan bergantung kepada usaha-usaha guru memberikan arahan dan memberikan bantuan dalam kegiatan belajar tersebut. Dengan perbedaan yang dimiliki oleh murid teknologi memungkinkan secara individual projek-projek perorangan dapat dilakukan dengan maksimal, tentunya dengan bantuan dan dorongan dari guru.

Guru yang inovatif sangat dibutuhkan dalam memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu dalam pembelajaran yang akan dilakukannya, dimulai dari kegiatan merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran sampai kepada penilaian hasil belajar akan membutuhkan energi yang tinggi. Oleh karena itu orang kreatif itu akan mudah dalam menemukan inovasi-inovasi yang memungkinkan kegiatan pembelajarnnya lebih cepat, lebih berhasil dan lebih bermanfaat bagi murid.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam restrukturisasi kelas berbasis teknologi
Adalah hal yang penting bagi guru ketika memikirkan bahwa pembelajaran berbasis teknologi tidak hanya terpfokus pada teknologi komputer, walaupun memang pada saat ini komputer adalah salah satu alat yang sedang digemari oleh sekolah dalam mendukung kegiatan anak disekolah walaupun baru sampai pada tarap kegiatan ekstrakurikuler saja.

Ada alat lainnya yang juga bisa dimanfaatkan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan tidak hanya sebagai alat bantu akan tetapi memang sebagai kegiatan belajar yang dijalani oleh siswa, seperti telepon, facsimile, video teknologi, dan lain-lain.

Guru berkepenitngan untuk memilih dan menetukan teknologi yang digunakan terutama kaitannya dengan kepentingan spesifikasi kegiatan belajar yang harus dilakukan oleh siswa dan hasil yang diharapkan. Implikasinya bagi guru dalam pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran adalah memperlancar kegiatan dan memudahkan dalam proses pembelajaran sebagai berikut :

- Menuntut banyak kegiatan dari siswa dan menutut murid untuk bnyak berhati-hati untuk menyiapkan pekerjaanya
- Dapat menyajikan bahan ajar yang komplek
- Mempercayai murid dapat memahami konsep-konsep yang berat
- Dapat mempertemukan kebutuhan individual murid yang paling baik
- Dapat lebih memokuskan pada kegiatan murid sebagai senter dalam proses pembelajaraannya
- Membuka lebih luas perbedaan-perbedaan individual dan permasalahanpermasalahan yang muncul     dalam pembelajaran
- Membuka kesempatan yang lebih luas dalam perbedaan pengalaman belajar bagi murid
- Merasa lebih professional, karena dinatara alat yang ada dapat mengurangi waktu dalam                     memberikan instruksi dan lebih kepada membantu anak dalam belajar.

Pertanyaan lainnya bagi guru ketika memulai pembelajaran dengan basis teknologi adalah :

- Bagaimana murid mereaksi terhadap teknologi yang dipergunakan dalam belajarnya?
- Bagaimana teknologi memberikan dampak terhadap pengetahuan yang akan diberikan kepada              murid dan bagaimana murid dapat menangkapnya?
- Bagaimana teknolgi dapat merubah ruang dan waktu dalam kegiatan belajar mengajar?
- Keterampilan baru apa yang harus dimiliki murid ketika akan memulai berlajar?
- Bagaimana teknologi dapat merubah kelas dan hubungan guru dengan murid?
- Bagaimana teknolgi memberikan dampak terhadap prestasi di kelas?
- Bagaimana teknologi ini berkerja/dijalankan?
- Berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan teknologi dalam pembelajaran di            kelas?
- Apakah teknologi dapat merubah gaya mengajar?
- Permasalahan-permasalahan apa yang dapat ditemukan bila memanfaatkan teknologi terutama           dalam pengelolaan kelas?

Kelas Menyenangkan

Kelas adalah lingkungan sosial bagi anak/siswa, dimana di dalam kelas terjadi proses interaksi baik siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru. Di dalam kelas juga terjadi kontak fisik dimana siswapun akan berhubungan dengan segala fasilitas yang ada di kelas. Oleh karena itu kelas harus di disain sedemikian rupa oleh guru sehingga kelas merupakan lingkungan yang menyenangkan bagi siswa dalam tugas dan peranannya di dalam kelas sebagai peserta didik dan tugas serta peranannya dalam perkembangan fisik maupun emosionalnya.


Kelas harus memenuhi syarat-syarat yang menggambarkan sebagai kelas yang baik dan menyenangkan antaralain: a) Kelas itu harus rapi, bersih, sehat dan tidak lembab; b) Kelas harus memiliki/memperoleh cukup cahaya yang meneranginya; c) Sirkulasi udara dari dalam dan luar kelas harus cukup; d) Perabot dalam keadaan baik, cukup jumlahnya dan ditata dengan rapi; dan e) Jumlah siswa tidak melibihi dari 40 orang.

Prasarat dalam mengembangkan perancangan sarana fisik dan perlengkapan kelas tergantung pada empat faktor yaitu :

Aspek fungsional
Dilihat dari kesesuaian dengan kebutuhan akan ruang, memperhatikan norma kenyamanan dari pandangan arsitektur dan kaidah internasional, serta terhindar dari kebisingan dan kegiatan yang membutuhkan ketenangan di sekitar kelas.

Aspek Konstruksi
Memiliki keterpenuhan dan pemanfaatkan bahan lokal yang berkualitas yang dapat ditangani oleh pekerja lokal, memenuhi tuntutan kekhasan bangunan lokal, dapat dipadukan dengan bahan modern dalm upaya memenuhi kebutuhan jangka panjang dan pemeliharaan yang murah serta pemilihan metode konstruksi dan bahan yang tahan terhadap gangguan dan kerusakan alam.

Estetika
Memiliki kesesuaian dengan kebutuahan ruang yang layak untuk kemanusiaan, terintegrasi secara visual dengan masyarakatnya, menarik bagi peserta belajar dan masyarakat untuk mengambil manfaat keberadaannya serta mempertimbangkan secara sempurna tuntutan arsitektur.

Pembiayaan
Masih dalam batas pertimbangan kebutuhan arsitektur baik dilihat dari biaya per unit, biaya per satuan peserta belajar.

Dapat kita bayangkan jika belajar tanpa kelas sama sekali atau siswa tidak pernah belajar di dalam kelas sama sekali tentu juga akan membuat kejenuhan, namun bukan berarti tidak akan berhasil. Keberhasilan pembelajaran bukan hanya ditentukan oleh kelas yang megah tetapi juga karena faktor guru, siswa, sarana dan prasarana, motivasi siswa, dukungan orang tua siswa dan sebagainya.

Cara Pengaturan Kondisi kelas Menciptakan Iklim Belajar

Pengaturan kondisi kelas juga menjadi faktor penentu dalam pembelajaran. keberhasilan pembelajaran juga di tunjang oleh iklim belajar, dan iklim belajar bisa tercipta dari kondisi kelas. maka dari itu seorang guru harus pandai menciptakan kondisi kelas yang kondusif dan menyenangkan sehingga menciptakan iklim belajar yang kondusif.

a. Kondisi Fisik
Lingkungan fisik tempat belajar memberikan pengaruh terhadap hasil bejar anak. Guru harus dapat menciptakan lingkungan yang membantu perkembangan pendidikan peserta didik. Ruang tempat berlangsungnya pembelajaran ; Ruang Kelas, Ruang Laboratorium, Ruang Serbaguna/Aula. Pengaturan tempat duduk ; Pola berderet atau berbaris-belajar, Pola susun berkelompok, Pola formasi tapal kuda, Pola lingkaran atau persegi. Ventilasi dan pengaturan cahaya. Pengaturan penyimpanan barang-barang.

b. Kondisi Sosio Emosional
Kondisi sosio-emosional akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dan efektivitas tercapainya tujuan pengajaran. Tipe kepemimpinan guru, artinya adalah fungsi yang melakat pada guru ketika berada dalam kelas. Gaya apa yang muncul ketika guru melaksanakan peran sebagai pem,impin dalam pembelajaran di kelas. 


Apakah gaya otoriter segala sesuatunya diatur dan diarahkan oleh sendiri dan siswa tidak diberikan kesempatan untuk terlibat didalamnya, atau gaya demokrasi dimana terjadi proses timbal balik antara guru dan murid sesuai dengan peranannya masingmasing. Sikap guru, sikap yang diperlihatkan oleh guru di depan kelas atau di luar kelas yang akan mempengaruhi mod anak, apakah anak merasa tertarik dengan sikap guru atau malah tidak tertarik. Sikap yang baik sebagai seorang guru, bapak/ibu, kakak, orang dewasa yang memberikan bimbingan tentunya adalah hal yang paling baik diperlihatkan.

Pembinaan hubungan baik, hubungan antara guru dengan murid harus dibangun berdasarkan fungsi masing-masing dalam konteks belajar mengajar dikelas, akan tetapi apabila memungkinkan dapat juga dibangun sifat-sifat kekeluargaan dan keakraban yang menyebabkan siswa merasa nyaman dan aman berhubungan seperti dengan ibu dan bapaknya dirumah.

c. Kondisi Organisasional
Kegiatan rutin secara organisasional dilakukan baik tingkat kelas maupun tingkat sekolah akan mencegah timbulnya masalah dalam pengelolaan kelas. Pergantian pelajaran, ketika terjadi penggantian dalam pelajaran harus disikapi oleh guru karena dalam proses ini ada jeda (kekosongan) yang memungkinkan terjadinya interaksi yang tidak diharapkan dari siswa dengan siswa lainnya. Perlu disikapi dengan arif bahwa ketika mengahiri pelajaran guru tidak terlalu cepat karena guru selanjutnya apakah sudah tiba dan apabila belum maka masa jeda itu terlalu lama.

Guru berhalangan hadir, guru yang berhalangan hadir akan menyebabkan terjadinya kekosongan dalam proses belajar mengajar. Untuk menghindari terjadinya keributan atau perilaku-perilaku yang tidak diharapkan dari siswa seperti berlarian kesanaha kemari menggangu kelas lain, dan menimbulkan kerusakan pada fasilitas kelas, maka guru piket harus paham apa yang terjadi dan mempersiapkan diri untuk menutup ketidakhadiran tersebut.

Masalah antar siswa, masalah antar siswa biasanya terjadi karena kondisi emosional yang tidak terkendali dan tidak terorganisasikan oleh guru. Guru harus memahami karakteristik dan potensi guru sehingga dapat dipahami keseluruhan perilaku masing-masing dan menekan munculnya konflik diantaranya. Upacara bendera, pada saat upacara bendera siswa harus diorganisasikan berdasarkan tingkatan kelas sehingga mereka dapat tertib mengikuti kegiatan upacara bendera.

Kegiatan lain; kesehatan dan kehadiran siswa, penyampaian informasi dari sekolah kepada guru dan siswa, peraturan sekolah yang baru, kegiatan rekreasi dan social.

d. Kondisi Administrasi
Kondisi administrasi akan turut mempengaruhi manajemen pembelajaran di dalam kelas. Daftar presensi, kerapihan, kebersihan dan keteraturan daftar presensi akan memberikan dukungan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan. Keterdukungan dari sisi keteraturan dalam presensi akan memberikan efek psikologis terhadap siswa karena terjadi keadilan dalam perlakuan.

Ruang bimbingan siswa, ruang bimbingan siswa diarahkan untuk memberikan bantuan pada siswa yang secara emosional memiliki masalah. Hal terpenting dari ruang bimbingan adalah bagaimana ruang tersebut tidak menimbulkan ketakutan ketika harus berhubungan dengan guru disana. Tempat baca, tempat baca merupakan bagian dari fasilitas yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi dengan kawan-kawannya, dengan fasilitas dan guru.

Tempat sampah, tempat sampah yang bersih ditempatkan di tempat yang tepat dan tidak menggangu kegiatan belajar maupun bermain siswa, akan memberikan dukungan terhadap pencapaian tujuan pembelajaran di kelas. Bau sampah, berserakan dimana-mana, siswa tidak mengetahui tempat penyimpanan sampah atau karena tidak ada tempat sampah akan berakibat buruk pada kondisi sosio-emosional dan fisik siswa.

Metode Kegiatan dan Tujuan Manajemen Kelas

Ada beberapa hal yang dapat dijadikan metode kegiatan dalam manajemen kelas. Kegiatan manajemen kelas meliputi dua kegiatan yang terdiri dari; 

Pengaturan orang (siswa)
Pengaturan orang atau siswa adalah bagaimana mengatur dan menempatkan siswa dalam kelas sesuai dengan potensi intelektual dan perkembangan emosionalnya. Siswa diberikan kesempatan untuk memperoleh posisi dalam belajar yang sesuai dengan minat dan keinginannya.

Pengaturan fasilitas
Pengaturan fasilitas adalah kegiatan yang harus dilakukan siswa, sehingga seluruh siswa dapat terfasilitasi dalam aktivitasnya di dalam kelas. Pengaturan fisik kelas diarahkan untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa sehingga siswa merasa senang, nyaman, aman, dan belajar dengan baik.


Untuk lebih jelasnya, pengaturan siswa dan fasilitas kelas dapat dilihat dalam bagan seperti di bawah ini: Kegiatan-kegiatan yang perlu dilaksanakan dalam manajemen kelas sebagai aspek-aspek manajemen kelas yang tertuang dalam petunjuk pengelolaan kelas adalah : 
1) Mengecek kehadiran siswa, 2) Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, memeriksa dan menilai hasil pekerjaan tersebut, 3) Pendistribusian bahan dan alat, 4) Mengumpulkan informasi dari siswa, 5) Mencatat data, 6) Pemeliharaan arsip, 7) Menyampaikan materi pelajaran, 8) Memberikan tugas/PR.

Tujuan Manajemen Kelas
Manajemen kelas pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Adapun kegiatan pengelolaan fisik dan pengelolaan sosio-emosional merupakan bagian dalam pencapaian tujuan pembelajaran dan belajar siswa.

Tujuan manajemen kelas : (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen : 1996) 
Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin

Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran

Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan social, emosional dan intelektual siswa dalam kelas.

Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang social, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individualnya.

Indikator Keberhasilan dalam pengelolaan kelas dapat dilihat dari aspek: 

Terciptanya suasana/kondisi belajar mengajar yang kondusif (tertib, lancar, berdisiplin dan bergairah)

Terjadinya hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa (Alam S : 2003)

Konsep Manajemen Kelas

Manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Atau dapat dikatakan bahwa manajemen kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis.


Usaha sadar itu mengarah pada penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi/kondisi proses belajar mengajar dan pengaturan waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan kurikuler dapat tercapai (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996).

Menurut Dirjen Dikdasmen yang menjadi tujuan manajemen kelas adalah :

  1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin. 
  2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
  3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual siswa dalam kelas.
  4. Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.



Konsep dasar yang perlu dicermati dalam manajemen kelas adalah penempatan individu, kelompok, sekolah dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Tugas guru seperti mengontrol, mengatur atau mendisiplinkan peserta didik adalah tindakan yang kurang tepat lagi untuk saat ini. Sekarang aktivitas guru yang terpenting adalah memanaj, mengorganisir dan mengkoordinasikan segala aktivitas peserta didik menuju tujuan pembelajaran.

Mengelola kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosis dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas terhadap aspek-aspek manajemen kelas. Adapun aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manjemen kelas adalah sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan selektif dan kreatif.

Manajemen Kelas adalah rentetan kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif, yaitu meliputi : tujuan pengajaran, pengaturan waktu, pengaturan ruangan dan peralatan, dan pengelompokan siswa dalam belajar. (Alam S : 1B) Pengelolaan kelas adalah segala kegiatan guru di kelas yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar.

(Raka Joni : 1). Manajemen Kelas adalah kegiatan pengelolaan perilaku murid-murid, sehingga murid-murid dapat belajar (E.C. Wragg : v) Dari Wilford A. Weber : 1986 manajemen kelas adalah :
Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalaui penggunaan disiplin (pendekatan otoriter)

Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui intimidasi pendekatan intimidasi)

Seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa (pendekatan permisif)

Seperangkat kegiatan guru menciptakan suasana kelas dengan cara mengikuti petunjuk/resep yang telah disajikan (pendekatan buku masak)

Seperangkat kegiatan guru menciptakan suasana kelas dengan cara mengikuti petunjuk/resep yang telah disajikan (pendekatan buku masak)

Seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan suasana kelas yang efektif melalui perencanaan pembelajaran yang bermutu dan dilaksanakan dengan baik (pendekatan instruksional)

Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan dengan mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan (pendekatan perubahan perilaku)

Seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif (pendekatan penciptaan iklim sosio-emosional)

Seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif (pendekatan sistem sosial)

Cara Manajemen Kelas

Organisasi sekolah sebagai lembaga yang bukan saja besar secara fisik, tetpi juga mengemban misi yang mulia untuk mencerdaskan kahidupan bangsa, untuk itu tentu saja memerlukan manajemen yang profesional. Dalam proses belajar mengajar di kelas, sebelum melaksnakan kegiatan pembelajaran ada hal yang harus dilakukan oleh guru yaitu mengelola kelas. Mengelola kelas adalah kegiatan mengatur sejumlah sumber daya yang ada di kelas sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang ingin di capai secara efektif dan efesien.


Kegiatan pengaturan sumber daya yang dilakukan di dalam kelas mencakup unsur manusia dan non-manusia, kedua unsure tersebut memiliki kedudukan yang sama penting guna mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang dikehendaki. Unsur non-manusia mencakup keseluruhan unsur fisik kelas, ruangan dan seluruh fasilitas yang ada di kelas baik yang akan dipergunakan langsung dalam proses pembelajaran maupun yang tidak langsung.

Unsur yang mendukung langsung seperti meja, kursi dan media pembelajaran yang akan digunakan, sedangkan yang tidak langsung seperti keadaan ruangan kelas, ventilasi dan unsur fisik lainnya. Unsur manusia, adalah sejumlah perilaku yang mungkin muncul dan akses-akses yang memungkinkan terjadinya gangguan dari sikap dan perilaku siswa di dalam kelas. Kedua unsur tersebut menjadi perhatian utama guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. 


Karena keberlangsungan kegiatan pembelajaran berhasil tidaknya akan sangat ditentukan oleh keteraturan dari kedua unsur tersebut. Pengaturannya harus disesuaikan dengan bahan dan tujuan yang akan dicapai dari kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan.

Secara garis besar kondisi fisik kelas dan sosio-emosional siswa akan mempengaruhi jalannya kegiatan belajar siswa dan kegiatan mengajar guru. Untuk itu diperlukan pemahaman dan keterampilan guru dalam mengatur kedua unsur tersebut, pemahaman yang dimaksudkan adalah guru harus mempelajari dan mendalami teori-teori dari kegiatan manajemen kelas yang dimaksudkan. 

Sedangkan keterampilan adalah kemampuan yang dapat dipraktekan oleh guru, untuk dapat memiliki keterampilan tersebut maka guru harus terus menerus mencoba dan mempraktekan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang dirasakannya serta mencari bentuk-bentuk baru sebagai bentuk inovasi dalam kegiatan manajemen kelas.

Tips Membuat Media Pembelajaran Berbasis ICT

Tulisan ini meanjutkan tulisan yang terdahulu trik membuat media pembelajaran. Tulisan ini dapat pula di gunakan untuk siapa saja yang tertarik dalam pengembangan media apapun baik cetak maupun non cetak.

a. Tips 1: Optimalkan Komponen Pemicu (Triger)
Apa yang dimaksud dengan komponen pemicu (triger)? Yang dimaksud dengan komponen pemicu dalam multimedia pembelajaran meliputi judul, tujuan pembelajaran dan appersepsi yang menarik dan menantang.

b. Tips 2: Sulap Judul menjadi Lebih Menarik dan Menantang Judul, merupakan titik awal sebagai penarik perhatian pengguna. Tapi, banyak pembuat multimedia pembelajaran yang kurang memperhatikan hal ini. Sering dijumpai, judul dinyatakan dengan kalimat yang kaku. Padahal, judul dapat dirumuskan dalam kalimat yang lebih menantang dan menarik. Coba bandingkan contoh rumusan judul berikut ini!

Daripada kita menggunakan judul “TATA SURYA”, akan lebih menarik jika kita rubah menjadi “SEPERTI APAKAH KEADAAN DI LUAR ANGKASA?”;
Daripada kita menggunakan judul “BIAYA, PENERIMAAN DAN RUGI/LABA”, tentu akan lebih menarik jika kita sulap menjadi “CARA MUDAH MENGHITUNG RUGI LABA”;atau
Daripada kita menggunakan judul “INTEGRAL”, akan lebih menarik jika diganti dengan “MENGHITUNG LUAS BENTU-BENTUK TIDAK BERATURAN”.

Tips 3: Modifikasi Tujuan Pembelajaran; Beberapa kelemahan yang sering saya temui dari multimedia pembelajaran adalah (a) tidak adanya tujuan pembelajaran; dan (b) walaupun ada, tidak dinyatakan dengan redaksi yang jelas, realistis, dapat diukur dan menantang/menarik perhatian pengguna. Mengapa? Karena pengembang selalu terpaku pada rumusan kompetensi dasar atau indikator yang telah ada dalam kurikulum. Padahal, secara kreatif redaksi kompetensi dasar atau indikator dalam kurikulum dapat diperhalus dengan kalimat yang tidak hanya lebih jelas, realistis, dan dapat diukur, tapi juga menarik serta menantang.

Pengguna (user) perlu diberitahu manfaat ayang akan diperoleh dari multimedia pembelajaran. dePorter dkk, mengistilahkannya dengan istilah AMBAK (Apa Manfaatnya Bagi Ku?). Dengan rumusan tujuan yang jelas, siswa mengetahui manfaat dan arah yang jelas saat menggunakan media tersebut. Perlu diperhatikan bahwa media pembelajaran juga berkaitan dengan kerangka waktu. Dengan tujuan yang jelas, maka pencapaian tujuan dapat disesuaikan dengan kerangka waktu yang ada dan relevan dengan kebutuhan pengguna.

Demikian pula dengan manfaat dari media pembelajaran harus memberikan peluang bagi pengguna untuk ‘merasakan’ kegunaan lain selain sebagai media pembelajaran pokok. Oleh karena itu kalimat-kalimat ajakan dan sapaan psikologis yang dapat memberikan ikatan emosional (engagement) bagi pengguna menjadi perlu, sehingga memunculkan interaktifitas yang tinggi dari multimedia tersebut. Coba bandingkan contoh rumusan tujuan pembelajaran berikut!

“Setelah mempelajari media ini, siswa akan dapat menjelaskan terjadinya jantung koroner.” Dengan tidak mengurangi makna inti, rumusan tujuan pembelajaran tersebut dapat kita sulap sedikit menjadi: “Dalam waktu 15 menit, Anda (Kamu) akan mampu menjelaskan hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya jantung koroner dengan baik.”

d. Tips 4: Berikan Appersepsi yang Kontekstual dePorter dkk. dalam buku “Quantum Teaching” memfungsikan apersepsi untuk ‘membawa dunia mereka kedunia kita’. Yaitu, mengaitkan apa yang telah diketahui atau dialami pengguna dengan apa yang akan dipelajari dalam multimedia pembelajaran.

Kontekstualitas dalam apersepsi menjadi penting, karena kita mencoba ‘menarik’ mereka ke dunia yang kita ciptakan dalam media, melalui hal-hal yang dianggap paling ‘akrab’ dengan pengguna. Disinilah diperlukan kalimat atau narasi penghubung dari ‘dua dunia’ yang mungkin berbeda.

Dengan menyatukan kedua dunia ini, maka pengguna ‘merasa diajak’ berkomunikasi dengan media kita. Jika perlu gunakan, bahasa yang ‘menantang’ dan sedikit ‘memprovokasi’ dalam artian positif. Mari kita perhatikan contoh appersepsi berikut: “Selamat datang dalam software pembelajaran fisika.

Dalam software pembelajaran ini, kamu akan mempelajari tentang impuls, momentum dst…..” (Catatan: contoh kalimat atau narasi seperti ini biasanya muncul sebagai kalimat pembuka) Tentunya akan lebih baik jika dibuat lebih kontekstual dengan materi yang akan dibahas dalam multimedia tersebut.

Perhatikan contoh yang satu ini: ”Anda tentu pernah bermain bola basket. “Bagaimana bola basket dapat memantul dengan sempurna? Begitu pula halnya dengan bola volley atau bola sepak. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Topik ini akan membahas tuntas pertanyaan tersebut. … dst.”

(Catatan: Appersepsi seperti ini bisa dalam bentuk teks atau divisualisasikan dalam bentuk narasi (audio), animasi plus narasi, atau bahkan video)  Tiga komponen pemicu ini, khususnya judul dan appersepsi, penting dioptimalkan. Apalagi jika multimedia yang Anda kembangkan adalah media berbasis web. Sebab kalau diawal saja tidak menarik, dalam hitungan detik, pengguna langsung kabur, bur, bur bur!

tips memilih media pembelajaran

Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media bahwa media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Contoh : bila tujuan atau kompetensi peserta didik bersifat menghafalkan katakata tentunya media audio yang tepat untuk digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan.

Kalau tujuan pembelajaran bersifat motorik (gerak dan aktivitas), maka media film dan video bisa digunakan. Di samping itu, terdapat kriteria lainnya yang bersifat melengkapi (komplementer), seperti: biaya, ketepatgunaan; keadaan peserta didik; ketersediaan; dan mutu teknis.

Berbagai media yang digunakan untuk pengajaran dapat diklasifikasikan seperti berikut ini:
a. Media visual (media pandang), yang terdiri dari:
  • Media visual yang tidak diproyeksikan, misalnya foto, diagram, peragaan, dan model; dan 
  • Media visual yang diproyeksikan, misalnya slide, filmstrip, overhead transparansi, dan proyeksi komputer. 

b. Media audio, misalnya kaset dan compact disk (CD).
c. Media audio-visual, seperti video, VCD, DVD.
d. Pengajaran bermedia-komputer, misalnya CAI (Computer Assisted Instruction).
e. Multimedia berbasis komputer.
f. Jaringan komputer, seperti internet.
g. Media seperti radio dan televisi untuk belajar jarak jauh.

Pembuatan Media Pembelaran
Prinsip-prinsip pembuatan media visual dasar atau media grafis (semua bahan ilustratif yang digunakan untuk menyampaikan pesan) yang digunakan baik untuk untuk media visual yang tidak diproyeksikan maupun diproyeksikan yaitu kesederhanaan, kesatuan, penekanan, dan keseimbangan serta dilengkapi dengan garis, bentuk, warna, tekstur, dan ruang.

a. Kesederhanaan Isi media sebaiknya ringkas, sederhana, dan dibatasi pada hal-hal yang penting saja. Konsep tergambar dengan jelas, tulisan jelas, sederhana, dan mudah dibaca.

b. Kesatuan Maksud kesatuan di sini adalah adanya hubungan antara unsur-unsur visual dalam kesatuan fungsional secara keseluruhan. Kesatuan ini dapat dinyatakan dengan unsur-unsur yang saling menunjang. Kesatuan dapat pula ditunjukkan dengan alur-alur tertentu, seperti garis, anak panah, bentuk, warna, dan sebagainya.

c. Penekanan Penekanan pada bagian-bagian tertentu diperlukan untuk memusatkan perhatian. Penekanan dapat ditunjukkan melalui penggunaan ukuran tertentu, warna tertentu, dan sebagainya.

d. Keseimbangan Ada dua macam keseimbangan, yakni keseimbangan formal (ditunjukkan dengan pembagian secara simetris) dan keseimbangan informal (ditunjukkan dengan pembagian asimetris). Penerapan prinsip-prinsip di atas dapat lebih berhasil jika ditunjang dengan unsur-unsur visual seperti: garis, bentuk, tekstur, ruang, dan warna.

  • Garis dalam media visual dapat menghubungkan unsur-unsur bersama dan akan membimbing siswa untuk mempelajari media dalam urutan tertentu. 
  • Bentuk yang tidak biasa dapat menimbulkan suatu perhatian khusus pada sesuatu yang divisualkan. 
  • Ruang terbuka diiringi dengan unsur-unsur visual dan kata-kata akan mencegah rasa berjejal dalam suatu media. 
  • Tekstur, memberi sentuhan rasa tertentu, dapat dipakai sebagai pengganti warna, memberi penekanan, pemisahan, atau untuk meningkatkan kesatuan. 
  • Warna merupakan unsur tambahan yang sangat penting dalam media visual, dapat memberikan penekanan, pemisahan, atau kesatuan. Akan tetapi pemilihan warna harus digunakan dengan hati-hati untuk memberikan pengaruh terbaik. Penggunaan terlalu banyak warna akan mengganggu pandangan dan dapat menimbulkan salah persepsi pada pesan yang dibawakan.

Fungsi Media Pembelajaran Kurikulum 13

Dalam pembelajaran Kurikulum 2013 seperti yang sebut lalu media memiliki peranan yang sangat penting. karena dengan media kejenuhan belajar akan hilang sebab pesan yang akan disampaikan akan terasa lebh menarik. siswa akan lebih menghargai pelajaran daripada cum mendengarkan ceramah dari guru yang kadang tidak menarik sama sekali. berikut beberapa fungsi media pembelajaran.

Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya.

Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.

a. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan fisik ruang kelas misalnya: 1) Obyek terlalu besar (gajah) atau obyek yang tidak ada di lingkungan siswa belajar sehingga dapat dibuat berupa miniatur berupa mainan atau gambar. 2) Obyek yang terlalu kecil (bakteri, atom, sel) dapat dijelaskan kepada anak didik dengan melalui gambar atau model dari materi tersebut. 3) Gerak yang terlalu cepat atau kejadian yang terlalu lambat seperti berkembang biaknya bakteri, bunga dan sedang mekar dan sebagainya dapat dibuat modelnya tanpa mengurangi edukatifnya. 4) Kejadian-kejadian yang jarang ditemui dapat didokumentasikan melalui media seperti peristiwa gerhana matahari, orang jatuh dari gedung dll. 5) Obyek yang terlalu komplek atau rumit, dapat disederhanakan melalui gambar atau model misalnya sistem jaringan arus listrik, jaringan mesin dll. 6) Konsep terlalu luas atau bersifat abstrak dapat disederhanakan melalui bentuk gambar, model atau diagram misalnya: konsep bilangan, gambar dunia, dan sebagainya .

b. Penggunaan media pembelajaran akan meningkatkan efektivitas dan efsiensi proses belajar mengajar, menimbulkan gairah belajar dan memungkinkan siswa untuk berinteraksi lebih langsung dengan kenyataan yang dimediakan (Schramm, 1977).

c. Penggunaan media pembelajaran mempunyai daya tarik yang yang besar dan menimbulkan keinginan dan minat baru, hal ini karena peranan bentuk, warna, ilustrasi yang dibuat sedemikian pula sehingga memiliki daya tarik bagi siswa.

d. Media pembelajaran dapat membantu menyeragamkan penafsiran siswa yang berbeda-beda terhadap suatu konsep. Misalnya tentang konsep luas bangun, pengurangan, bangun geometri dll.

e. Media pembelajaran dapat membantu menanamkan konsep dasar secara benar, konkrit dan realistis sehingga perbedaan persepsi antar siswa pada suatu informasi dapat diperkecil, karena alat bantu pengajaran didesain sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan belajar siswa.

f. Media pembelajaran dapat memberikan pengalaman secara menyeluruh.
g. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
h. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
i. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak

Berdasarkan hasil penelitian terhadap kegunaan media pembelajaran oleh Edgar Dale, YD Finn dan F. Hoban di Amerika Serikat, ditemukan bahwa penggunaan media pembelajaran secara baik akan memberikan dampak secara signifikan terhadap pendidikan, antara lain:

a. Memberikan dasar pengalaman konkret bagi pemikiran dengan pengertianpengertian abstrak.
b. Mempertinggi perhatian anak.
c. Memberikan realitas, sehingga mendorong adanya self activity.
d. Memberikan hasil belajar yang permanen.
e. Menambah perbendaharaan bahasa anak dan mencegah verbalistik.
f. Memberikan pengalaman yang sukar diperoleh dengan cara lain.

Sejalan dengan perkembangan IPTEK penggunaan media, baik yang bersifat visual, audial, projected still media maupun projected motion media bisa dilakukan secara bersama dan serempak melalui satu alat saja yang disebut Multi Media. Contoh : dewasa ini penggunaan komputer tidak hanya bersifat projected motion media, namun dapat meramu semua jenis media yang bersifat interaktif.

Media Pembelajaran Kurikulum 2013

Media pembelajaran dalam pembelajaran kurikulum 2013 sangat penting artinya, maka dari itu guru harus memahami tentang apakah media pembelajaran tersebut dan bagaimana media pembelajaran tersebut. berikut saya share tentang media pembelajaran.

Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya.

Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.

Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran.

Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad Ke –20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet.

Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat, antara lain: harus meningkatkan motivasi pembelajar, harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru, dan mendorong pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong mahasiswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. 

Ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya (Hubbard, 1983). Kriteria pertamanya adalah biaya. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik, kecocokan dengan ukuran kelas, keringkasan, kemampuan untuk dirubah, waktu dan tenaga penyiapan, pengaruh yang ditimbulkan, kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan.

Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif (Thorn, 1995), antara lain:

  1. Kemudahan navigasi. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin sehingga pembelajar bahasa tidak perlu belajar komputer lebih dahulu. 
  2. Kandungan kognisi, kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri, apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran si pembelajar atau belum. 
  3. Integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek visual dengan kompetensi yang harus dipelajari. Untuk menarik minat pembelajar program harus mempunyai tampilan yang artistik maka estetika juga merupakan sebuah kriteria. 
  4. Fungsi secara keseluruhan. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu.